Beberapa hari kemudian, keadaan Lavisa membaik. Hal itu tidak lepas dari penjagaan ketat yang dilakukan Jennie dan Soyaa. Si bungsu tidak diperbolehkan turun dari tempat tidur kecuali untuk ke toilet. Bahkan ia tidak tahu di mana ponselnya, karena sejak sakit ponsel tersebut disita oleh Jennie. Satu-satunya hiburan yang boleh dinikmati Lavisa hanyalah menonton TV setelah makan siang dan makan malam, itu pun hanya selama dua jam sebelum ia kembali disuruh tidur.
Selain itu, Rose juga ikut memantau kondisi Lavisa dari jauh. Ia sering melakukan video call dengan kedua kakak dan adiknya untuk memastikan keadaan Lavisa. Begitu pun sebaliknya, kesehatan Rose juga selalu diawasi oleh Jennie. Ia tidak mau ada kakak atau adiknya yang jatuh sakit.
Setelah kejadian terakhir, Soyaa dan Jennie memang memilih saling diam. Namun perhatian mereka tetap ada. Diam-diam Jennie selalu meletakkan vitamin di ruang kerja Soyaa, dan Soyaa tahu hanya Jennie yang mungkin melakukannya. Begitu juga sebaliknya, Jennie sering menemukan skincare dan sweater baru di kamarnya yang sudah diletakkan Soyaa di tempat tidur.
Mereka tidak pernah mengucapkan terima kasih secara langsung, hanya menyimpannya dalam hati. Bisa dibilang, keduanya terlalu gengsi untuk saling terbuka.
Kembali ke kamar si bungsu. Malam itu Lavisa berusaha membujuk kedua kakaknya agar besok diizinkan kembali ke sekolah. Menurutnya, tubuhnya sudah cukup segar dan siap beraktivitas.
"Kak Nini, Kak Chuu... badanku udah cukup segar, lho. Besok Lala boleh masuk sekolah, kan?" tanya Lavisa begitu Jennie dan Soyaa masuk ke kamarnya.
"Diperiksa dulu sama Kak Nini, baru bisa ditentuin kamu boleh sekolah atau nggak," jawab Soyaa tegas, sementara Jennie mulai memeriksa adiknya di tempat tidur.
"Kepalanya gimana? Masih pusing nggak? Terus, tenggorokannya masih sakit nggak?" tanya Jennie. Setiap kali Jennie bertanya, Lavisa hanya menggeleng cepat.
"Kamu mah geleng terus biar diizinin sekolah, kan," ucap Jennie dengan nada menggoda sambil tetap memeriksa kondisi adiknya dengan telaten.
Dari sofa, Soyaa memperhatikan interaksi hangat keduanya. Sesekali ia merasa iri, tetapi pada akhirnya ia sadar dirinya hanya ingin melindungi Lavisa agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas.
"Besok Lala boleh sekolah, Kak Chuu," ucap Jennie setelah selesai memeriksa. "Tapi jangan minum es dulu, tenggorokannya masih agak merah. Nanti aku kasih vitamin juga." Jennie mengelus kepala Lavisa dengan lembut.
"Okay. Kamu boleh sekolah, tapi ada beberapa aturan yang harus kamu taati." Soyaa menambahkan. Mendengarnya, Lavisa langsung menarik napas panjang, menunggu daftar aturan yang akan keluar.
"Pertama, kamu harus pulang tepat waktu. Supir yang akan menjemputmu. Kedua, uang jajan dihentikan, kamu harus bawa bekal dari rumah. Kak Nini yang atur makananmu. Ketiga, setelah makan malam kamu wajib belajar dan mengerjakan PR. Keempat, handphone hanya boleh dipakai setelah PR selesai, itu pun maksimal tiga puluh menit sebelum tidur. Kelima, kamu boleh pakai iPad saat belajar, tapi sudah diatur khusus untuk belajar. Jadi jangan harap bisa buka yang lain."
Lavisa spontan merasa pusing lagi mendengar semua peraturan itu.
"Dengar, La," timpal Jennie. "Mulai besok bawa bekal, ya. Kakak bakal kasih kamu banyak sayur. Kakak nggak suka lihat pipimu makin tirus begini." Jennie mencubit pipi Lavisa pelan.
"Iya, Kak Nini. Tapi jangan banyak-banyak sayurnya, Lala nggak suka. Yang penting besok Lala bisa sekolah, kan?" jawab Lavisa dengan nada lebih ceria.
"Boleh, asal kamu nggak macam-macam di sekolah," sahut Soyaa tegas. Lavisa hanya mengangguk patuh, meski dalam hati masih merasa berat dengan semua aturan yang menunggu besok.
Setelah selesai membicarakan hukuman untuk Lavisa, Soyaa kembali ke ruangannya. Ia langsung membuka iPad dan menatap sebuah catatan yang sudah lama ia simpan dengan judul "Rancangan Masa Depan untuk Lavisa".
Di dalamnya, deretan bimbingan belajar sudah tersusun rapi. Ada kursus persiapan ujian, ada pula program untuk menunjang perkuliahan di masa depan. Hampir semua mata pelajaran tercatat di sana. Soyaa ingin memastikan si bungsu menapaki jalan yang jelas, teratur, dan aman.
Ia belum banyak membicarakan hal ini dengan Jennie, tetapi ia yakin Jennie akan setuju. Dulu, mereka pernah melakukan hal serupa untuk Rose. Hanya saja, kali ini jumlah bimbel lebih banyak. Soyaa tahu betul kalau Lavisa punya kecerdasan akademik yang tinggi, sesuatu yang Rose tidak begitu menonjolkan.
Apalagi setelah kejadian mata Lavisa, tekad Soyaa semakin bulat: ia tidak mau adiknya itu terjebak di dunia hiburan. Ia masih mengingat betapa Rose harus bersusah payah latihan, memaksakan tubuh, hingga akhirnya cedera di masa awal debutnya. Soyaa tidak ingin sejarah itu terulang.
Namun, satu hal yang membuat hatinya goyah: Lavisa sangat menyukai menari. Di situlah dilema besar itu muncul. Ia tahu passion si bungsu ada di sana, tapi baginya dunia hiburan terlalu kejam. Maka, Soyaa terus berpikir keras, mencari cara agar Lavisa bisa lebih tertarik pada dunia akademik, agar ia bisa diarahkan ke jalur lain yang lebih aman.
Soyaa hanya bisa berharap rencana ini nantinya disetujui oleh Jennie dan juga Rose. Bagi Soyaa, menjaga Lavisa bukan sekadar kewajiban sebagai kakak, melainkan janji pada dirinya sendiri: tidak akan membiarkan si bungsu terluka, meski itu berarti harus memaksakan jalannya.
————————-
Ternyata upload dua kali dalam seminggu itu cepat ya. Tiba-tiba hari rabu aja nihh..
KAMU SEDANG MEMBACA
The Different
FanfictionKeluarga dianggap rumah untuk setiap manusia di bumi, dijadikan tempat untuk pulang dan beristirahat di saat lelah. Tapi berbeda dengan Lavisa yang menjadikan keluarganya sebagai tempat kost-kostan aja. Tempat untuk tidur, makan dan mandi saja tapi...
