Mobil hitam itu meluncur pelan keluar dari gedung tempat mereka rapat. Malam sudah turun penuh, lampu-lampu kota memantul pada kaca jendela, dan suasana di dalam mobil sempat canggung setelah drama kecil antar-kakak barusan.
Seperti biasa, Soyaa duduk di kursi depan, tepat di samping supir. Sementara itu Jennie, Rose, dan Lavisa duduk berjejer di kursi belakang.
Lavisa, yang sejak tadi diam, terlihat masih memikirkan momen ketika Soyaa "secara tiba-tiba" memperkenalkannya pada klien besar. Hal itu padahal belum direncanakan sama sekali, bahkan sempat membuat Jennie mengangkat alis dengan sorot tajam.
Beberapa detik setelah pintu mobil tertutup, Soyaa menoleh ke belakang, wajahnya lembut.
Tanpa ragu, ia mengulurkan tangan ke arah Lavisa.
"Come here a little," katanya pelan.
Lavisa mendekat, lalu Soyaa menariknya masuk ke dalam pelukan samping hangat, protektif, dan khas seorang kakak yang takut adiknya salah paham.
Lavisa langsung tenggelam di bahu Soyaa, matanya berkedip cepat.
"Kak Chuu... tiba-tiba banget tadi."
Jennie, yang duduk di sebelah Lavisa, langsung menyambar dengan nada setengah marah setengah khawatir.
"It was not the plan, kak Chu. We clearly agreed you wouldn't introduce her this early."
Nada suaranya pelan, tapi tegas seperti cubitan verbal kecil.
Rose, dari ujung kursi, ikut menimpali sambil merapikan seatbelt.
"Lala masih belajar banyak. It looked too sudden, kak Chu."
Soyaa menghela napas panjang, masih memeluk Lavisa seolah adiknya adalah sesuatu yang perlu dijaga dari angin malam.
"I know... I know. You're right," katanya akhirnya.
"Makanya aku mau ngomong sekarang biar kalian nggak salah paham."
Lavisa mengangkat kepala sedikit, menunggu penjelasan.
Soyaa mengusap lembut rambut Lavisa sebelum bicara lagi.
"Aku memperkenalkan Lala tadi... bukan karena aku mau dia bekerja cepat-cepat. Bukan juga karena aku mau memaksa dia siap."
Suaranya menurun, lebih lembut.
"Tapi aku cuma ingin client itu tahu... kalau suatu hari aku nggak ada di ruangan, perusahaan ini tetap aman."
Jennie melirik tajam, tapi perlahan ekspresinya mencair menjadi lebih memahami.
"That's not wrong, but it was still too early, Kak Chuu."
"I know." Soyaa menatap ke depan, menahan senyum letih. "Makanya aku minta maaf."
Ia kembali menunduk ke Lavisa, matanya hangat.
"I just want them to see that we're not a one person company. That someday, kalau aku harus istirahat atau pergi tugas panjang... mereka tahu ada someone capable behind me."
Tangan Soyaa menepuk bahu Lavisa lembut.
"But I went too fast. I admit that."
Lavisa menggigit bibirnya, lalu memeluk Soyaa lebih erat.
"Lala ngerti, tapi kaget. Lala takut bikin kak Chu kelihatan buru-buru."
"You didn't," Soyaa menenangkan. "Lala tadi jawabnya sopan dan tenang. You did well."
Rose menyandarkan kepalanya ke kursi, menghela napas lega.
"Okay... I guess kalau kak Chu udah explain gini, ya sudah. Tapi next time kasih heads-up."
Jennie akhirnya mengangguk pelan, meski masih dengan gaya "aku belum sepenuhnya puas".
"Just... don't skip communication," katanya lirih sambil merapikan rok kantornya.
"Tapi good job, La. Kamu bikin aku bangga."
Lavisa merona, matanya berbinar karena jarang dipuji Jennie.
Soyaa tersenyum.
"Hei, three of you. I'm sorry. Next time I won't do that without telling you first."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Different
FanfictionKeluarga dianggap rumah untuk setiap manusia di bumi, dijadikan tempat untuk pulang dan beristirahat di saat lelah. Tapi berbeda dengan Lavisa yang menjadikan keluarganya sebagai tempat kost-kostan aja. Tempat untuk tidur, makan dan mandi saja tapi...
