42 - Bound in Care

750 110 37
                                        

Beberapa hari setelahnya, ruang tengah rumah itu terasa begitu teratur. Jennie duduk di sofa dengan iPad pink-nya, layar menampilkan tabel rapi berisi jadwal harian. Di sampingnya terletak kotak kecil bersekat berisi vitamin warna-warni. Rose yang baru selesai sarapan memperhatikan Jennie sibuk merapikan botol-botol kecil satu per satu.

"Osi, kamu bawa semua ini, ya. Jangan ada yang ketinggalan," ucap Jennie pelan tapi tegas. Tangannya lincah memasukkan kapsul putih, tablet hijau, dan suplemen cair ke dalam wadah harian yang sudah ditandai namanya.

Rose mengangguk singkat. "Aku ngerti, kak Nini. Aku bawa kok..." jawabnya ragu, sadar kalau Jennie tidak akan puas dengan jawaban seadanya.

Jennie menatapnya, lembut tapi menusuk. "Aku nggak mau kamu cuma bilang ngerti tanpa benar-benar ngerti. Ini.." ia menunjuk tablet hijau, "diminum pagi setelah sarapan. Yang putih diminum malam. Kalau kamu lupa... aku pasti tahu."

Sambil merapikan wadah, Jennie menambahkan, "Aku juga sudah bilang ke Manager kamu, Jane, buat ngawasin. Jadi pastikan kamu makan yang sehat, bukan junk food."

Rose menghela napas kecil, lalu menunduk patuh. "Iya, kak Nini. Aku janji."

Senyum tipis muncul di wajah Jennie. Ia menutup wadah vitamin itu lalu memasukkannya ke dalam tas Rose dengan hati-hati, seakan benda itu jauh lebih berharga daripada apapun.

Selesai dengan vitamin Rose, Jennie kembali menatap iPad pink-nya. Kali ini matanya fokus memilih pakaian untuk acara perusahaan. Untuk Lavisa, ia sudah membayangkan gaun hijau tosca dengan bahu tertutup dan kain panjang yang jatuh anggun sampai menutupi kaki seperti seorang putri. Tidak hanya Lavisa, Jennie juga menyiapkan outfit untuk Soyaa dan Rose. Semuanya percaya penuh pada pilihan Jennie, karena di antara mereka, Jennie memang paling piawai dalam urusan gaya.

Saat Jennie masih sibuk, Lavisa menghampirinya dan langsung memeluk dari samping. Mata gadis itu masih setengah terpejam, baru bangun tidur siang, hanya ingin dekat dengan kakaknya sebelum disuruh mandi dan makan malam.

"Enak nggak tidurnya?" tanya Jennie lembut sambil mengelus pipi Lavisa.

"Lumayan... Lala capek, kak. Tadi banyak banget ulangan," jawab Lavisa manja.

Rosé yang mendengar ikut mendekat sambil meledek. "Baru sekolah aja bilang capek. Belum kuliah, kerja, tidur cuma empat jam sehari."

"Bawel," timpal Lavisa singkat sambil manyun.

Soyaa yang baru keluar dari ruang kerjanya hanya menggeleng kepala melihat keduanya. Rose dan Lavisa memang selalu saja ribut kecil, tapi itu justru jadi warna di rumah.

"Lala, lebih baik sekarang mandi terus makan. Nanti kalau capek aku izinin tidur lagi. Belajarnya bisa diskip dulu," ucap Soyaa tegas.

Namun Lavisa menggeleng lemah. "Aku ada tugas, kak Chu. Aku juga mau cari tahu soal jurusan kuliah yang aku pengen."

Jennie yang mendengar langsung memegang kepala adiknya. "Kalau kamu capek dan badan nggak enak, tidur dulu aja. Besok nggak usah masuk sekolah."

"Enggak, kak Nini, aku..." suara Lavisa terputus karena Jennie meletakkan telunjuk di bibirnya.

"Badan kamu hangat. Ikutin aja kata-kata aku."

Seakan kehilangan tenaga, Lavisa hanya bisa bersandar di bahu kakaknya. Ucapan Jennie bagai kunci yang membuat tubuhnya melemas, pasrah pada perlindungan kakak keduanya itu.

————

Selesai makan, lampu-lampu kecil di lorong menyala temaram, hanya menyisakan cahaya lembut yang memantul di lantai kayu. Dari kamar Lavisa terdengar napas teratur, tanda ia akhirnya tertidur pulas setelah sempat merengek tidak mau tidur.

Jennie duduk di kursi kecil dekat ranjang, iPad pinknya masih menyala. Jarinya pelan menggulir layar, mengecek catatan kesehatan, jadwal sekolah, dan bahkan tugas-tugas Lavisa yang ia minta dari guru wali kelas lewat email. Sesekali pandangannya berpindah ke wajah adiknya yang terlelap, memastikan tidak ada tanda-tanda gelisah.

Rose sempat masuk diam-diam, hanya menengok sebentar. "Kak Nini, kamu nggak capek?" bisiknya.

Jennie menoleh sebentar lalu tersenyum tipis. "Aku nggak bisa tidur kalau belum yakin Lala benar-benar istirahat. Kamu pergi tidur aja, aku jagain di sini."

Rose ingin membantah, tapi tahu itu percuma. Jennie kalau sudah bicara begitu tidak ada yang bisa mengubahnya. Akhirnya ia hanya menghela napas lalu keluar lagi.

Detik-detik berlalu lambat. Jam di dinding berdetik samar, sesekali suara kendaraan terdengar dari luar jendela. Jennie masih duduk, punggungnya tegak, seolah siap bergerak kapan pun Lavisa butuh sesuatu.

Saat jarum jam hampir menunjuk pukul satu dini hari, Lavisa bergerak kecil, tubuhnya meringkuk. Jennie segera berdiri, menarik selimut lebih rapat hingga menutupi bahu adiknya, lalu mengelus kepalanya pelan.

"Tidur yang tenang, Lala. Aku ada di sini," bisiknya.

Tak lama, Lavisa kembali diam, napasnya stabil lagi. Jennie menghela napas lega. Baru setelah memastikan benar-benar aman, ia membiarkan matanya terpejam sebentar, masih duduk di kursi itu setengah tidur, setengah berjaga, tetap menjadi benteng sunyi bagi adik kecilnya.

————————
Enaknya upload seminggu sekali apa dua kali seminggu ya?

The DifferentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang