60 - Jennie's Rules

746 92 13
                                        


Pagi di rumah itu terasa berbeda dari biasanya. Udara hangat dari dapur membawa aroma roti panggang dan eggs-cream buatan Jennie. Di meja makan, Soyaa sudah duduk sambil menatap layar ponselnya, jari telunjuknya bergerak cepat, sesekali berhenti untuk membaca komentar yang bermunculan.

Lavisa trending.
Bahkan semalam namanya menduduki posisi nomor dua trending nasional.

Soyaa menyesap kopinya pelan. Senyuman kecil muncul di bibirnya ketika melihat grafik saham perusahaannya yang melonjak. Beberapa investor asing sudah menanyakan slot meeting pagi ini.

"Good," gumamnya.
Rencana kecilnya berjalan mulus memperkenalkan Lavisa bukan untuk memaksa adiknya menjadi penerus, tapi untuk memberikan jaminan kepada publik bahwa perusahaan itu punya masa depan.

Di dapur, Jennie memotong buah sambil mengawasi wajan. Sebelahnya, ponselnya menampilkan ratusan komentar negatif yang mengarah pada Rose.

"Kurus banget."
"Kayak lagi pakai obat."
"Terlihat gak sehat, ini artis apa zombie?"

Jennie terdiam, wajahnya dingin.
Ia sudah berbicara pada Jane, manager Rose dan jawaban Jane membuat dadanya sesak.

"Dia sibuk banget, Kak. Diet terus, overthinking terus."

Jennie menghela napas panjang.
"Anak itu... selalu menyiksa diri kalau lagi stres," gumamnya.

Baru saja ia hendak mematikan kompor, suara ceria memecah kecemasannya.

"Pagi semuanya!" Rose muncul dengan senyum besar, seolah dunia tidak sedang mengomentari tubuhnya semalaman.

Soyaa mengangkat wajah.
"Pagi, Osi."

Lavisa muncul beberapa detik kemudian, rambut masih kusut, langkah berat.

"Pagii..." suaranya serak terdengar jelas dia masih sangat mengantuk.

Kedua kakaknya langsung kompak menjawab,
"Pagi, Laa."

Jennie datang membawa piring-piring penuh makanan, meletakkannya satu per satu di depan mereka. Tapi saat meletakkan piring Rose, Jennie berhenti, mata kucingnya bergerak naik-turun, menilai badan adiknya.

"Kurus banget..." gumam Jennie lirih tanpa sadar.

Rose sempat terkejut saat melihat porsinya. Itu jauh lebih banyak dari biasanya. Bahkan lebih banyak dari porsi Lavisa. Dia melirik si bungsu, dan Lavisa kembali menatapnya dengan ekspresi yang sama:
Kenapa banyak banget?

Tak satu pun berani bertanya.

Jennie menarik kursi dan duduk, namun sebelum ada yang sempat menyuap makanan, ia berkata pelan tapi tegas.

"Mulai hari ini, porsi makan Osi memang aku tambah. Dua hari ke depan kamu libur dari semua aktivitas. Aku yang minta Jane untuk reschedule."

Rose terdiam. Soyaa juga.

Jennie tidak sering menggunakan suara itu, suara yang membuat kakak dan kedua adiknya otomatis duduk lebih tegak.

Lalu Jennie melanjutkan, lirikan matanya tajam tapi nadanya tetap lembut.

"Aku tahu kamu pasti tanya-tanya di kepala kamu... 'kenapa Nini tiba-tiba begini?' kan?"

Rose langsung merinding.
Karena... iya. Itu yang ada di pikirannya.

Jennie menaruh ponselnya di meja, menunjukkannya pada Rose. Komentar-komentar pedas itu tampak jelas.

"Aku lihat semua ini." Suaranya stabil, tapi penuh luka.
"Orang-orang bilang kamu pakai obat. Kamu pikir aku gak sakit lihat itu?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 08, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The DifferentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang