41 - Sweeter Than Choco Lava

794 105 21
                                        

Setelah malam itu, Lavisa kembali beraktivitas seperti biasanya. Ia belajar di sekolah bersama teman-temannya. Hari ini, suasana hatinya sudah jauh lebih baik dibanding kemarin. Ia bahkan bisa bercanda dan mengobrol bersama ketiga sahabatnya.

Di rumah pun Lavisa mulai bisa diajak bicara oleh ketiga kakaknya, meskipun tadi pagi sempat terjadi "drama makanan" dengan Jennie. Karena belum terbiasa makan sayur, Lavisa dipaksa Jennie menyantap sandwich penuh sayuran, sampai ia hampir tidak bisa merasakan daging maupun telur di dalam roti tersebut.

Namun, tatapan Jennie membuatnya pasrah. Ia memakan sandwich itu dengan cepat agar bisa segera berangkat ke sekolah. Sayangnya, saat membuka bekal makan siang, Lavisa kembali kecewa karena yang tersedia hanyalah sayuran lagi. Ditambah lagi, ketiga temannya kompak memaksanya menghabiskan bekal tersebut. Lavisa hanya bisa pasrah, karena kalau tidak dimakan, pasti berita itu akan sampai ke Bunda Rafa maupun Jennie.

Sepulang sekolah, Lavisa langsung menyapa ketiga kakaknya di ruang tamu. Ia mencium mereka satu per satu sebelum masuk ke kamar.

"Ih, bau matahari," ledek Rose setelah dicium oleh Lavisa, membuat si bungsu memutar matanya dengan malas.

"Kalau aku wangi ruangan spa, malah bikin bingung," jawab Lavisa asal-asalan sambil mencium pipi Jennie.

"Kenapa ruangan spa?" tanya Soyaa heran.

"Gatau, Lala asbun aja," jawab Lavisa terkekeh.

"Jangan asbun gitu. Udah tahu kakaknya pemikir," balas Jennie, membuat Soyaa langsung merengut.

"Maaf ya, Kak. Lala cuma asal ngomong," ucap Lavisa sambil mencium Soyaa, yang hanya membalas dengan helaan napas.

"Jangan mau Kak Chu, biasanya kalau asbun gitu berarti dia tahu sesuatu duluan," timpal Rose.

Lavisa cepat-cepat menggeleng. "Beneran, Kak Chu. Lala nggak maksud apa-apa. Jangan dengerin Kak Osi."

Soyaa akhirnya tersenyum tipis. "Jangan suka asbun ya. Kalau kamu mikir yang aneh-aneh, aku bisa bikin kamu di rumah terus, nggak boleh keluar."

Lavisa langsung manyun, tapi Jennie meraup wajah adiknya dengan lembut. "Nggak usah kayak gitu mukanya. Kak Chu juga nggak bakal luluh."

"Udah sana. Mandi, makan, terus lanjut belajar sebelum tidur," perintah Soyaa.

"Jangan lupa minum obat," tambah Jennie.

"Keadaan matanya gimana? Masih suka pusing?" tanya Rose serius.

"Udah enggak, Kak Osi. Lala ngerasa udah jauh lebih baik," jawab Lavisa.

Ketiganya mengangguk lega. Soyaa kemudian berkata, "Yaudah, mandi dulu biar bisa makan siang."

Lavisa tiba-tiba memberi hormat sambil tersenyum, lalu bergegas ke kamar.

Hari itu, ia benar-benar mengikuti perintah kakaknya. Setelah makan, Lavisa langsung belajar dan tidur siang. Untuk sekarang, ia tidak mau memberontak. Ia tahu semua itu demi kebaikannya sendiri, walaupun di dalam hati ia masih merasa belum sebebas dulu. Tapi, ia berusaha menikmatinya.

Sore harinya, Lavisa bangun, mandi, lalu bersiap untuk makan malam bersama kakak-kakaknya. Di meja makan, Jennie seperti biasa menyiapkan makanan untuk mereka bertiga. Sudah menjadi kebiasaan Jennie untuk mengatur asupan kesehatan keluarga, dan ketiganya sudah terbiasa dengan "cerewet" Jennie. Karena menurut mereka, risiko punya dokter di rumah.

