Setelah beberapa hari Lavisa mengikuti aturan kakak-kakaknya, dua jam sehari untuk mengerjakan softwarenya, akhirnya semuanya berjalan lancar. Ia patuh bukan karena takut, melainkan karena tahu satu hal: bila ia membangkang, kakak-kakaknya yang protektif bisa berubah menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Jadi lebih aman mengikuti aturan saja. Toh, Lavisa memang cepat, hasil perbaikan softwarenya bahkan sudah digunakan beberapa perusahaan, termasuk milik Soyaa.
Hari ini adalah hari besar: ulang tahun perusahaan Soyaa. Sejak siang mereka semua sudah bersiap-siap.
Lavisa mengenakan gaun hijau tosca yang lembut, rambutnya dibuat sedikit bergelombang. Jennie memakai gaun putih sederhana namun elegan, sementara Rose dan Soyaa kompak memakai gaun hitam yang membuat mereka tampak seperti bodyguard mewah.
Di perjalanan menuju tempat acara, suasana mobil cukup tenang. Mereka berempat duduk di kursi belakang, sementara Soyaa memilih duduk di depan dengan supir, alasan utamanya agar adik-adiknya tidak lelah menyetir sepulang acara.
Begitu mobil berhenti di depan venue, kilatan kamera langsung menyambar.
Ada banyak wartawan. Banyak sekali. Bahkan Lavisa sempat tertegun. Ia tidak menyangka eksposurnya sebesar ini, hanya karena berita tentang dirinya yang berhasil memperbaiki software yang pernah diretas.
"Non Soyaa, sini lihat!"
"Lavisa! Lavisa, boleh satu foto?"
"Lavisa! Sini, sekali lagi!"
Walau tim keamanan Soyaa sudah mengatur barisan, tetap saja beberapa wartawan melanggar aturan.
Flashlight menyala.
Terlalu dekat.
Terlalu terang.
Soyaa refleks memutar badan, mencari sumber cahaya.
"Ran, itu siapa yang pakai flash?" Suara Soyaa meninggi, tajam. "Kan sudah kubilang, mata Lavisa bahaya kena begituan!"
Randy, manajer Soyaa, hanya menunduk dengan suara goyah. "Maaf Non, kami sudah informasikan... tapi tetap saja ada yang melanggar."
Lavisa buru-buru menarik lengan Soyaa. "Kak Chu jangan marah, Lala aman kok."
Soyaa menatapnya, matanya masih penuh emosi. "Kepalanya sakit gak? Matanya sakit gak? Jangan bohong."
Sebelum Lavisa sempat menjawab, Jennie ikut masuk dengan raut khawatir.
"Enggak ka Nini," jawab Lavisa lembut, nyaris seperti membujuk.
Jennie masih belum yakin. "Kalau nanti ada efeknya, langsung bilang. Jangan tunggu parah."
Rose juga menyentuh punggung Lavisa pelan. "Ayo masuk dulu. Kita jauhkan dari kerumunan."
Setelah insiden itu, pengamanan diperketat. Wartawan lebih ditertibkan, dan setiap kilatan kamera langsung ditegur sebelum sempat menyala.
⸻
Masuk ke dalam gedung, suasananya megah namun formal. Musik lembut mengalun, cahaya lampu kristal menggantung tinggi, dan dekorasi didominasi warna putih, emas, dan navy warna khas perusahaan Soyaa.
Banyak client dan rekan bisnis menghampiri mereka.
"Ini Lavisa, ya? Yang memperbaiki software kemarin?"
"Saya dengar Anda yang membuat sistem keamanan itu? Hebat sekali."
Lavisa tersenyum sopan, meski sebenarnya lelah. Bahkan sedikit bosan. Tapi ia bertahan. Ia tidak mau Soyaa tahu ia mulai pusing.
Jennie dan Rose yang paling sering memperhatikan tanda-tanda kelelahan itu. Namun karena Lavisa masih bertahan dengan senyum manisnya, keduanya memilih diam untuk sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Different
FanfictionKeluarga dianggap rumah untuk setiap manusia di bumi, dijadikan tempat untuk pulang dan beristirahat di saat lelah. Tapi berbeda dengan Lavisa yang menjadikan keluarganya sebagai tempat kost-kostan aja. Tempat untuk tidur, makan dan mandi saja tapi...
