Lavisa menatap kosong ke arah jendela kamarnya. Langit siang tampak cerah, tapi dadanya terasa sesak seperti langit itu sedang menindih dari atas. Kata-kata Soyaa tadi malam masih terngiang jelas di telinganya.
"La, kamu tahu kondisi matamu belum sepenuhnya pulih. Aku nggak mau kamu terlalu capek, apalagi di bawah sorotan kamera. Dunia entertainment itu keras, bukan cuma soal bakat."
Nada lembut Soyaa memang tak pernah terdengar memerintah, tapi justru itu yang paling menyakitkan. Di antara kelembutan itu terselip kekhawatiran yang nyata dan Lavisa tahu, kekhawatiran itu bukan tanpa alasan.
Tangannya terangkat menyentuh sudut matanya yang pernah cedera. Luka itu sudah lama, tapi ancamannya masih nyata. "Kalau cedera lagi... mungkin aku nggak akan bisa lihat apa-apa," gumamnya pelan, suaranya nyaris hilang di antara desir angin dari jendela.
Ia menunduk. Di atas meja, tergeletak sepatu dansa lamanya. Tali-tali sepatu itu kusut dan berdebu, seperti mimpinya sendiri yang sudah lama tidak tersentuh. Ada bagian dari dirinya yang ingin menolak takdir itu, ingin berlari lagi di bawah lampu sorot, menari dengan mata yang menatap dunia penuh warna. Tapi di sisi lain, ada ketakutan besar, takut kehilangan semuanya, termasuk penglihatannya.
Hari ini hari Sabtu. Untungnya, ia tidak perlu ke sekolah. Setidaknya ada sedikit waktu untuk bernapas, walaupun kata "bebas" bagi Lavisa tidak pernah benar-benar berarti bebas. Ia masih harus mengerjakan tumpukan tugas dari Miss Hyeri yang terasa tak ada habisnya.
Ia menarik napas panjang sambil menatap meja belajarnya yang penuh buku dan kertas berserakan. Di antara semua itu, ada secangkir susu coklat hangat yang sudah mulai kehilangan uapnya.
Lavisa tersenyum kecil, mengingat ucapan Miss Hyeri kemarin sore.
"Kamu punya potensi besar, Lavisa. Tapi potensi itu nggak akan berarti kalau kamu malas berpikir."
Nada suara gurunya lembut tapi tegas, sesuatu yang selalu membuatnya ingin berusaha lebih keras lagi, walaupun kadang rasa lelah mengendap di balik matanya.
Dengan semangat kecil yang tersisa, Lavisa duduk tegak dan membuka buku matematikanya. Halaman penuh rumus itu seolah menatapnya balik dengan dingin. Ia mengerutkan alis, mencoba memahami setiap simbol yang menari di depan matanya.
"Hmm... kalau akar kuadrat dari dua belas dikali..." gumamnya pelan, menulis di buku catatan dengan pensil yang ujungnya sudah tumpul. Beberapa kali ia berhenti, menggigit ujung pensil sambil berpikir keras. Kadang tangannya bergerak cepat, kadang berhenti lama hanya untuk menatap kosong ke arah angka yang tidak juga memberi jawaban.
Suara lembut jarum jam di dinding menjadi satu-satunya yang menemani kesunyian di kamarnya. Dari luar, terdengar sayup-sayup suara anak-anak bermain di jalan, membuatnya sedikit iri mereka tertawa bebas, sementara dirinya duduk di depan tumpukan rumus dan angka.
Namun, di balik rasa lelah itu, ada juga sedikit rasa puas. Setiap kali ia berhasil menemukan jawaban yang benar, senyum kecil muncul di bibirnya. Ada kebahagiaan sederhana yang tumbuh dari perjuangan kecil seperti itu.
"Oke, satu soal lagi selesai," katanya pelan, memberi tanda centang di pojok buku.
Ia bersandar sejenak, menatap ke arah jendela. Langit siang tampak biru, cerah, dan tenang seolah mengajaknya keluar, menjauh dari semua hitungan yang membuat kepala terasa penuh. Tapi ia tahu, belum saatnya.
"Sedikit lagi, Lavisa. Kamu pasti bisa," bisiknya pada diri sendiri, lalu kembali menunduk dan menulis dengan penuh konsentrasi.
Entah mengapa, walaupun hari Sabtu, suasana di kamarnya tetap terasa seperti hari sekolah. Bedanya, kali ini tidak ada suara bel, tidak ada guru yang menegur—hanya dirinya sendiri yang berjuang melawan rasa malas dan tekanan di dadanya.
⸻
Sementara itu, di tempat lain, Soyaa sedang menatap layar komputer yang penuh dengan laporan proyek dan jadwal rapat. Ia mengetik cepat, matanya fokus, tapi tiba-tiba pandangannya sedikit kabur. Kepala terasa berat, lalu pusing.
Ia berhenti mengetik. "Hm... lagi-lagi," gumamnya, menarik napas panjang. Ia membuka laci meja, mengambil termometer yang selalu disimpannya untuk berjaga-jaga. Setelah beberapa detik, alat itu berbunyi—37.9°C.
Soyaa menatap angka itu lemah. "Padahal tadi pagi masih sehat," katanya, menepuk pelipis pelan. Ia mengambil segelas air, meneguknya perlahan, mencoba menenangkan diri.
Saat itulah Rose masuk ke ruangannya. "Kak Chuu, aku mau nanya soal..." suaranya terhenti begitu melihat wajah kakaknya yang pucat. "Kak? Kakak kenapa?!"
Soyaa menoleh pelan, tersenyum tipis. "Nggak apa-apa, Rose. Cuma pusing dikit, nanti juga..."
"Tapi wajah kakak pucat banget!" Rose mendekat, memegang tangan Soyaa yang terasa hangat. "Ini panas, Kak! Aku panggil Kak Nini aja, ya?"
"Jangan—"
Terlambat. Suara Rose sudah menggema dari luar ruangan. "Kak Niniii! Kak Soyaa sakit!!"
Soyaa hanya bisa menutup mata, menghela napas panjang. Astaga, anak itu memang nggak pernah bisa tenang...
Tak sampai satu menit, langkah cepat terdengar. Jennie muncul di ambang pintu, wajahnya serius, dengan tatapan yang dikenal semua orang dengan tatapan mata kucing yang tajam.
"Apa aku baru dengar 'sakit'?" suara Jennie datar, tapi menekan.
Rose langsung menunjuk Soyaa dengan panik. "Iya! Kak Soyaa demam! Lihat aja mukanya tuh pucat banget!"
Soyaa mencoba tersenyum walau lemah. "Aku cuma kecapekan dikit. Jangan berlebihan.."
Namun Jennie sudah melangkah maju, tangannya langsung menyentuh dahi Soyaa. "Panas banget. Kak Chu ini kenapa sih? Padahal aku udah buatkan vitamin tiap pagi, tapi masih aja ngelupain hal sepenting itu?"
Soyaa menunduk, seperti anak kecil yang ketahuan melanggar janji. "Aku minum kok... cuma mungkin tadi lupa sarapan aja."
"Lupa sarapan?" Jennie menaikkan alisnya tinggi-tinggi. "Kak, kamu itu kerja kayak robot tapi makan aja lupa. Kamu pikir badan kamu terbuat dari baja?"
Rose mencoba menahan tawa kecil melihat ekspresi Jennie yang marah tapi jelas khawatir. "Kak Nini, jangan galak-galak, nanti Kak Chu malah makin lemas."
Jennie mendengus pelan. "Aku nggak galak, aku realistis. Kalau dia tumbang, siapa yang kerja ngurus semua laporan ini?" katanya sambil meraih gelas air di meja dan menyodorkannya ke Soyaa.
Soyaa mengambil gelas itu dengan hati-hati, matanya menatap Jennie yang kini menatapnya tajam tapi lembut di baliknya. "Makasih..." katanya pelan.
Jennie menghela napas. "Setelah minum, kak Chu langsung istirahat. Rose, tolong pastikan dia nggak balik ke meja kerja lagi."
Rose tersenyum lebar. "Siap, kak Nini.."
Soyaa hanya bisa tertawa kecil, lalu batuk sedikit. "Kalian berdua terlalu lebay..." katanya, tapi suaranya lemah.
Jennie membalas lirih, "Kalau soal kesehatan, aku emang lebay, Kak."
Kalimat itu membuat ruangan sejenak sunyi. Hanya suara angin dari jendela yang berembus masuk, lembut tapi terasa hangat.
Soyaa menatap kedua adiknya itu bergantian, rasa hangat menjalar di dadanya meski tubuhnya masih lemah. Dalam diam, ia sadar meskipun sering menanggung beban besar sendirian, ia tidak benar-benar sendiri.
Dan mungkin, jauh di kamarnya yang lain, Lavisa juga sedang berjuang dengan caranya sendiri.
———————
Kak Chu sakit, kak Nini galak, kak Osi iseng~
KAMU SEDANG MEMBACA
The Different
FanfictionKeluarga dianggap rumah untuk setiap manusia di bumi, dijadikan tempat untuk pulang dan beristirahat di saat lelah. Tapi berbeda dengan Lavisa yang menjadikan keluarganya sebagai tempat kost-kostan aja. Tempat untuk tidur, makan dan mandi saja tapi...