Saat suasana makan masih tenang, Rose membuka suara.
"Kak Chu, Kak Nini, Lalaa... aku mau izin ya. Minggu depan aku nggak di rumah, soalnya ada acara fashion week di Paris. Habis itu, aku balik, lalu dua minggu kemudian aku mulai sibuk dengan persiapan album."

"Aku siapin vitamin dan daftar makanan ke asisten kamu, biar kamu nggak sembarangan makan pas lagi sibuk," sahut Jennie.

Soyaa menambahkan, "Setelah fashion week, kamu kosong? Atau ada kerjaan lain?"

Rose sempat berpikir, lalu Jennie menegur, "Lihat hapemu kalau lupa."

Dengan cepat Rose membuka ponselnya, meski e
ada aturan tidak boleh main ponsel saat makan, aturan yang sudah berlaku sejak orang tua mereka masih hidup.
"Setelah fashion week, Senin–Selasa aku ada pemotretan. Rabu interview, Kamis bikin konten YouTube. Jumat sampai Minggu aku off buat persiapan sebelum ke Paris Senin depannya."

Jennie mengangguk. "Padat banget jadwalnya. Jangan lupa minum vitamin rutin."

Tak lama, Soyaa menambahkan, "Di hari Jumat tolong kosongin jadwal, Osi. Ada acara ulang tahun perusahaan. Aku minta kamu sama Jennie datang."

Rose tersenyum. "Oke, Kak. Nanti aku kabarin manajer."

Soyaa mengangguk. "Terima kasih ya, Osi."

Rose makin lebar senyumnya. Ia jarang sekali mendengar Soyaa mengucapkan terima kasih.

Tiba-tiba Soyaa menoleh ke arah Lavisa. "Lala juga ikut ya."

Lavisa yang sedang fokus makan langsung mengangkat wajah dengan dahi berkerut.
"Kenapa Lala harus ikut?" tanyanya pelan.

"Karena perusahaan ini yang bikin kamu masih bisa hidup enak. Dan Kakak juga mau kenalin kamu ke rekan serta staf perusahaan, supaya mereka tahu anak bungsu keluarga ini," jelas Soyaa.

Lavisa hanya bisa mengangguk. Soyaa menoleh ke Jennie.
"Nini, nanti tolong atur bajunya. Aku takut dia pakai baju aneh-aneh."

Rose langsung tertawa, sementara Lavisa protes.
"Emang pernah Lala pakai baju aneh?"

"Belum. Tapi siapa tahu. Kamu aja pernah mikir bebek harusnya warna pink biar lucu," jawab Soyaa.

Jennie dan Rose langsung tertawa keras, membuat Lavisa cemberut.
"Hehehe... oke deh, no comment," sahutnya pasrah.

Jennie lalu bertanya serius, "Apa ada alasan lain Kak Chu bawa Lavisa ke acara perusahaan?"

Soyaa terdiam sebentar, lalu menjawab tenang, "Aku maunya Lala nerusin perusahaan ini."

Lavisa sontak berhenti makan. Namun Soyaa segera menambahkan, "Tapi aku nggak maksa. Aku cuma mau kenalin dulu. Kalau kamu nggak mau, nggak apa-apa. Ini hanya rencana Kakak."

Lavisa menunduk. Hatinya luluh. Sejak kapan Soyaa sebegini lembut? Biasanya ia hanya bisa memerintah tanpa peduli perasaan orang lain.
"Aku pikirin dulu ya, Kak Chu?"

Soyaa tersenyum lega, disusul Rose dan Jennie. Mereka tak menyangka Lavisa mau mempertimbangkan.

"Boleh banget. Kakak udah senang kamu mau mikir soal ini," jawab Soyaa.

Rose lalu bertanya, "Memang setelah sekolah nanti, kamu mau ambil jurusan apa?"

"Lala masih bingung, Kak. Belum tahu minatnya ke mana."

Soyaa mengangguk. "Kalau Kakak boleh saran, ambil bisnis digital. Kamu kan udah punya usaha software. Dunia digital sekarang penting banget buat bisnis. Kalau kamu mau, Kakak carikan infonya."

Lavisa langsung mengangguk antusias. "Mau, Kak. Makasih, Kak Chu."

Rose langsung meledek, "Kalau kayak gini manis banget. Wuuu..."

Jennie dan Soyaa tertawa, sementara si bungsu hanya bisa manyun lagi.

———————
Chapter baru uhuuyyy!

The DifferentCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang