Hari ini menjadi hari pertama Lavisa kembali ke sekolah. Meski tubuhnya masih belum terbiasa bangun pagi, ia tetap bersemangat. Setelah sekian lama bosan di rumah, akhirnya ia bisa merasakan suasana sekolah lagi. Pagi itu, Lavisa sudah mengenakan seragamnya lalu berjalan menuju ruang makan, tempat Soyaa dan Jennie sudah menunggu.
Jennie sibuk menyiapkan sarapan sekaligus bekal untuk adiknya, sementara Soyaa tampak fokus dengan iPad di tangannya. Hari ini ia harus menghadiri rapat mingguan di kantor.
"Selamat pagi, Kak Chuu... Selamat pagi, Kak Nini!" sapa Lavisa dengan suara ceria.
"Pagi, Laa. Jangan pecicilan," tegur Soyaa singkat.
"Pagi, Laa. Sini sarapan dulu," Jennie menyodorkan salad dan sandwich ke hadapan Lavisa.
Namun begitu melihat sayur di piring, wajah Lavisa langsung berubah. Entah kenapa, setiap kali melihat sayuran, semangat makannya seolah hilang. Meski sering dipaksa Jennie untuk makan sayur, ia tetap tidak terbiasa.
"Kenapa harus sayur..." gumamnya pelan, namun tetap menyuapkan makanan ke mulut dengan terpaksa.
"Karena sayur banyak vitaminnya dan bagus buat badan. Jangan bikin aku kasih kamu presentasi soal manfaat sayur kayak yang biasa aku bawain di sekolah-sekolah," jawab Jennie sambil menatapnya.
Lavisa hanya menunduk, malas berdebat.
"Oh iya, La. Jangan lupa peraturannya," Soyaa ikut bersuara. Ia mengulurkan iPhone 13 milik Lavisa. "Ini handphone kamu. Bisa dipakai untuk ngabarin kita, tapi nanti tetap disita lagi waktu belajar dan tidur."
"Iya, Kak Chuu. Terima kasih," jawab Lavisa sambil menerima ponselnya lalu meletakkannya di tas sekolah.
Mereka bertiga sarapan bersama. Setelah selesai, Lavisa berpamitan untuk berangkat sekolah.
Begitu suasana kembali tenang, Soyaa memanggil Jennie ke ruang kerjanya. Jennie menurut, duduk di sofa sambil menunggu penjelasan. Soyaa lalu membuka iPad-nya dan menekan tombol FaceTime. Tak lama, wajah Rose muncul di layar.
"Halo? Ada apa video call pagi-pagi gini?" tanya Rose heran. Jennie ikut mengernyit, karena ia pun tidak tahu apa yang ingin dibicarakan Soyaa.
Soyaa menarik napas, lalu mulai bicara panjang lebar. "Jadi begini... Aku nggak mau Lala masuk dunia hiburan. Aku punya alasannya. Aku nggak mau dia cedera kayak kamu dulu sebelum debut. Matanya saja masih butuh perawatan. Aku pikir lebih baik arahkan dia ke bidang akademik. Dia berbeda denganmu, Osi. Lala pintar sekali, dia bisa berkembang di akademik."
Rose terdiam sejenak sebelum bertanya pelan, "Tapi... apa itu nggak memaksakan dia?"
"Aku nggak maksa. Kita cuma mengarahkan," jawab Soyaa cepat.
Jennie yang sejak tadi mendengarkan hanya menimpali singkat, "Kalau cuma mengarahkan, aku setuju."
Soyaa melanjutkan, "Aku punya teman, namanya Hyeri. Dia guru Lala di sekolah. Aku akan diam-diam minta dia kasih tugas tambahan ke Lala supaya fokus belajarnya makin kuat. Itu sebabnya sekarang jadwal Lala lebih padat."
Jennie mengingatkan, "Tapi jangan sampai dipaksa, kak Chu. Ingat, tugas kita membimbing, bukan memaksa. Jurusan atau fokusnya biar Lala yang pilih."
Soyaa mengangguk. "Paham, Ni. Aku cuma mau dia fokus. Kalau soal jurusan, itu pilihan dia. Tapi satu hal, aku nggak mau dia masuk dunia hiburan."
Rose akhirnya angkat bicara, suaranya bergetar, "Kalau boleh jujur... aku setuju kita harus lindungi Lala biar nggak cedera. Tapi tolong, jangan batasi dia untuk menari. Aku takut dia malah nggak nyaman kalau dipaksa jauh dari apa yang dia suka, dan—"
Ucapan Rose dipotong oleh Soyaa. "Aku batasi justru karena aku nggak mau dia cedera! Kamu lupa dulu waktu kamu latihan mati-matian sampai ankle kamu rusak? Lala udah cedera matanya, apa kamu mau itu tambah parah?" ucapnya tegas.
Jennie ikut menengahi, "Aku paham maksudmu, Osi. Tapi yang kak Chu bilang juga nggak salah. Fokus kita sekarang bikin Lala nyaman dengan akademik. Aku akan ajak dia ke rumah sakit, siapa tahu dia tertarik jadi dokter. Atau mungkin ke kantor kak Chu, biar lihat dunia bisnis. Kalau nanti dia tetap pilih jalur lain, kita pikirkan lagi. Yang jelas, aku juga nggak mau lihat Lala terluka kayak kamu dulu."
Rose terdiam. Tidak ada bantahan keluar dari bibirnya. Ia tahu, sekeras apapun ucapan kedua kakaknya, mereka sama-sama berbicara karena sayang pada Lavisa.
————-
Obrolan para kakak-kakak pocecip
KAMU SEDANG MEMBACA
The Different
FanfictionKeluarga dianggap rumah untuk setiap manusia di bumi, dijadikan tempat untuk pulang dan beristirahat di saat lelah. Tapi berbeda dengan Lavisa yang menjadikan keluarganya sebagai tempat kost-kostan aja. Tempat untuk tidur, makan dan mandi saja tapi...
