43 - Between Warmth and Restraint

704 117 19
                                        

Malam itu rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Hanya suara detak jam dinding dan angin malam yang masuk lewat sela jendela yang terdengar. Jennie masih duduk di sofa dengan iPad pink di pangkuannya, sesekali melirik ke arah kamar Lavisa yang pintunya terbuka sedikit. Ia ingin memastikan adiknya benar-benar tidur nyenyak setelah sore tadi sempat demam ringan.

Namun suasana berubah ketika terdengar suara batuk dari kamar lain. Tanpa pikir panjang, Jennie beranjak dari sofa dan melangkah cepat ke kamar Lavisa. Pintu kamar dibuka perlahan, terlihat sang adik sedang duduk di tepi ranjang sambil memegangi kepalanya. Wajahnya pucat, napasnya berat, keringat membasahi pelipisnya.

"Lala..." suara Jennie langsung berubah, lembut tapi penuh khawatir. Ia mendekat, duduk di samping adiknya, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Lavisa. Panas. Sangat panas.

Si bungsu hanya tersenyum tipis, berusaha menenangkan. "Aku cuma kecapekan, Kak Nini. Nggak usah panik..."

Jennie menatap tajam, senyumnya lenyap. "Kamu jangan pernah bilang aku nggak usah panik kalau badanmu sepanas ini." Ia bangkit, mengambil botol air dan handuk kecil, lalu kembali duduk untuk mengompres dahi Lavisa. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena marah pada dirinya sendiri yang tidak menyadari lebih cepat.

Tak lama, Rose dan Soyaa masuk karena mendengar suara Jennie yang meninggi. Rose langsung mendekat, ikut cemas. "Lala... kenapa nggak bilang kalau nggak enak badan?"

Lavisa menunduk. "Lala nggak mau bikin kalian repot. Aku masih bisa tahan..."

Kata-kata itu membuat Jennie terdiam lama. Ada rasa perih menusuk di dadanya. Ia menatap Lisa lama sekali, lalu akhirnya berkata dengan suara rendah tapi tajam, "Kamu pikir aku akan biarin kamu sakit sendirian? Aku lebih baik kamu bikin repot seribu kali daripada lihat kamu kayak gini."

Suasana kamar jadi berat. Rose duduk di lantai, memegang tangan Lavisa erat-erat. Soyaa hanya menghela napas, lalu berkata pelan, "Mulai besok, semua jadwal Lala aku yang atur. Dia nggak boleh sekolah atau keluar rumah dulu."

Lavisa ingin membantah, tapi tatapan ketiga kakaknya terlalu kuat. Ia akhirnya diam, hanya bisa menutup mata sambil merasakan kompres dingin di dahinya.

Jennie masih duduk di sisinya, menatap adiknya dengan perasaan campur aduk khawatir, marah, tapi juga penuh sayang. Di dalam hati kecilnya, ia tahu ini bukan sekadar sakit biasa. Ini adalah peringatan.

Dan konflik itu mulai terbuka: Jennie ingin menjaga Lavisa dengan cara ketat, Soyaa ingin mengatur segalanya lebih disiplin, sementara Rose ingin Lavisa tetap merasa bebas meski sakit.

Malam itu, di balik keheningan rumah, satu hal jadi jelas: sakit Lavisa akan mengguncang keseimbangan keluarga mereka.

Kemudian, di pagi harinya udara terasa berat sejak alarm di kamar Lavisa berbunyi. Tubuhnya masih lemah, kepala berdenyut, tapi ia memaksa bangun. Ranselnya sudah disiapkan semalam, tergeletak di kursi. Ia sempat berpikir untuk pura-pura segar supaya bisa berangkat ke sekolah, karena ia tahu kalau tidak, kakak-kakaknya akan langsung melarang.

Namun langkahnya ke luar kamar langsung terhenti. Jennie sudah berdiri di lorong dengan tangan terlipat di dada, menatapnya tanpa senyum.

"Mau ke mana?" suara Jennie dingin.

Lavisa menelan ludah, mencoba tersenyum. "Sekolah, Kak. Hari ini ada ulangan. Aku nggak bisa absen."

Jennie melangkah maju, mendekat begitu dekat hingga Lavisa bisa merasakan tatapan tajamnya. "Dengan badan kayak gini? Kamu pikir aku akan biarkan kamu pingsan di kelas?"

Sang adik menggenggam erat tali ranselnya, mencoba menahan suara gemetar. "Lala nggak apa-apa kak. Lala udah minum obat semalam. Lala bisa..."

"Cukup." Jennie memotong dengan suara tegas. Ia meraih ransel itu dengan paksa dari tangan Lavisa dan meletakkannya di lantai. "Kamu nggak pergi ke mana-mana. Titik."

Rose muncul dari belakang, masih dengan piyama, wajahnya cemas. "Kak Nini.. mungkin Lala bisa coba masuk sebentar? Kalau dia merasa terlalu lemah, baru pulang. Biar dia tetap merasa normal."

Namun Soyaa sudah keluar dari kamarnya, ekspresinya dingin. "Tidak, dia tetap di rumah. Nggak ada tawar-menawar." Soyaalangsung menjawabnya dengan tegas.

Lavisa berdiri di tengah-tengah mereka, seperti orang asing di rumah sendiri. Dadanya sesak. "Kenapa kalian semua selalu ambil keputusan buat aku? Ini hidupku, sekolahku, ulangan ini penting..."

Rose mendekat, berusaha menyentuh bahu Lavisa. "Kami sayang kamu, makanya..."

"Tapi kalian nggak percaya Lala bisa jaga diri!" suara si bungsu meninggi, untuk pertama kalinya. "Lala cuma mau sekolah! Apa itu terlalu banyak diminta?"

Suasana membeku. Jennie menatap Lavisa, matanya berkilat antara marah dan sakit hati. Ia meraih wajah si bungsu dengan kedua tangannya, menundukkan sedikit kepala adiknya agar sejajar dengan matanya.

"Kamu dengar baik-baik," ucapnya pelan tapi tegas. "Selama aku yang bertanggung jawab atasmu, aku nggak akan biarkan kamu hancur cuma karena keras kepala. Kalau itu membuatmu benci aku... aku terima."

Lavisa terdiam, napasnya tercekat. Ia ingin berteriak, ingin kabur, tapi tubuhnya lemah dan tatapan Jennie terlalu dalam.

Soyaa akhirnya mengambil alih. "Sekolah bisa menunggu. Kesehatanmu tidak. Kalau perlu aku sendiri yang telepon gurumu." Akhirnya Soyaa menggunakan nada rendah serta  agar adiknya mengerti situasi.

Rose menggigit bibir, jelas tak setuju, tapi ia juga tak bisa menentang Jennie dan Soyaa sekaligus. Ia hanya bisa duduk di sofa.

Lavisa akhirnya kembali ke kamarnya, pintu ditutup lebih keras dari biasanya. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar terpenjara di rumah sendiri.

Dan untuk Jennie, itu menjadi konflik batin: menjaga adik yang ia cintai, tapi dengan risiko membuat Lavisa semakin jauh darinya.

——————-
Lalanya sakit ges!
Ohiya, aku coba rutin rabu - sabtu ya! Enjoy!

The DifferentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang