Untungnya, obat yang diberikan Jennie benar-benar ampuh. Malam itu, Soyaa merasa tubuhnya jauh lebih ringan dan panasnya menurun drastis. Ia bahkan bisa duduk tanpa merasa pusing. Perasaan lega langsung melingkupi dirinya, ditambah fakta bahwa ia tidak perlu dibawa ke rumah sakit. Namun begitu kesadarannya kembali penuh, kecemasannya terhadap perusahaan juga langsung muncul.
Tanpa menunda, Soyaa membuka selimut dan membungkuk, mencari ponselnya yang ia tahu disembunyikan Jennie. Ia memeriksa laci kecil di samping tempat tidur, menggerakkan beberapa barang dengan tergesa.
"Cari apa, Kak Chu?" suara Jennie terdengar datar dari ambang pintu. Ia menyandarkan tubuhnya, kedua tangan terlipat di dada, menatap kakaknya yang jelas ketahuan.
Soyaa terkejut dan tersenyum kaku. "Eng... itu, aku cari ponselku. Kamu taruh di mana?"
Jennie berjalan mendekat, langkahnya cepat dan penuh otoritas. "Emang sudah sembuh? Aku cek dulu."
Tanpa menunggu jawaban, Jennie mengambil alat pengukur suhu dan menempelkannya ke dahi Soyaa. Beberapa detik kemudian terdengar bunyi beep, menandakan suhu tubuh Soyaa kembali normal.
"Badanku udah segeran, Nini. Ini karena obat yang kamu kasih," ucap Soyaa dengan senyum tipis.
Jennie mendecak. "Obat nggak akan ngaruh kalau Kak Chu nggak istirahat. Kuncinya istirahat dan makan teratur. Itu aja Kak Chu susah banget lakukan." Nada Jennie terdengar seperti ibu-ibu yang kesal, membuat Soyaa hanya bisa menghela napas.
Jennie lalu menarik sebuah ponsel dari saku celananya dan menyerahkannya. "Ini ponselnya. Kemarin perusahaan datanya sempat bocor."
Soyaa terbelalak. "Kenapa kamu nggak bilang, Nini? Kamu jangan anggap hal kayak gini sepele. Walaupun aku sakit, harusnya aku tetap tahu!"
Jennie memejamkan mata sejenak, menahan diri agar tidak terpancing. "Aku nggak mungkin kasih tahu saat Kak Chu sakit."
Soyaa dengan cepat membuka ponsel dan mengecek semua notifikasi. Asistennya baru saja mengirimkan laporan perkembangan pagi ini, dan semua grafik menunjukkan keadaan perusahaan sudah stabil.
"Tapi ini kok...?"
"Iya, Lala yang bantuin pas kebocoran data. Aku juga yang minta dia mantau perusahaan Kak Chu lewat Pak Randy, soalnya aku sama Osi nggak ngerti apa-apa," potong Jennie cepat.
Soyaa terpaku.
"Kak Chu itu bisa istirahat karena percaya sama aku. Dan seharusnya Kak Chu juga percaya sama orang-orang yang kerja di perusahaan Kak Chu. Kakak nggak bisa punya beban semuanya sendiri," ucap Jennie, nada lembut tapi tegas.
Jennie melanjutkan sambil duduk perlahan di sisi tempat tidur. "Tubuh itu sakit, salah satu penyebabnya dari pikiran. Percuma Kak Chu bisa handle puluhan urusan kalau akhirnya tumbang begini."
Omelan Jennie membuat Soyaa menunduk seperti anak kecil yang ketahuan salah. "Iya, iya... Kak Chu minta maaf. Kedepannya aku jaga kesehatan."
Jennie hanya mengangguk kecil, seperti seorang dokter yang akhirnya mendengar pasiennya patuh.
⸻
Di luar kamar, sejak tadi Rose dan Lavisa sudah berdiri, saling melihat satu sama lain. Mereka berniat masuk, tapi terpaku mendengar suara Soyaa meninggi lalu ocehan Jennie yang semakin panjang. Setelah suasana terdengar lebih tenang, barulah mereka mengetuk dan masuk.
Begitu pintu terbuka, pemandangan pertama yang terlihat adalah Soyaa duduk di ranjang dengan wajah polos, sementara Jennie duduk dengan tangan terlipat seperti guru sedang menasihati murid bandel. Rose hampir tertawa.
"Udah sehatan, Kak Chu?" tanya Lavisa sambil masuk.
Soyaa tersenyum lega. "Sudah, La. Untung kalian masuk, aku hampir mati karena omelan Jennie."
Ketiganya langsung tertawa karena memang tidak ada yang tahan jika Jennie sudah mulai bawel.
"Makasih ya, La. Udah bantu jaga perusahaan sementara," ucap Soyaa tulus.
Lavisa mengangguk. "Sama-sama, Kak Chu. Aku nggak paham dokumen yang dikirim Pak Randy, tapi kata beliau semuanya sudah aman. Aku lihat data grafiknya juga stabil."
Soyaa menatap adiknya dengan takjub. "Belajar dari mana kamu bisa baca grafik begitu?"
Rose ikut bertanya sambil mendekat. "Iya La, pintar banget kamu."
"Di sekolah diajarin, Kak. Emang pas zaman kalian nggak diajarin baca grafik?" jawab Lavisa polos.
Ketiga kakaknya langsung meledak tertawa.
"Bukan nggak diajarin, La," sela Jennie cepat. "Kak Osi pas pelajaran itu lagi sibuk makan gorengan."
Rose langsung manyun, membuat semua yang ada di kamar itu tertawa lebih keras. Suasanya hangat, penuh canda, dan untuk pertama kalinya sejak pagi, Soyaa benar-benar merasa segar dan tenang.
———-
Yang satu jago akademik, yang satu jago makan
KAMU SEDANG MEMBACA
The Different
FanfictionKeluarga dianggap rumah untuk setiap manusia di bumi, dijadikan tempat untuk pulang dan beristirahat di saat lelah. Tapi berbeda dengan Lavisa yang menjadikan keluarganya sebagai tempat kost-kostan aja. Tempat untuk tidur, makan dan mandi saja tapi...
