48 - Warm Milk and Gentle Care

721 95 6
                                        

"Tumben banget Miss Hyeri kasih tugas segini banyak..." keluh Lavisa sambil memegang kepalanya. Ia terlihat frustasi dengan tumpukan soal di mejanya. Walaupun otaknya lebih encer dibanding ketiga kakaknya, tetap saja kalau tugas menumpuk, kepalanya rasanya mau meledak.

Dari balik pintu, Soyaa mengintip diam-diam. Ada rasa lega di hatinya melihat Lavisa duduk tekun di meja belajar. Ia tak bisa menutupi betapa hatinya dulu hancur saat tahu si bungsu sempat masuk ke pergaulan bebas. Sekarang, ia merasa sedikit tenang karena bisa mengembalikan Lavisa ke jalur yang benar.

Semua ini dilakukan Soyaa agar Lavisa tidak lagi macam-macam. Ia ingin adiknya berhasil di akademik, juga di masa depan. Meski sadar cara ini terasa menyiksa, Soyaa memilih egois. Tujuannya hanya satu: memastikan Lavisa tumbuh di lingkungan yang sehat.

"Masih banyak tugasnya? Ini udah jam sembilan," suara tegas Soyaa terdengar, membuat Lavisa sontak menoleh cepat karena kaget.

"Tinggal satu lagi, Kak Chu. Habis ini Lala tidur," jawab Lavisa sambil membenarkan kacamatanya, lalu kembali fokus menulis.

Tak lama kemudian, soal terakhir pun selesai. Soyaa tetap berdiri di tempat, memperhatikan adiknya yang merapikan buku-buku, lalu memasukkannya ke tas agar tak tertinggal esok hari.

Setelah itu, Lavisa langsung merebahkan diri di tempat tidur. Ia melepas kacamatanya dan meletakkannya di samping lampu tidur, lalu memeluk guling erat-erat.

"Selamat tidur, Kak Chu..." ucapnya lirih dengan suara lelah.

"Selamat tidur, Lala," balas Soyaa sambil merapikan selimut dan mengelus kepala adiknya dengan lembut.

Keluar dari kamar, Soyaa mendapati Jennie duduk di ruang tamu, sibuk memeriksa berkas. Beberapa kali Jennie membetulkan kacamatanya, matanya fokus meneliti tumpukan pekerjaan yang belum selesai.

"Udah jam segini masih kerja?" tanya Soyaa sambil menghampiri.

"Masih ada yang harus diberesin. Kemarin sibuk ngurusin Lala, jadi banyak ketunda," jawab Jennie tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas.

"Jaga kesehatan kamu. Percuma Lala sehat kalau kamu sendiri sakit," ucap Soyaa dengan nada tegas.

"Aku bisa jaga kesehatan aku sendiri. Lebih baik Kak Chu yang rajin minum vitamin. Jangan kira aku nggak tahu, vitamin yang aku taruh di ruang kerja sering nggak kamu sentuh. Badan udah tinggal tulang, kantung mata hitam, pipi makin tirus. Lala aja sekarang badannya udah mendingan, malah kakak yang butuh diperhatiin," balas Jennie panjang lebar.

Soyaa terdiam, tidak bisa membantah.

"Tuh kan, nggak bisa ngomong karena aku bener," Jennie berdiri meninggalkan Soyaa dan menuju dapur. Tak lama, ia kembali membawa segelas susu cokelat.

"Kita harus sayang sama diri sendiri dulu supaya tahu arti sayang ke orang lain. Jaga diri itu penting, jangan selalu mikirin orang lain sampai lupa sama diri sendiri," ujar Jennie sambil menyodorkan susu hangat ke Soyaa.

"Ini ada campuran vitaminnya. Minum sampai habis. Jangan coba-coba nyisain," tambahnya tegas.

Soyaa menghela napas dan meneguk susu itu cepat-cepat, malas mendengar ocehan si kucing. Namun, di dalam hati, ia tak bisa menahan senyum tipis.

"Jadi ini rasanya jadi Lavisa..." gumamnya dalam hati, merasakan betapa Jennie bisa cerewet sekaligus perhatian dalam waktu yang sama.

Setelah Soyaa meminum susu yang diberikan Jennie, entah mengapa matanya terasa berat. Badannya seperti benar-benar membutuhkan tempat tidur. Padahal biasanya, Soyaa sering terkena insomnia hingga bekerja sampai pagi. Namun kali ini berbeda, ia memilih untuk segera tidur karena matanya tak bisa lagi diajak bekerja sama.

Keesokan paginya, Soyaa langsung membersihkan diri di kamar mandi dan bersiap untuk sarapan bersama adik-adiknya. Seperti biasa, ia juga mengecek keberadaan Rose melalui Find My dan menghubungi manajernya. Hal itu sudah jadi rutinitas; bagi Rose, bukan hal aneh jika kedua kakaknya lebih sering berkomunikasi dengan manajernya ketimbang dirinya sendiri.

Begitu selesai memastikan keadaan Rose, si sulung berjalan menuju ruang makan. Di sana, ia melihat Jennie sedang menyiapkan sarapan.

"Enak tidurnya, Kak?" tanya Jennie sambil melirik Soyaa.

"Enak. Kamu kasih obat tidur, ya?" balas Soyaa, membuat Jennie tersenyum kecil.

"Itu minuman cuma buat bikin badan Kakak lebih rileks. Jangan kira aku nggak tahu kalau Kak Chu sering begadang," jawab Jennie tegas.

Soyaa hanya diam. Dari samping meja, Lavisa yang menyaksikan percakapan itu jadi bingung. Kakak sulungnya saja tak bisa membantah Jennie, apalagi dirinya, yang kini menatap piring penuh sayuran yang sedang ditata Jennie.

"Good morning, Kak Chu. Good morning, Kak Nini," sapa Lavisa ceria, membuat Soyaa menghela napas lega. Ia merasa terselamatkan dari amukan "kucing" hanya karena si bungsu datang tepat waktu.

"Good morning, La," jawab Soyaa singkat.

"Good morning too, Laa. How did you sleep last night?" tanya Jennie sambil mengusap kepala adiknya.

"Hmm... I slept well, Ka Nini," jawab Lavisa dengan wajah cerah.

"Good then. Now eat your vegetables," ujar Jennie tegas.

Lavisa menatap piringnya. Oh syiit meen... umpatnya dalam hati, melihat betapa banyak sayuran yang harus ia habiskan.

Jennie kemudian menaruh beberapa tambahan di meja. "Ini vitamin dan buah untuk Kak Chu. Lalu ini untuk Lala. Aku juga sudah siapin susu dan snack tambahan buat kamu di sekolah. Ingat ya, La, nggak boleh minjem uang orang karena Kakak nggak kasih uang saku. Kalau ada yang kurang, bilang ke Kakak. Snack dan susu sudah Kakak tambahkan. Makan saja kalau lapar. Setelah pulang sekolah, kamu bisa makan di rumah."

Lavisa hanya mengangguk. Dalam hati, ia ingin sekali berkata kalau ia rindu makanan kantin sekolah, ramyeon dan tteokbokki kesukaannya.

———————-
Cieeee diem diem perhatian. Uhuyyyy~

The DifferentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang