02 - Night Race

2.7K 182 33
                                        

Jennie yang berpisah dengan Rose pun akhirnya melajukan mobilnya ke rumah sakit. Ia memasang lagu agar di dalam mobil tidak bosan sambil memikirkan kejadian tadi pagi. Ia masih bergelut dengan pikirannya sendiri mengenai pergaulan adiknya. Apa yang dikata Soya memang benar, kalau dirinya tidak mengetahui betul pergaulan sang adik. Yang ia tahu, adiknya memang mempunyai 3 teman dan selalu bersikap manis jika di depan Jennie. Lala memang beberapa kali menceritakan teman-temannya ke Jennie, jika dirinya bertanya mengenai kehidupan sang adik. Tapi ia tidak tahu apakah adiknya benar-benar jujur apa sedang menutupi sesuatu.

Di saat Jennie masih bergelut dengan pikirannya sendiri, ia tidak sadar kalau ternyata dirinya sudah sampai di tempat kerjanya. Jennie langsung turun dari mobil dan menuju ke ruangannya sendiri. Hari ini memang sangat sibuk karena ada jadwal untuk mengontrol pasien dan juga operasi. Ketika ia membuka ruangannya terdapat Irene yang sedang merapihkan meja serta meletakkan kopi kesukaan Jennie.

"Hari ini kita sibuk ya sus?" Irene adalah suster kepercayaan Jennie yang menjadi asistennya di saat jam praktek bahkan sampai operasi pun Irene selalu menemani Jennie

"Iya dok, ini sudah saya siapkan kopinya supaya lebih semangat harinya" Jennie pun tersenyum mendengar kopi kesukaannya sudah tersedia di meja

Dengan cepat Jennie langsung duduk di kursinya sambil meminum kopinya dengan hikmat. Secara tidak sadarm Jenni meminum kopinya sambil termenung memikirkan pembicaraan dirinya dengan Soya tadi pagi. Dirinya benar-benar takut kalau Lala masuk ke dalam pergaulan yang tidak baik.

"Dok.. Dokter.." Irene berkali-kali memanggil Jennie namun tidak ada jawaban. Akhirnya Irene menggoyangkan badan Jennie

"Eh.. Maaf.. Kenapa?" Jennie pun tersadar dari lamunannya

"Lagi banyak pikiran Dok? Tumben pagi-agi udah bengong" Irene pun mengambil kursi untuk duduk di sebelah Jennie

"Kakk Irene.." di saat Jennie seperti ini, tandanya Jennie memang butuh seorang kakak untuk bercerita.

Irene memang lebih tua daripada Irene dan juga suster senior yang sangat akrab dengan Jennie. Irene sudah menganggap Jennie sebagai adiknya sendiri, sebaliknya pun Jennie sudah menganggap Irene sebagai kakaknya. Kalau Jennie sudah memanggil Irene tanpa embel-embel suster maka dirinya butuh teman cerita. Semenjak kejadian kedua orang tuanya meninggal, ia sudah tidak pernah merasakan pelukkan hangat dari kakak tertuanya. Dulu Jennie sangat manja dengan Soya, bahkan ia selalu bercerita kesehariannya kepada Soya. Tapi, setelah Soya sibuk dengan perusahaannya, Jennie tidak pernah dekat lagi dengan Soya.

"Ada apa Jen? Kok mukanya lesu begitu? Ribut lagi sama Soya?" Irene mengelus tangan Jennie dengan lembut

"Kalau ribut sama kak Chu udah pasti setiap hari tapi kali ini ributnya beda" Irene pun menghernyitkan dahinya

"Beda kenapa?" tanya Irene yang penasaran

"Ini masalah Lala kak. Aku ga suka cara kak Soya yang selalu marah-marah sama Lala. Yang bikin aku sedih, Lala tadi pagi bilang seumuran dia kak Soya masih punya Papa Mama yang nemenin kita di rumah sebesar itu. Sedangkan Lala hanya sendiri di rumah itu, makanya dia suka kelayapan karena di rumah ga ada orang. Dia bilang kalo kita punya posisi yang berbeda dan ga bisa sama" lirih Jennie yang matanya sudah berair dan menangis

"Kak Soya juga bilang dia keras ke Lala karena dia tahu pergaulan Lala.Aku takut kalau Lala masuk ke pergaulan buruk" sambung Jennie sambil mengeluarkan air matanya

"Kamu udah pernah tanya ke Lala mengenai teman-temannya?" Irene mengambil tissue dan memberikannya ke Jennie

"Udah kak, setiap kita pergi bertiga bareng sama Osi. Aku selalu nanya temannya siapa aja dan ngapain aja. Tapi aku gatau itu jujur atau bohong" Jennie menghela nafasnya karena ia benar-benar bingung

The DifferentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang