Setelah suasana kamar dipenuhi tawa, Jennie akhirnya berdiri dan menepuk-nepuk celananya.
"Ayo turun. Makanan sudah siap. Kak Chu juga harus makan dulu sebelum minum obat," ujarnya sambil memandang Soyaa seolah menantang untuk membantah.
Soyaa mengangkat tangan menyerah. "Iya, iya. Aku ikut."
Lavisa langsung sigap memegang lengan Soyaa, membantu kakaknya berdiri. Rose berjalan di samping kanan sambil memastikan langkah Soyaa stabil. Mereka bertiga turun dari kamar seperti pengawal kerajaan yang mengantar ratu yang baru sembuh. Soyaa hanya bisa tersenyum malu.
⸻
Ruang makan terasa hangat dengan aroma sup ayam dan sayuran yang mengepul dari meja. Jennie sudah menata semuanya seperti mini resto: mangkuk-mangkuk tersusun rapi, gelas sudah terisi air hangat, bahkan sendoknya ditaruh melintang sempurna.
"Kalian masak semua ini?" tanya Soyaa sambil duduk pelan.
Lavisa mengangkat tangan bangga. "Sup-nya aku. Telur dadarnya Kak Rose. Kak Nini cuma bawel sambil ngatur-ngatur."
Jennie menatapnya tajam. "Memangnya kamu mau makan makanan yang gosong kalau aku nggak awasin?"
Lavisa mengangkat bahu, tidak merasa tersinggung sama sekali.
Mereka mulai makan bersama. Suasana sedikit riuh, tapi nyaman seperti biasa. Rose menyuapkan beberapa potong sayur ke piring Soyaa.
"Makan yang banyak, Kak Chu. Badanmu butuh tenaga," kata Rose dengan suara lembut.
Soyaa tersenyum. "Osi, aku sakit bukan selesai maraton."
Jennie langsung ikut menimpali, "Betul. Sakit karena kecapekan, bukan maraton. Jadi makanannya harus dihabiskan."
Lavisa menahan tawa. "Kak Nini, dari tadi ngomel mulu. Kayak alarm hidup."
Jennie menendang kaki adiknya pelan di bawah meja, membuat Lavisa tersentak. "Itu! Lihat kan? Alarm-nya nyolot," ucap Lavisa sambil manyun.
Rose langsung tertawa sampai menutupi mulut. Suasana benar-benar seperti keluarga yang sudah hidup bersama selama puluhan tahun.
Soyaa memakan makanannya pelan-pelan. Sesekali ia memandang ketiga adiknya yang ribut sendiri, dan di dalam hatinya muncul perasaan hangat yang sulit dijelaskan. Mereka memang bikin pusing... tapi dalam waktu yang sama, mereka adalah alasan dirinya masih kuat.
Selesai makan, Jennie berdiri duluan. "Oke, ritual selesai. Sekarang Kak Chu naik dan istirahat lagi."
"Sebentar, aku masih—"
"Tidak ada sebentar!" Jennie memotong cepat.
Lavisa menyikut Rose sambil berbisik, "Operasi paksa tidur dimulai."
Rose mengangguk serius seperti agen rahasia.
Jennie memandang keduanya. "Kalian dua ikut. Jangan sampai Kak Chu kabur ke ruang kerja."
Soyaa kaget. "Hei! Aku mau nonton TV bentar, bukan kabur!"
Tapi ketiga adiknya sudah bergerak kompak.
Lavisa berdiri di belakang Soyaa, mendorong kursinya sedikit ke belakang. Rose dengan sigap mengambil selimut yang sudah disiapkan di sofa ruang tamu seolah mereka memang sudah merencanakan semua ini dari awal.
Jennie, di sisi lain, berdiri tegap sambil melipat tangan di dada. "Kak Chu jalan atau aku gendong?"
Soyaa memandangnya tak percaya. "Kamu nggak mungkin—"
"Coba aja," sahut Jennie dengan tatapan menekan.
Lavisa dan Rose menahan tawa sambil memalingkan wajah.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Different
FanfictionKeluarga dianggap rumah untuk setiap manusia di bumi, dijadikan tempat untuk pulang dan beristirahat di saat lelah. Tapi berbeda dengan Lavisa yang menjadikan keluarganya sebagai tempat kost-kostan aja. Tempat untuk tidur, makan dan mandi saja tapi...
