Minggu pagi datang dengan tenang. Untuk pertama kalinya setelah dua hari yang cukup melelahkan, Lavisa bisa tidur tanpa diburu tugas atau panggilan mendadak dari kantor kakaknya. Ia membuka mata perlahan, memandang langit-langit kamarnya yang terang karena cahaya matahari menembus tirai putih.
Untungnya, hari ini tidak ada agenda mendesak. Tapi tetap saja, Lavisa bangun lebih awal dari yang seharusnya. Ia tahu kalau dirinya tak akan bisa tenang tidur lebih lama, karena nanti akan ada tatapan tajam dari "kakak kucing garongnya," alias Jennie, yang tidak suka melihat adik-adiknya bermalas-malasan.
Setelah mencuci muka dan merapikan rambut, Lavisa berjalan keluar kamar. Udara rumah terasa segar, dengan aroma nasi goreng yang sudah menyeruak dari dapur. Ia tersenyum kecil dan tidak perlu menebak siapa yang memasak.
Hari ini, Lavisa memang berencana menjenguk Soyaa di kamarnya. Kemarin ia sudah ingin masuk, tapi Rose sempat menahannya karena Jennie melarang siapa pun mengganggu Soyaa yang masih demam. Padahal mereka berdua hanya ingin menemani, tapi Jennie yakindan mungkin benar kalau dua adiknya itu masuk, suasana akan jadi ricuh dan bukannya membantu.
"Ya sudah," pikir Lavisa waktu itu. "Besok aja."
Dan "besok" itu tiba hari ini.
Langkahnya terhenti di dapur. Di sana, Jennie berdiri dengan rambut disanggul asal dan celemek warna pastel, sibuk mengaduk nasi goreng di wajan besar. Wangi bawang putih dan telur membuat perut Lavisa langsung protes minta diisi.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung memeluk Jennie dari belakang.
"Selamat pagi, Kak Niniii~ Wangi banget!"
Jennie sedikit terlonjak.
"Aduh, La! Jangan peluk dulu, aku keringetan," ujarnya sambil terkikik.
"Gapapa, Kak Nini. Keringet Kakak aja wangi," jawab Lavisa santai sambil mengendus leher kakaknya, membuat Jennie geli bukan main.
Jennie mencoba mengelak tapi malah tertawa karena geli.
"Kamu ini ya, anak kecil banget."
Keseruan mereka memancing Rose yang baru turun dari lantai atas. Ia mengernyitkan dahi melihat kedua adiknya.
"Kok kalian masak-masakan gak ngajak aku?"
Jennie langsung tertawa kecil.
"Kamu yakin ini main masak-masakan, Osi? Ini si kecil malah hampir tumpahin bumbu waktu itu pas dia bantuin aku."
"Bener juga, Kak Nini," sela Rose dengan tawa geli. "Kalau Lavisa yang masak, yang ada dapurnya kebakaran."
Lavisa langsung memanyunkan bibirnya.
"Ish, gak gitu juga. Aku nanti bisa masak kok, liat aja nanti."
Jennie menepuk bahu adiknya sambil tersenyum lembut.
"Gak usah ya, La. Kakak aja yang masak. Kamu ke ruang makan aja, nanti Kak Nini bawain."
Meski sedikit ngambek, Lavisa akhirnya menurut. Perutnya sudah mulai protes karena aroma makanan di dapur makin menggoda. Di meja makan, Jennie menaruh piring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi di atasnya.
"Sayurnya jangan lupa dimakan," ucap Jennie mengingatkan sambil menatap Lavisa dengan tatapan khas seorang kakak yang tak bisa ditolak.
Lavisa mengangguk lemah, walau di dalam hatinya sudah menjerit karena tahu ada potongan wortel dan daun bawang di dalamnya. Tapi demi ketenangan hidup, ia memilih diam.
Jennie tersenyum puas melihat dua adiknya makan dengan lahap. Ia memang selalu merasa tenang melihat mereka makan masakannya, meski sering kali diselingi keluhan kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Different
FanfictionKeluarga dianggap rumah untuk setiap manusia di bumi, dijadikan tempat untuk pulang dan beristirahat di saat lelah. Tapi berbeda dengan Lavisa yang menjadikan keluarganya sebagai tempat kost-kostan aja. Tempat untuk tidur, makan dan mandi saja tapi...
