53 - Saturday's Unplanned Battle

686 116 7
                                        


Lavisa memutar lehernya pelan, berusaha meredakan pegal yang menumpuk setelah dua jam penuh berkutat dengan soal-soal matematika dari Miss Hyeri. Pensil di tangannya tergeletak di meja, dan ia mendesah panjang, merasa otaknya sudah menolak bekerja.

"Akhirnya selesai juga..." gumamnya pelan sambil menutup buku catatannya.

Ia menepuk pipinya ringan agar tetap segar, lalu bangkit dari kursi. Hari Sabtu seharusnya hari santai, tapi untuknya, "santai" berarti menyelesaikan tugas sebelum sempat menarik napas lega. Rencananya sederhana: keluar kamar, mencari udara segar, lalu meminta izin menonton bersama di ruang tengah. Tapi langkahnya terhenti ketika melewati dapur.

Aroma kaldu dan bubur hangat menyambutnya. Jennie berdiri di depan kompor, memakai celemek warna krem yang membuatnya terlihat seperti kakak rumah tangga sejati. Ia tampak serius mengaduk panci bubur, namun tetap memancarkan aura elegan khas dirinya.

"Kak Nini?" panggil Lavisa pelan. "Masak bubur? Tumben, bukan masak pasta?"

Jennie menoleh sekilas, bibirnya melengkung membentuk senyum kecil.

"Oh, kamu udah selesai belajar? Kak Chu lagi sakit. Dari tadi badannya panas."

Lavisa sontak membulatkan mata.

"Eh? Kak Chu sakit? Tadi kayaknya biasa aja deh."

Jennie mematikan kompor, menuangkan bubur ke mangkuk, lalu menghela napas pendek.

"Iya. Sudah aku bilang dari kemarin, jangan sering begadang, makan vitamin, sarapan teratur. Tapi ya begitulah, keras kepala. Sekarang rebahan tak berdaya di kamar."

Nada Jennie terdengar sedikit kesal, tapi ada nada lembut di baliknya. Lavisa menahan tawa kecil sambil bersandar di pintu dapur.

"Kak Nini memang cerewet kalau ada yang sakit."

Jennie menatapnya dengan ekspresi tajam setengah pura-pura.

"Dan kamu jangan mulai. Aku capek kalau tiga-tiganya sakit. Kalau kalian sakit, aku harus ngurus satu-satu, denger keluhan, bikin bubur, ganti kompres. Tapi kalau aku yang sakit..."

Lavisa cepat menyahut sambil tersenyum nakal.

"Kami bertiga bakal marah-marahin Kak Nini karena gak istirahat."

Jennie mendengus, mengangkat sendok seperti hendak memukulnya ringan.

"Nah, itu dia! Makanya aku pilih gak pernah sakit, biar gak dimarahin kalian."

Tawa kecil pun mengisi dapur, menghapus sedikit kelelahan dari pagi yang padat. Tapi suasana hangat itu tak bertahan lama ketika terdengar ketukan pintu yang cepat dan tergesa.

Jennie segera menoleh. Dari arah ruang makan, Randy asisten Soyaa muncul dengan wajah cemas, diikuti oleh seorang pria berkacamata dengan jas kerja rapi.

"Maaf mengganggu, Nona Jennie," ucap Randy cepat, napasnya sedikit tersengal. "Kami baru saja dapat laporan kebocoran data dari server utama. Beberapa file akses terbuka ke pihak luar."

Jennie langsung meletakkan sendok di meja, ekspresinya berubah serius.

"Apa? Sekarang?"

Pak Anton, Head IT perusahaan Soyaa, mengangguk dengan wajah tegang.

"Kami butuh keputusan segera, tapi Nona Soyaa belum bisa dihubungi. Karena beliau sakit, kami memutuskan datang ke sini."

Jennie memijat pelipisnya sebentar.

"Kak Chu lagi demam tinggi. Aku gak izinkan kalian ganggu dia dulu."

Randy tampak ragu.

"Tapi kalau dibiarkan, datanya bisa diambil lebih banyak lagi, Nona."

The DifferentCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang