Suasana rumah sore itu terasa lebih hangat dari biasanya. Aroma teh melati memenuhi ruang tamu, sementara Jennie sibuk menata piring kecil berisi kue lemon favorit Rose. Tak lama kemudian, suara mobil berhenti di depan rumah, disusul langkah kaki yang terdengar terburu-buru.
"I'm home!" teriak Rose sambil membuka pintu dengan lebar. Wajahnya berseri, matanya bersinar senang seperti anak kecil yang baru pulang dari liburan musim panas.
Lavisa yang sedang menonton TV, langsung berdiri dan berlari ke arah pintu. "Kak Osi!" serunya riang sebelum langsung memeluk sang kakak erat.
Rose tertawa kecil, memeluk balik adik bungsunya dengan lembut. "Aduh, Lala tambah berat ya sekarang. Kamu makan banyak, ya?"
Jennie datang menyusul, tersenyum sambil melipat tangannya di dada. "Atau mungkin karena Kak Osinya aja yang makin kurus."
Rose langsung memelototinya ringan. "Kak Nini, aku sehat kok. Ini cuma efek jetlag, bukan diet gagal."
Tawa mereka pecah bersamaan. Soyaa yang duduk di meja makan hanya menggeleng, tapi di wajahnya terselip senyum lembut. Rumah mereka selalu terasa lebih hidup setiap kali Rose pulang.
Setelah duduk, Rose mulai mengeluarkan koper kecil dari ruang depan dan membukanya di meja. "Aku bawain oleh-oleh, tapi tolong jangan rebutan ya," katanya dengan nada setengah bercanda.
Untuk kak Nini, ada syal sutra hitam dengan bordiran bunga mawar di ujungnya. "Karena kamu suka warna gelap tapi masih mau kelihatan classy."
Jennie tersenyum puas. "Kamu masih paling tahu seleraku, Osi."
Untuk Soyaa, Rose memberikan pena edisi terbatas dari Paris. "Biar rapat kamu makin elegan, Kak Chu," ucapnya menggoda.
Soyaa menatap pena itu dan tertawa. "Elegan atau enggak, yang penting bisa tanda tangan gaji karyawan dan kebutuhan kalian lancar."
Lalu, Rose melirik Lavisa yang duduk agak jauh di sofa, terlihat agak canggung. Ia menatap ponselnya seolah tidak memperhatikan, tapi dari ekspresinya, jelas Lisa menunggu sesuatu.
"Dan terakhir..." kata Rose sambil menatap si bungsu dengan senyum licik. "Untuk si manja satu ini, aku bawain hoodie oversize dari butik favoritku."
Lavisa mendongak dengan cepat. "Manja? Kak Osi! Kenapa sih selalu bilang Lala manja?" protesnya dengan wajah sedikit memerah.
Jennie dan Soyaa spontan menahan tawa.
Rose tidak menjawab, malah menghampiri Lisa dan mencubit kedua pipinya pelan.
"Lihat ini! Si manja makin berisi yaa! Pipinya kayak mochi sekarang."
Lavisa langsung memegangi wajahnya, setengah malu, setengah kesal. "Kak Osiii, jangan gitu! Lala udah olahraga kok!"
"Olahraga? Main game di kasur bukan olahraga, La," sahut Jennie menahan tawa.
Soyaa yang sedari tadi hanya memperhatikan akhirnya ikut bicara.
"Sudah, sudah. Jangan digoda terus, nanti Lavisa mogok makan," katanya tenang, tapi di balik suaranya ada tawa kecil juga.
Setelah suasana mereda, Rose menatap Jennie sambil berkata, "Ngomong-ngomong, aku dan Lala sempat trending, lho. Karena waktu aku interview di Paris, si kecil ini tiba-tiba nelpon."
Lavisa buru-buru mengangkat tangan. "Lala nggak tahu itu lagi live! Lala cuma mau tanya boleh makan indomie apa nggak!"
Rose menepuk keningnya sambil tertawa keras. "Lihat tuh, alasan paling lucu di dunia. Gara-gara indomie, trending internasional."
