Setelah tidak diperbolehkan berkegiatan olahraga, Lavisa mencoba menghibur dirinya sendiri di ruang dance sekolah. Menari memang menjadi hobinya, tapi karena jadwal ketat dari ketiga kakaknya, kesempatan untuk ke sana sangat jarang.
Saat Lavisa asyik dengan dunianya sendiri, tiga temannya sibuk mencarinya. Mereka baru saja selesai berganti baju dari pakaian olahraga ke seragam sekolah.
"Ini si Lala kemana? Kalau beneran ilang, bisa abis gue sama bunda..." ucap Rafa panik sambil menelpon Lavisa, tapi teleponnya tak diangkat.
"Tadi gue udah nggak liat dia dari lapangan. Pas selesai ngobrol sama lo, tiba-tiba dia ilang," balas Gigi dengan nada panik.
"Sabar, guys. Kita harus berpikir jernih. Biasanya kalau Lala ngilang, cuma ke dua tempat: perpustakaan atau ruang dance. Tapi dengan kondisi kayak gini, nggak mungkin kan dia nari? Kalau salah gerakan, jatuh gimana?" kata Ares dengan analisa gembelnya.
"Berarti kita ke ruang dance! Gue yakin dia di sana." Rafa langsung berlari, diikuti Gigi dan Ares.
Saat sampai di sana, suara musik sudah terdengar. Sebelum Rafa membuka pintu, mereka melihat Lavisa bergerak bebas mengikuti irama. Kagum selalu hadir melihatnya menari, tapi sekaligus kesal karena ia tiba-tiba menghilang.
"Kenapa di sini nggak bilang dulu?" ucap Ares dingin sambil mematikan musik.
Lavisa kaget, hanya terdiam dan menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
"Tadi mau bilang, tapi kalian asyik olahraga. Jadi gue langsung ke sini," jawabnya sambil mengelap keringat dengan handuk yang diberikan Gigi.
"La, kita kan dikasih amanat sama bunda dan kakakmu. Jangan kayak gini. Kalau kenapa-kenapa, kita juga yang kena," kata Gigi lembut, memberi nasehat.
"Gue nggak minta dijaga juga kok. Kalau kalian yang kena, itu juga bukan mau gue," ketus Lavisa. Ketiganya menghela napas, karena kalau Lavisa sudah begini, nada dingin atau tinggi tak berguna.
"Lo kenapa? Ada yang bikin kesel, hm?" tanya Rafa lembut.
"Biasa aja. Gue mau siap-siap ke kelas," jawab Lavisa, lalu keluar dari ruang dance.
Perasaannya tak baik. Hari ini ia tak bisa beraktivitas seperti biasa. Bahkan pelajaran yang ia sukai harus ia relakan demi kesehatan dan orang-orang di sekitarnya. Tapi kenapa Ares harus bersikap dingin, seolah-olah Lavisa yang salah?
Tanpa disadari, ketiga temannya sudah duduk di sekitarnya.
"Maaf ya tadi gue negor lo begitu," kata Ares sambil menyerahkan susu coklat.
"Gue nggak suka sama nada lo. Gue nggak salah, kenapa harus pakai nada kayak gitu?" balas Lavisa kesal.
"Iya, gue salah, La. Gue khawatir. Maaf ya." Ares mengelus kepala Lavisa lembut, berharap ia luluh.
"Jangan kayak gitu lagi. Gue nggak suka," kata Lavisa, lalu meminum susunya.
"Iya, maaf ya," balas Ares, lembut, membuat Gigi dan Rafa tersenyum—mereka tahu, lebih baik mereka yang mengalah.
———-
Sepulang sekolah, Lavisa langsung ke rumah. Sesuai aturan kakaknya, ia tak punya waktu bebas. Perasaan yang tak baik itu menemaninya saat membuka pintu dan langsung ke kamarnya.
Di ruang tamu, ketiga kakaknya bingung karena biasanya Lavisa menyapa mereka. Jennie, yang paling peka, langsung menghampiri kamar adiknya. Ia melihat Lavisa duduk di ujung kasur, mengayunkan kakinya.
"Ada masalah di sekolah?" tanya Jennie.
"Enggak, aku cuma kesal karena hari ini nggak boleh olahraga. Pas aku dance di ruang itu, Ares nadanya dingin karena aku tiba-tiba menghilang. Aku tahu kalian khawatir, tapi aku juga mau kalian paham... awalnya aku bebas, sekarang diatur, susah buat adaptasi," curhat Lavisa panjang untuk pertama kalinya.
"Jadi kamu kesal karena semua peduli sama kamu?" Balas Jennie lembut sambil mengelus punggungnya.
"Gak gitu, Kak Nini.. Lala senang semua peduli, tapi Lala juga mau kalian ngerti kalau ini nggak mudah buat Lala," kata Lavisa, suaranya melemah.
"Kamu mandi dulu, makan siang, terus tidur. Semoga mood-mu membaik," perintah Jennie, dan Lavisa langsung menurut.
Jennie menemani Lavisa makan dan tidur, kemudian menghampiri Soyaa dan Rose di ruang kerja. Mereka sempat ingin ikut ke kamar, tapi mengurungkan niat saat mendengar curhatan Lavisa.
Kini di ruang kerja, mereka memikirkan adik mereka sambil bekerja. Pintu terbuka, Jennie masuk sambil membawa juice strawberry dan vitamin.
"Minum dulu, walau makan makanan sehat, kalian tetap harus minum ini," kata Jennie.
"Gimana keadaan Lala, Kak Nini?" tanya Rose sambil minum juice.
"Moodnya belum membaik. Biarkan dulu aja, jangan buat dia makin kesal. Dia perlu adaptasi," jawab Jennie.
"Tapi jangan dimanjain terus, nanti anaknya ngelunjak," balas Soya dingin.
"Gak ada yang manjain Lala. Kita harus pahami dia juga. Dia banyak berubah, kita harus apresiasi," kata Jennie.
"Paham, tapi jangan terlalu sering," singkat Soya.
"Gak ada salahnya pahami Lala. Toh dia juga selalu memahami kita saat kasih aturan," balas Rose lembut, pmengelus punggung kakak tertuanya.
"Iya, kita harus saling memahami, bukan cuma mau dipahami," Jennie menambahkan, nada pasrah tapi tegas.
"Yaudah, aku minta kalian kasih tau aku kapan harus mengerti Lala dan apa yang harus aku lakukan biar nggak salah paham atau bikin dia kesel," kata Soya. Keduanya mengangguk, menenangkan Soyaa walau pikirannya masih riuh.
———————-
Long time no see guyyyssss!! Semoga masih terhibur dengan ceritanya yaa.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Different
FanfictionKeluarga dianggap rumah untuk setiap manusia di bumi, dijadikan tempat untuk pulang dan beristirahat di saat lelah. Tapi berbeda dengan Lavisa yang menjadikan keluarganya sebagai tempat kost-kostan aja. Tempat untuk tidur, makan dan mandi saja tapi...
