Suasana tegang semalam masih terasa di rumah Soyaa, Jennie, Rose, dan Lavisa. Meski atmosfernya mencekam, kegiatan tetap berjalan seperti biasa. Soyaa sibuk dengan pekerjaan kantornya yang ia bawa pulang, sementara Jennie tenggelam dalam pekerjaan rumah sakitnya. Berbeda dengan kedua kakaknya, Rose sedang berada di luar negeri untuk urusan pekerjaan.
Meski Rose tidak di rumah, Jennie tetap memantaunya lewat manager pribadi dan fitur Find My iPhone yang ditautkan keempat saudara itu, agar bisa saling memantau keberadaan masing-masing. Jennie terbiasa multitasking: mengurus pekerjaannya, memantau kondisi Lavisa, sekaligus memastikan Rose tetap aman di luar negeri.
Tak hanya sekadar melacak, Jennie juga mengirim pesan ke manager Rose:
Jennie:
Jangan lupa berikan vitamin dan makanan sehat untuk Rose. Daftar makanan yang diperbolehkan sudah kukirim kemarin, silakan dicek sebelum memberinya makan.
Jane (Manager Rose):
Siap Kak, noted.
Lalu, Jennie mengirim pesan langsung kepada Rose:
Kak Nini 👩⚕️:
Aku sudah cek lokasi kamu. Jangan macam-macam di sana. Nurut sama Jane, dan jangan minta sesuatu yang tidak aku izinkan.
Rose:
Iya Kak Nini, siap laksanakan 🫡.
Sementara itu, Soyaa lebih banyak berperan sebagai pengawas. Ia memperhatikan gerak-gerik Jennie, memastikan kedua adiknya tidak berbuat aneh-aneh.
"Osi sudah kamu ingatkan untuk minum vitamin dan jaga kesehatan, kan?" tanya Soyaa sambil menyentuh bahu Jennie yang sedang duduk di sofa, berseberangan dengan tempat tidur Lavisa.
"Sudah, Kak Chu," jawab Jennie singkat.
"Lala sudah kamu cek juga badannya? Perlu dibawa ke rumah sakit?" Soyaa kini duduk di sebelah Jennie.
"Tidak perlu. Ada aku di sini. Lala hanya demam karena kelelahan. Nanti aku kasih obat dan vitamin lagi," balas Jennie dingin.
"Bagus. Aku bisa mengandalkan kamu," ucap Soyaa santai.
Jennie menoleh sekilas, nada suaranya terdengar kesal.
"Iya, tapi nantinya kalau salah, tetap aku yang disalahkan sama Kak Chu."
"Itu tugas seorang kakak, Nini. Kamu harus jadi contoh dan membimbing adik-adikmu." Jawaban Soyaa terdengar datar, seperti biasa.
Jennie mendengus, lalu berdiri. "Lalu aku? Apa aku bukan adik Kak Chu juga? Sepertinya Kak Chu hanya menuntut aku sebagai kakak, sampai aku lupa kalau aku juga masih adik di rumah ini." Ia melangkah pergi menghampiri Lavisa, meninggalkan Soyaa sendirian di sofa. Soyaa hanya terdiam, tidak menanggapi.
Sejak tadi, Lavisa sebenarnya sudah terbangun. Namun mendengar percakapan kedua kakaknya membuatnya enggan membuka mata. Ia takut keadaan menjadi lebih canggung jika ia tiba-tiba menyapa.
Saat Jennie mendekat untuk mengecek kondisinya, barulah Lavisa membuka mata dan tersenyum tipis.
"Good morning, Kak Nini."
Senyum itu langsung meluluhkan hati Jennie. Ia ikut tersenyum, membalas sapaan adiknya.
"Good morning, La. Badan kamu gimana? Sudah membaik?" tanyanya lembut sambil menyisir rambut Lavisa dengan jemari.
"Sudah, Kak. Mungkin butuh sehari lagi istirahat. Besok aku sudah bisa sekolah," jawab Lavisa bersemangat.
Belum sempat Jennie menimpali, suara Soyaa terdengar dingin dari belakang.
"Jangan ambil kesimpulan sendiri. Dokternya Kak Nini, bukan kamu."
Lavisa hanya bisa menghela napas, berusaha menahan kesal.
"Iya, iya... terserah Kak Nini aja. Lala nurut."
Ia tahu, menanggapi perkataan Soyaa hanya akan memperburuk suasana. Entah mengapa, kakak sulungnya itu selalu bisa menghancurkan mood adik-adiknya dengan kalimat singkat yang tegas dan dingin. Mungkin karena beban sebagai anak sulung, Soyaa terbiasa menekan perasaannya sendiri dan menolak memanjakan mereka, bahkan saat Lavisa sakit.
Namun setelah itu, Soyaa mendekat dan menepuk lembut kepala Lavisa.
"Kakak harap kamu cepat sembuh, supaya bisa kembali sekolah dan ikut acara kantor minggu depan." Ia lalu bangkit dan meninggalkan ruangan.
Jennie dan Lavisa hanya saling pandang. Mereka sering kali bingung dengan sikap Soyaa yang bisa berubah begitu cepat tegas dan dingin di satu waktu, namun bisa juga menunjukkan sisi lembut di saat lain.
Di sisi lain, Soyaa baru saja keluar dari kamar Lavisa dan menuju ruangannya. Kata-kata Jennie yang menusuk tadi masih terngiang di kepalanya. Ia tahu, terkadang dirinya memang harus bersikap tegas demi memastikan adik-adiknya tidak terjerumus dalam pergaulan bebas.
Namun, di balik ketegasan itu, Soyaa tidak bisa memungkiri bahwa ia sebenarnya sangat bangga pada kedua adiknya yang berhasil meraih cita-cita masing-masing sesuai kemampuan mereka. Tidak seperti dirinya, yang sejak awal dipaksa memikul tanggung jawab sebagai pimpinan perusahaan.
Sambil merenung, Soyaa membuka iPad-nya. Ia mulai mengotak-atik pilihan pakaian yang ia pilih untuk Jennie. Soyaa selalu berpikir kalau Jennie selalu sibuk memikirkan kedua adiknya dan juga kakaknya. Jennie juga tidak sadar kalau terkadang Soyaa menyelipkan pakaian baru ke dalam lemari Jennie secara diam-dian. Meski sering terlihat dingin dan cuek, inilah cara Soyaa mengekspresikan kasih sayangnya. Ia mungkin tidak pandai mengucapkannya dengan kata-kata, tapi perhatiannya selalu terselip dalam hal-hal kecil semacam ini.
————————-
Lagi perang dingin ges!
Happy weekend!
KAMU SEDANG MEMBACA
The Different
FanfictionKeluarga dianggap rumah untuk setiap manusia di bumi, dijadikan tempat untuk pulang dan beristirahat di saat lelah. Tapi berbeda dengan Lavisa yang menjadikan keluarganya sebagai tempat kost-kostan aja. Tempat untuk tidur, makan dan mandi saja tapi...