Semua tertawa, kecuali Lavisa yang masih cemberut malu.
"Netizen bilang aku manja banget, padahal aku cuma lapar," gumamnya kesal.
Soyaa menepuk pundaknya lembut. "Lala tahu nggak? Kadang yang bikin orang sayang sama kamu itu justru hal-hal kecil kayak gitu."
Lisa melirik kakaknya, senyumnya muncul pelan. "Ka Chu bilang gitu supaya Lala nggak ngambek ya."
"Ya, tapi itu juga benar."
Setelah tawa mereda, Soyaa berubah sedikit lebih serius. Ia menegakkan punggungnya dan menatap mereka semua.
"Minggu depan, seperti yang aku bilang, perusahaan ada acara besar. Banyak partner baru, termasuk investor internasional. Dan Lala, kamu akan ikut."
Lavisa terkejut. "Apa Lala harus ikut kak Chu?"
"Iya, karena kamu akan dikenalkan ke semua orang," jawab Soyaa singkat.
Jennie dan Rose saling pandang.
"Dikenalkan sebagai apa?" tanya Jennie pelan.
Soyaa tersenyum samar. "Sebagai bagian dari keluarga. Dan sebagai seseorang yang mungkin... akan melanjutkan sebagian tanggung jawabku suatu hari nanti."
Lavisa terdiam lama. Matanya sedikit membesar, seperti sedang berusaha memahami maksud kalimat itu.
"Jadi Kak Chu mau aku gantiin?" tanyanya ragu.
Soyaa menatapnya lembut. "Bukan menggantikan, tapi belajar. Aku ingin kamu ngerti dunia kerja dan tahu bagaimana caranya berdiri sendiri di lingkungan seperti itu."
Namun Lavisa menunduk, menggenggam ujung bajunya. "Tapi Lala mau di dunia entertainment, Kak. Lala udah sudah terlalu fokus dan suka dengan dunia dance kak Chu"
Jennie menatap Soyaa, khawatir.
Namun Soyaa tetap tenang, suaranya lembut tapi tegas.
"La, kamu tahu kondisi matamu belum sepenuhnya pulih. Aku nggak mau kamu terlalu capek, apalagi di bawah sorotan kamera. Dunia entertainment itu keras, bukan cuma soal bakat."
Lavisa terdiam. Ada sedikit luka di matanya, tapi ia berusaha menahannya.
Rose menepuk bahunya dengan lembut. "Kak Chu bukan larang kamu, La. Dia cuma takut kamu terluka lagi."
Lavisa menghela napas panjang. "Lala ngerti... tapi Lala juga pengen dicoba percaya."
Soyaa menatap Lavisa lama sekali. Lalu dengan pelan, ia tersenyum.
"Kalau begitu, buktikan pelan-pelan, ya. Tapi minggu depan kamu tetap ikut aku. Deal?"
Si bungsu berpikir sejenak, lalu mengangguk pelan. "Deal."
Jennie langsung menambahkan dengan nada jahil, "Tapi jangan lupa, kalau kamu trending lagi, minimal kali ini bukan karena indomie."
Suara tawa kembali pecah di ruangan itu ringan, hangat, dan penuh kasih, seperti rumah yang tidak pernah kehilangan kehangatan antar kakak-adik.
——————-
Aku mau kasih bonus update sebagai ucapan terima kasih untuk kalian yang sudah membaca dan sabar menunggu.
Baru saja aku cek, ternyata cerita ini berada di peringkat 1 di hashtag #blackpink! 🖤🩷
Terima kasih banyak atas dukungan dan antusiasme kalian.
Semoga kalian nggak bosan dengan ceritanya dan tetap semangat menunggu update dariku, ya! 🖤🩷
KAMU SEDANG MEMBACA
The Different
FanfictionKeluarga dianggap rumah untuk setiap manusia di bumi, dijadikan tempat untuk pulang dan beristirahat di saat lelah. Tapi berbeda dengan Lavisa yang menjadikan keluarganya sebagai tempat kost-kostan aja. Tempat untuk tidur, makan dan mandi saja tapi...
