Setelah dari pemeriksaan dari rumah sakt. Ketiga kakak Lavisa saat ini sedang mengatur peraturan baru di rumah untuk adiknya yang paling bungsu. Ketiganya sekarang ini berada di ruang tamu untuk berbincang mengenai peraturan baru tersebut. Sedangkan Lavisa juga masih di ruang tamu bersama ketiga kakaknya namun saat ini ia sedang asik dengan mainan lego yang diberikan oleh Soya supaya si bungsu tidak bosa.
Akhir-akhir ini memang Lavisa suka menyusun legonya agar tidak terlalu bosan dan si sulung sangat mendukung aktivitas si bungsu dengan baik. Soya sangat rela tiap hari untuk membelikan mainan yang Lavisa inginkan asal si bungsu tidak bosan dan tetap ingin melakukan pengobatan matanya dengan baik.
Seusai ketiganya berbincang, mereka langsung melihat si bungsu yang serius menyusun legonya di meja sedangkan dirinya duduk lesehan di bawah. Si bungsu mengernyitkan dahinya sambil membaca langkah-langkah untuk menyusun legonya dengan serius. Secara tidak sadar si bungsu memajukan bibirnya sambil mengernyitkan dahinya yang menadakan dirinya sedang berkonsentrasi.
"Awas tuh bibir jatoh" keheningan ruangan itu terpecah dengan suara Soya yang dominan
"Ih apaan sih kakak" Lavisa mengeluarkan nada sebalnya karena kakaknya menganggu konsentrasinya
"Sini dulu kamu, kita bertiga mau ngomong" ucap Rose dengan nada lembut
"Ntar dulu kak Osi. Lala masih berkutat dengan lego ini dulu" Lavisa mengabaikan kata-kata Rose dan tetap berkonsentrasi dengan legonya
"Lavisa...." ucap Jennie serta Soya bersamaan dengan nada rendah serta tegas yang membuat Lavisa bergidik ngeri
"Iya kakak" Lavisa langsung berdiri dan menghadap ketiga kakaknya yang duduk di sofa bersampingan
"Kamu pakai nada lembut ga mempan ya" kata Rose menggunakan nada sebal
"Maaf Kak Osi" balas Lavisa sambil menundukkan wajahnya
Soya serta Jennie yang melihat keduanya seperti itu pun langsunng menggelengkan kepala. Sepertinya Lavisa serta Rose memang hanya bisa akur satu hari saja dan lain harinya mereka akan berdebat kecil.
"Kakak udah punya aturan baru sama kamu. Kak Chu juga udah konsultasi sama bunda biar kamu ga merasa dikekang sama bertiga. Kak Chu akan izinin kamu sekolah lagi" ucapan Soya membuat Lavisa langsung mengeluarkan senyuman lebarnya sambil mengarah ketiga kakaknya
"Jangan seneng dulu La, kak Chu belum selesai itu" timpal Rose yang membuat Lavisa langsung mencemberutkan wajahnya
"Kakak izinin kamu sekolah tapi kakak ga izinin kamu kegiatan lain. Jadi, setelah kamu pulang sekolah kamu harus pulang ga boleh kemana-mana. Temen kamu boleh kesini kalau mereka mau main. Uang jajan kak Chu ga kasih tapi kamu bisa bawa bekal dari kak Nini. Handphone dan lain-lain masih kakak sita buat kesehatan mata kamu" Peraturan yang Soya ucapkan membuat Lavisa menghela nafas karena kehidupan bebas yang dulu tidak akan diberikan lagi oleh ketiga kakaknya
"Kenapa hela nafas? Ini baru setengah lho" kata Jennie yang membuat Lavisa mengangkat wajahnya dan mengarahkan ke ketiga kakaknya
"Gapapa, tapi Lala mau sekali-sekali keluar rumah buat jalan-jalan dan ga cuman di sekolah aja" akhirnya Lavisa mengeluarkn suaranya dengan berbisik agar ketiga kakaknya tidak marah
