Setelah video call berakhir, Soyaa segera menghubungi temannya, Hyeri, untuk melanjutkan rencana yang sudah ia siapkan bagi Lavisa. Ia lebih dulu mengirimkan pesan singkat sebelum akhirnya menelpon. Begitu Hyeri mengizinkan, Soyaa langsung menjelaskan maksudnya.
"Jadi begini, Hyeri. Aku hanya ingin Lavisa lebih fokus pada sekolahnya. Bisa kan kamu kasih tugas tambahan supaya dia belajar mandiri di rumah?" jelas Soyaa di ujung telepon.
"Aku paham. Tapi, apakah Lavisa tahu soal ini?" tanya Hyeri penasaran.
"Tentu tidak. Kedua kakaknya sudah mengerti dan mendukung, tapi aku mau kamu merahasiakan ini dari Lavisa. Anggap saja tugas itu memang untuk semua murid, jadi dia tidak curiga," ucap Soyaa.
Hyeri terkekeh mendengarnya. "Ternyata kamu posesif sekali dengan semua muridku."
"Khususnya untuk murid yang bernama Lavisa," balas Soyaa setengah bercanda.
"Arraseo, arraseo. Aku harus masuk kelas dulu, ya. Rencana kamu akan langsung aku jalankan hari ini. Nanti kita kabar-kabaran lagi. Bye!" jawab Hyeri terburu-buru sebelum menutup telepon, terdorong oleh bunyi bel sekolah.
Soyaa hanya menggeleng kecil, sudah terbiasa dengan gaya temannya itu. Ia kembali fokus pada pekerjaannya, sambil sesekali mengecek lokasi adik-adiknya. Jennie sedang di rumah sakit untuk urusan pekerjaannya, sementara Rose sibuk menghadiri fashion week di Paris.
Di sela kesibukannya, Soyaa sempat mengirim pesan ke Jennie untuk mengingatkan makan siang dan pulang lebih cepat supaya Lavisa tidak rewel. Ia juga menghubungi Rose, menanyakan kabar sekaligus mengingatkan soal vitamin yang sudah disiapkan Jennie.
Tanpa sadar, sore pun tiba. Soyaa turun ke ruang tamu untuk menunggu Lavisa pulang. Tidak lama, Jennie datang lebih dulu dengan langkah lunglai, tampak kelelahan setelah operasi dadakan.
"Kamu sudah pulang ternyata. Sana langsung mandi dan makan. Pasti belum sempat makan, kan?" ujar Soyaa.
Jennie hanya mengangguk tanpa tenaga lalu masuk ke kamarnya, terlalu lelah untuk membalas.
Beberapa saat kemudian, Lavisa tiba dengan wajah pucat dan tubuh lemas sisa sakitnya masih terasa.
"Lala pulang..." ucapnya lirih, membuat Soyaa menoleh.
"Langsung ke kamar, mandi, lalu makan. Kak Nini juga baru pulang. Habis itu istirahat, matamu kelihatan lelah," kata Soyaa.
"Iya, Kak Chu. Nanti malam Lala mau belajar juga, habis makan. Guru aku kejam banget kasih tugas banyak," Lavisa mengeluh sambil menjatuhkan diri ke sofa.
"Itu bukan kejam, tapi demi kebaikanmu," jawab Soyaa tenang.
Lavisa hanya menghela napas lalu berdiri. "Udah ah, Lala ke kamar dulu."
Setelah beristirahat sebentar di kamarnya, Lavisa mandi dan menuju ruang makan. Di sana, Jennie sudah menyiapkan makanan untuk mereka berdua.
"Sayur lagi..." bisik Lavisa, namun cukup terdengar oleh Jennie.
Tanpa basa-basi, Jennie menambahkan lebih banyak sayur ke piring adiknya. Mata Lavisa langsung membulat kaget.
"Kak Nini..." protesnya dengan suara melas.
"Kalau protes, akan kutambah lagi," jawab Jennie tegas.
Lavisa pun terdiam dan duduk patuh, lalu mulai melahap makanannya.
"Kamu lapar, ya?" tanya Jennie.
"Iya. Aku cuma makan bekal tadi, sekarang lapar banget," jawabnya singkat.
"Besok aku tambahkan snack. Jangan makan di luar atau pinjam uang ke teman-temanmu. Kakak tidak suka," Jennie menegaskan.
Lavisa hanya mengangguk, terlalu lapar dan malas untuk membantah.
Selesai makan, Lavisa langsung kembali ke kamarnya dan tertidur. Entah kenapa tubuhnya terasa sangat lelah setelah hari pertama kembali ke sekolah dan beraktivitas. Waktu pun berjalan begitu cepat, hingga malam tiba dan ia mengikuti jadwal yang sudah disusun oleh Jennie dan Soyaa.
Perut Lavisa sebenarnya masih terasa kenyang karena siklusnya hanya makan–tidur–makan lagi. Namun, ia memilih tidak protes. Ia tahu, kalau sudah berhadapan dengan aturan kedua kakaknya, semuanya bisa jadi runyam. Setelah makan malam, Lavisa kembali ke kamar untuk mengerjakan tugas yang menumpuk.
Tak lama, Jennie masuk ke kamar membawa segelas susu cokelat hangat. Di sana ia melihat si bungsu sedang serius belajar sambil bergumam sendiri:
"Hmm... luas segitiga itu setengah kali alas kali tinggi... jadi kalau alasnya 8, tingginya 6... setengah kali 8 kali 6... dua puluh empat..."
"Oke, kalau rumus kecepatan... jarak dibagi waktu... misalnya 120 km dalam 2 jam... berarti kecepatannya 60 km/jam..."
Jennie hanya tersenyum mendengar itu. Rasa bangga muncul, meskipun ia tahu adiknya pasti sangat lelah dengan semua tugas yang harus diselesaikan.
"Ini biar kamu makin konsentrasi." Jennie meletakkan gelas susu cokelat di meja belajar.
Lavisa menoleh dan tersenyum lebar. "Moodbooster aku... terima kasih, Kak Nini."
"Banyak, ya, tugasnya?" tanya Jennie sambil duduk di sisi tempat tidur.
Lavisa mengangguk lemah.
"Kalau lelah, boleh istirahat dulu. Jangan dipaksa," ucap Jennie sambil mengelus kepala adiknya dengan lembut.
Lavisa kembali mengangguk, lalu meneguk susunya perlahan. Hangatnya susu membuatnya sedikit lebih bersemangat, meski rasa kantuk belum sepenuhnya hilang.
—————————————-
Waktu cepat banget ya, tiba tiba udah hari sabtu dan akhir bulan september 😭
KAMU SEDANG MEMBACA
The Different
FanfictionKeluarga dianggap rumah untuk setiap manusia di bumi, dijadikan tempat untuk pulang dan beristirahat di saat lelah. Tapi berbeda dengan Lavisa yang menjadikan keluarganya sebagai tempat kost-kostan aja. Tempat untuk tidur, makan dan mandi saja tapi...
