Dengan keberanian tinggi, sore itu Lavisa akhirnya pulang sekolah dengan satu misi besar di kepalanya, meminta izin pada kedua kakaknya untuk makan indomie dan choco lava kesukaannya. Sepanjang jalan pulang, pikirannya hanya berputar di dua makanan itu. Tugas dari Miss Hyeri pun seolah menguap dari ingatan.
"Apa aku tanya Kak Osi dulu aja, ya?"
gumamnya pelan sambil membuka FaceTime. Ia menggulir layar ponselnya hingga menemukan kontak "Kak Osi 🖤", lalu menekan tombol panggil dengan hati-hati.
Beberapa detik kemudian, wajah Rose muncul di layar. Wajahnya tampak cantik dengan riasan lengkap, dan pakaiannya terlihat sangat rapi.
"Halo, kenapa, La?" tanya Rose dengan lembut.
Lavisa menatap heran.
"Kak Osi lagi apa? Kok dandan banget?"
Rose tertawa kecil, lalu dengan sengaja mem-flip kameranya. Di layar terlihat jelas ia sedang dikelilingi kru dan kamera ternyata sedang syuting.
"Kakak... kenapa malah ngangkat telepon kalau lagi shooting?!"
panik Lavisa, membuat seisi ruangan Rose tertawa.
Rose menenangkan,
"Gapapa, La. Aku takutnya kamu ada yang penting. Mau ngomong sekarang atau nanti?"
"Nanti aja deh, Kak Osi lanjut kerja dulu. Maaf ya semuanya, Lala ganggu. Semangat!"
Lavisa buru-buru menutup panggilan itu. Ia tidak sadar bahwa momen singkat itu sedang disiarkan live, dan langsung viral di media sosial.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Rose kembali menghubungi adiknya. Begitu wajahnya muncul, Lavisa langsung cemberut.
"Kak Osi, aku malu banget! Aku ga enak sama crew dan lainnya"
Rose hanya tertawa.
"Ya gapapa, La. Malah lucu kok. Mereka tidak mempermasalahkan juga. Udah, ga usah dipikirin. Sekarang, kamu mau ngomong apa?"
Lavisa menunduk.
"Aku kangen makan indomie sama choco lava, Kak Osi. Kalau choco lava sih mungkin Kak Nini sama Kak Chu bolehin... tapi indomie, aku takut..."
Rose tersenyum lembut, ia sangat paham perasaan itu. Bahkan dirinya pun kadang gugup kalau harus minta izin ke kedua kakaknya.
"Minta izin aja sama Kak Nini. Kalau Kak Nini izinin, pasti Kak Chu juga setuju."
"Tapi gimana caranya, Kak Osi? Aku takut..." rengek Lavisa.
"Kamu ngomong jujur aja, sekalian jelasin kenapa kamu pengin makan itu. Mau alasannya sepele juga gapapa. Kalau kamu jujur, Kak Nini pasti ngerti."
Lavisa hanya mengangguk lemah.
"Aku tahu kamu takut mereka marah, tapi jangan terlalu mikirin hasilnya. Yang penting kamu jujur. Kalau pun ga boleh, setidaknya kamu udah coba ngomong baik-baik."
"Tapi kalau ditolak, aku sedih, Kak Osi..."
"Aku ngerti, sayang. Nanti kalau mereka nolak, aku bantu ngomong. Tapi kamu harus coba dulu, ya."
Ucapan lembut Rose membuat Lavisa sedikit tenang. Setelah menutup telepon, ia menarik napas panjang dan melangkah ke ruang tamu, tempat Jennie dan Soyaa sedang duduk.
Kedua kakaknya tampak sibuk menatap ponsel masing-masing. Mereka tengah melihat video Rose dan Lavisa yang viral, di mana netizen membanjiri kolom komentar dengan pujian:
"Kakak-adik goals banget!"
"Gemes banget adiknyaaa 😭"
"Pengen punya kakak kayak mereka!"
Soyaa dan Jennie begitu fokus sampai tak sadar Lavisa sudah berdiri di depan mereka, menggenggam tangannya gugup.
"Kak Chu... Kak Nini..." panggilnya lembut sambil menunduk.
Kedua kakaknya menoleh bersamaan.
"Ada apa, La?" tanya Jennie dengan suara tenang.
"Ada yang mau Lala omongin, tapi... jangan marah, ya."
Soyaa mengernyit curiga.
"Kita belum tahu kamu mau ngomong apa, gimana mau janji ga marah."
Lavisa menghela napas dalam.
"Lala ga aneh-aneh kok... cuma pengin makan indomie sama choco lava. Boleh?"
Kedua kakaknya langsung menarik napas lega, tadinya mereka sempat berpikir Lavisa melakukan hal gila lagi.
"Kata Kak Osi, harus jujur dulu. Jadi Lala ngomong sekarang," lanjut Lavisa pelan.
Jennie tersenyum geli.
"Ohh, jadi ini ya penyebab kamu trending bareng Osi?"
"Trending? Maksudnya apa?"
Soyaa dan Jennie hanya saling pandang sambil menahan tawa. Lavisa tidak sadar bahwa permintaan kecilnya itu sudah jadi topik panas di media sosial.
"Udah, gausah dipikirin. Kamu mau indomie goreng apa rebus?" tanya Jennie sambil berdiri menuju dapur.
"Indomie goreng aja, Kak. Tadi Ares makan itu, wangi banget!" jawab Lavisa spontan.
Jennie hanya terkekeh. Soyaa pun ikut menyusul ke dapur, sambil menatap adiknya yang tampak bahagia.
"Benar kata Kak Osi. Lebih baik jujur, kan? Kalau niatnya baik, kita pasti bolehin," ujar Soyaa lembut.
Lavisa mengangguk.
"Iya, Kak Chu... makasih."
"Oh iya," lanjutnya sambil bersandar di sofa, "besok aku mau ngerjain tugas Miss Hyeri. Banyak banget, Kak..."
Soyaa menjawab tanpa menoleh,
"Kerjain aja. Besok kita semua di rumah. Jangan keluyuran."
Lavisa hanya bisa mendengus pelan dalam hati.
"Kata-katanya mirip banget sama Miss Hyeri. Jangan-jangan mereka kembaran," gumamnya, membuat Jennie tertawa kecil di dapur.
————————
Beberapa minggu ini aku lagi sedih dan banyak pikiran. jadi belum bisa up. Maafkan ya ges
KAMU SEDANG MEMBACA
The Different
FanficKeluarga dianggap rumah untuk setiap manusia di bumi, dijadikan tempat untuk pulang dan beristirahat di saat lelah. Tapi berbeda dengan Lavisa yang menjadikan keluarganya sebagai tempat kost-kostan aja. Tempat untuk tidur, makan dan mandi saja tapi...