"Bisa, nanti ke kantor kak Chu atau nemenin kak Osi ke studio atau nemenin aku ke rumah sakit" balas Jennie dengan santai
"Bukan itu..." Jawab Lala menggunakan nada manjanya
"Gaada balapan lagi" ucap Soya dengan tegas
"Kalau kamu mau balapan, ga bakal kakak kasih keluar dari rumah ini" lanjut Soya dengan nada yang menggebu-gebu
"Nggak gitu kakak" Lavisa langsung melemahkan suaranya
"Keluarin aja La, biar beneran ga dibolehin kemana-mana" suara judes Rose memancing air mata Lavisa yang sebenarnya tidak ingin keluar
"Aku hiks gak gitu hiks kak Nini...." kali ini Lavisa meminta bantuan Jennie agar membela dirinya
"Kalo masalah balapan kakak juga ga izinin La. Kalau yang lain, kita bisa diskusiin lagi" Jennie mengatakannya dengan tegas
"Lala ga mau hiks izin balapan hiks. Lala cuman hiks mau ke cafe hiks atau lanjutin kerjaan Lala buat software hiks yang ketunda hiks" ketiga Kakak Lavisa tidak tega mendengar isakkan sang adik
"Kalau masalah kerjaan kamu bisa lanjutin di jam kamu boleh main gadget. Misal kamu mau ke kafe boleh bilang kita bertiga nanti kita juga ajak teman-teman kamu" ucapan Soya menenangkan hati Lavisa karena setidaknya ia bisa bersama teman-temannya
"Makanan kamu akan tetep kakak yang ngatur dan kamu cuman boleh main gadget di setelah makan sampai jam tidur. Kita lagi baik hati, jadi sampai jam 22.00 kamu bisa main gadget tapi harus izin ke kita kamu mau nonton atau ngerjain kerjaan kamu" jelas Jennie yang membuat Lavisa menganggukkan kepala.
Selagi Jennie dan Soya menjelaskan aturan baru, Rose mengarahkan diriniya ke dapur untuk mengambil susu kemasa yang ada di kulkas dan juga beberapa snack untuk dirinya. Selesai dari dapur, ia sudah melihat Lavisa yang masih berdiri sambil menundukkan wajahnya dan sesekali si bungsu mengelap air matanya dengan kasar. Padahal sedaritadi Soya serta Jennie tidak mengeluarkan nada marah atau kesal namun nada tegas kedua kakaknya membuat si bungsu menangis tersedu-sedu.
"Paham kan La, sama aturan yang sekarang?" tanya Soya dengan tegas
"Lala paham hiks kak Chu" jawab Lavisa dengan nada pelan
"Udah jangan kebanyakkan nangis. Ini biar moodnya membaik" Rose menggunakan nada jutek namun memberikan susu coklat dingin serta snack coklat kesukaan Lavisa.
"Makasih hiks kak Osi" Lavisa langsung mendudukkan dirinya dibawah sambil meminum susu serta memakan snacknya secara perlahan.
Secara tidak sadar si bungsu saat ini sedang diperhatikan oleh ketiga kakaknya karena melihat Lavisa seperti anak kecil yang sedang asik dengan cemilannya.
"Tumben kamu" celetuk Soya kepada Rose
"Iya, kasihan si bocah itu nangis terus gara-gara diceramahin dua singa" Balas Rose dengan santai sambil mengeluarkan cemilannya dan sengaja tidak menatap kedua kakaknya karena ia tahu saat ini dirinya sedang ditatap tajam oleh keduanya
----------------------------------------------------------
Osi lagi mode tengil sama kedua kakaknya ehe.
Ohiya, Selamat Idul Adha untuk yang merayakan!
KAMU SEDANG MEMBACA
The Different
FanficKeluarga dianggap rumah untuk setiap manusia di bumi, dijadikan tempat untuk pulang dan beristirahat di saat lelah. Tapi berbeda dengan Lavisa yang menjadikan keluarganya sebagai tempat kost-kostan aja. Tempat untuk tidur, makan dan mandi saja tapi...
