57 - Quiet Focus

534 103 9
                                        

Pagi itu, keadaan Soyaa jauh lebih baik. Badannya sudah ringan, kepalanya tidak lagi berdenyut, dan ia merasa sepenuhnya siap kembali bekerja. Tanpa menunggu izin Jennie, ia langsung memakai pakaian kerjanya blazer hitam favoritnya, kemeja rapi, dan sepatu yang bahkan belum pernah disentuh sejak dirinya jatuh sakit.

Meminta maaf lebih mudah daripada meminta izin, pikir Soyaa sambil merapikan kerah kemejanya. Ia mematut diri sebentar di cermin, lalu turun menuju ruang makan dengan langkah mantap.

Saat tiba di meja makan, ia menemukan Jennie sedang memisahkan kapsul-kapsul vitamin ke dalam botol kecil, satu untuk setiap kakak-adik. Jennie hanya melirik sebentar tanpa komentar, tanpa omelandan kembali fokus pada tugasnya.

Bagi Soyaa, itu tanda yang bagus. Kalau Jennie belum bawel, berarti mood-nya lagi stabil.

Di sisi lain ruangan, Rose masuk sambil mengenakan baju casual nyaman. Hari ini ia ada jadwal pemotretan. Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki kecil berlari menuruni tangga.

Lavisa muncul sambil sedikit berlari-lari, rambutnya masih basah sebagian, dan seragam sekolahnya belum sepenuhnya rapi.

"Jangan lari-larian di tangga, La," suara Soyaa terdengar tegas dan dingin.

Lavisa langsung memperlambat langkahnya. "Kayaknya Kak Chu udah beneran sehat ini... udah bisa ngomelin aku," balasnya sambil mengangkat dua jari membentuk peace.

Soyaa hanya mengangkat alis tajam, mengabaikan tingkah adiknya.

Lavisa duduk, lalu menatap Jennie. "Emang Kak Chu udah boleh kerja, Kak Nini?"

Soyaa hampir tersedak udara. Seharusnya Lavisa jangan bahas itu!

Jennie menghela napas panjang, pertanda omelan akan segera turun.

"Sehat nggak sehat, Kak Chu pasti maksa untuk kerja. Ya kan Kak Chu?" Nada Jennie sangat sarkastik.

Soyaa hanya menghela napas. "Nggak gitu, Ni... Tapi aku beneran udah sehatan."

Jennie memutar bola matanya. "Kalaupun lagi nggak sehat, pasti disehat-sehatin biar bisa kerja, kan?"

Rose menimpali sambil mengunyah roti. "Betul banget. Kak Chu itu paling jago pura-pura kuat."

Soyaa tidak bisa membantah. Apa pun yang ia katakan, ketiga adiknya selalu benar setiap membahas dirinya.

Jennie lalu menutup tutup botol vitamin dan mendorong tiga botol ke depan mereka. "Ini. Aku udah siapin sandwich salad buat sarapan. Ini botol vitamin kalian. Setiap pagi kalian minum setelah makan. Aku nggak mau dengar alasan lupa lagi. Paham?"

Ketiganya hanya mengangguk patuh.
Bos keluarga sudah bicara.

"Ya udah, makan dulu," perintah Jennie.

Mereka bertiga langsung melahap sandwich masing-masing. Lavisa yang biasanya benci sayur pun makan tanpa protes. Jennie memang tahu cara menyamarkan rasa sayur dengan baik.

Saat suasana meja mulai tenang, Lavisa mengangkat tangan kecilnya. "Kak Chu, Kak Nini, Kak Osi... boleh aku izin sesuatu?"

Mereka bertiga otomatis menatapnya.

"Izin apa, La?" tanya Soyaa tegas.

Lavisa menarik napas. "Kalau Kakak ingat, aku kan punya software buatanku sendiri. Beberapa bulan ini aku jarang kembangin karena istirahat mata. Nah... apa aku boleh hari ini, setelah ngerjain PR, otak-atik software itu lagi? Nggak lama... paling 2–3 jam."

"Apa itu urgent?" tanya Jennie datar.

Lavisa mengangguk. "Iya. Karena kemarin kantor Kak Chu pakai software aku dan sempat kebobolan. Software harus rutin di-update biar nggak gampang kehack. Aku butuh beberapa hari buat beresin semuanya."

The DifferentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang