Perasaan Lavisa masih belum membaik. Entah kenapa, sejak kemarin ia terasa jauh lebih sensitif. Ia bahkan tak membalas chat grup teman-temannya karena takut mood-nya semakin buruk, meskipun ia tahu semua itu bentuk kepedulian dari teman-temannya juga dari ketiga kakaknya.
Lavisa masih berdiam di kamar, menonton series lewat ponsel. Jennie, yang paham betul kalau mood adiknya belum pulih, sengaja membawakan makanan manis kesukaan Lavisa: susu cokelat Milo dan choco lava. Ia berharap hal kecil itu bisa mengembalikan senyum Lavisa.
Begitu pintu terbuka, Lavisa langsung menoleh. Ia melihat Jennie datang dengan nampan berisi makanan. Refleks, Lavisa memutar matanya, mengira kakaknya membawa salad dan minuman sehat lagi.
"Kenapa ekspresi matanya gitu? Kamu udah nggak suka Milo sama choco lava lagi? Kalau nggak, kasih ke Osi aja, deh."
Mendengar itu, mata Lavisa langsung berbinar. Sudah lama ia tak menyentuh makanan itu karena Jennie selalu ketat dengan asupannya.
"Lala kira itu salad sama minuman sehat, Kak Nini. Maaf..." ucapnya pelan, merasa bersalah sudah berburuk sangka.
"Kamu udah lama kan nggak makan ini? Ayo dimakan." Jennie tersenyum kecil. Kalau dulu, mungkin ia sudah membuang makanan itu karena merasa tak dihargai. Tapi sekarang berbeda. Jennie mencoba mengerti perasaan adiknya.
Melihat Lavisa makan lahap, jadi kebahagiaan tersendiri bagi Jennie. Dulu, tubuh Lavisa hanya tinggal tulang karena susah makan. Kini, pipinya sedikit chubby dan ada lemak tipis di perutnya, sesuatu yang membuat Jennie lega.
Saat Lavisa masih sibuk dengan makanannya, Soyaa dan Rose masuk untuk mengecek kondisi si bungsu. Rose ikut tersenyum melihat Lavisa lahap, sementara Soyaa tetap memasang wajah datar.
"Boleh Kakak tahu kenapa kamu kemarin bete?" tanya Soyaa tiba-tiba.
Lavisa berhenti mengunyah dan menghela napas. Soyaa sebenarnya bisa saja marah melihat respon itu, tapi teringat pembicaraan semalam, ia memilih menahan diri.
"Kalau nggak mau cerita, nggak apa-apa. Aku nggak maksa. Makan aja dulu," kata Soyaa lagi.
"Aku cuma kesal sama Ares. Dia pakai nada dingin pas aku dance. Aku tahu aku salah nggak kasih kabar, tapi kenapa harus dimarahin? Mereka asyik olahraga, sementara aku cuma bisa duduk nonton. Apa salah kalau aku ke ruang dance sebentar?" balas Lavisa kesal, nadanya seperti mengadu. Rose sampai gemas ingin mencubit pipinya.
"Menurut kamu, dengan kondisi sekarang, dance itu boleh?" tanya Soyaa, kali ini lebih lembut.
"Boleh, kalau hati-hati. Aku juga nggak gerak berlebihan, cuma mau gerakin badan aja," bela Lavisa.
"Kalau kamu nggak sadar lalu pakai gerakan berbahaya, bisa kejadian nggak?" tanya Soyaa lagi.
"Bisa aja kalau aku terlena... tapi kemarin aku nggak gitu."
"Tapi tetap bisa aja, kan, La?" kini Jennie ikut bersuara.
"Kita diskusi ya, La. Semua kecelakaan terjadi cepat, bahkan sebelum otak kita sempat mencerna," tambah Jennie. Lavisa menunduk, merasa kena.
"Kami paham ini nggak mudah buat kamu, La. Tapi ingat, kamu juga pengen sehat. Kamu nggak mau kan pakai kacamata lagi? Mata itu aset. Kalau penglihatan kamu kabur, gimana bisa kerjain software? Gimana bisa nonton dance cover terbaru? Gimana bisa lihat film kesukaanmu?" Rose akhirnya angkat bicara.
"Kamu aja susah diminta puasa dari gadget, La. Bayangin kalau kamu beneran nggak bisa lihat. Jangan egois sama diri sendiri. Kita semua harus tahu batas kita," tegas Soyaa, membuat Lavisa menarik napas panjang.
"Kami nggak minta kamu sempurna, La. Cukup sayang sama diri sendiri dulu. Boleh main, boleh berkegiatan, tapi jangan lupa masa depanmu," tambah Jennie lembut.
"Ya sudah, semua kembali ke kamu, La. Maunya gimana, coba ceritakan. Kami akan coba mendengarkan," Soyaa mengelus kepala adiknya.
Lavisa luluh. Ia tak terbiasa mendapat kehangatan seperti ini dari ketiga kakaknya.
"Lala minta maaf udah bikin kalian khawatir. Lala coba pikirin lagi kata-kata kalian. Tapi... boleh nggak Lala habisin dulu choco lava ini? Enak banget, beli di mana?" katanya polos sambil melanjutkan makan.
Ketiga kakaknya hanya tersenyum.
"Itu Kak Nini yang bikin. Masih ada di bawah kalau mau nambah," jawab Jennie.
Mata Lavisa langsung berbinar lebar, dan suasana kamar pun menghangat bersama tawa kecil mereka.
——————
Aku akan rutin setiap sabtu untuk up ya dan ada rencana untuk buat cerita baru tapi masih dalam rencana tergantung mood ehe. Have a nice day guys!!
KAMU SEDANG MEMBACA
The Different
FanfictionKeluarga dianggap rumah untuk setiap manusia di bumi, dijadikan tempat untuk pulang dan beristirahat di saat lelah. Tapi berbeda dengan Lavisa yang menjadikan keluarganya sebagai tempat kost-kostan aja. Tempat untuk tidur, makan dan mandi saja tapi...
