Pagi ini di ruang makan sudah terkumpul Lavisa serta ketiga kakaknya yang saat ini sedang sarapan bersama. Namun saat ini Jennie lebih sibuk daripada yang lain karena harus menyiapkan bekal untuk si bungsu bawa ke sekolahnya. Jennie dengan cepat menghabiskan makanannya terlebih dahulu dan setelah itu ia bersama Bibi menyiapkan bekal untuk Lavisa.
Jika Jennie makan dengan cepat, berbeda dengan Lavisa yang makan sedikit perlahan karena sarapan hari ini masih bertemakan sayur. Walaupun hanya sandwich, menurutnya makanan ini terlalu sehat untuk Lavisa. Ia bisa melihat dengan jelas sayuran berwarna hijau serta merah ada di dalam rotinya bersama telur dan juga daging. Lavisa sangat suka sandwich namun tanpa sayur.
"Bukannya kamu suka sama sandwich ya La? Kok makannya tetap lama?" tanya Soya dengan suara yang sedikit tegas
"Aku suka yang tanpa sayur kakak. Ini banyak banget sayurnya" adu Lavisa dengan harapan sayurnya akan dikurangi
"Kalo kamu ngeluh tentang sayuran terus, kakak kasih 2x lipat sayurnya" teriak Jennie dari dapur yang membuat Lavisa menghela nafas kasar dan membuat Soya serta Rose tersenyum
"Makan La, jangan dibayangin sayurnya" kata Rose yang membuat Lavisa kesal.
Bagaimana ia tidak membayangkan sayuran jika dayuran yang di dalam rotinya terlalu terlihat. Namun dumelan Lavisa hanya bisa ia simpan dalam hati karena takut terdengar oleh Jennie yang ada di dapur.
"Aku kepikiran Lala untuk hipnoterapi deh biar dia bisa suka sama sayur" timpal Jennie sambil membawa bekal untuk Lavisa
"Itu hipnotis gitu kak?" tanya Rose dengan penasaran
"Iya, jadi itu kayak hipnotis supaya orang bisa suka akan sesuatu atau melupakan sesuatu" jelas Jennie yang membuat ketiganya menganggukkan kepala
"Boleh tuh kak si Lala hipnotis aja supaya suka sama sayur dan nurut sama kita" balasan Rose membuat kedua kakaknya tertawa
"Aku udah nurut ya, kenapa harus pake hipnotis-hipnotisan deh" jawab Lavisa dengan kesal
"Udah udah, kak Osi cuman berncanda La. Lagian adik kakak yang satu ini udah mulai nurut. Di sekolah jangan aneh-aneh ya" kata Soya yang membuat Lavisa tersenyum serta menganggukkan kepala
"Yaudah ayok kamu cepetan selesai makanannya. Nanti kita antar ke sekolah" timal Jennie yang membuat Lavisa membulatkan matanya
"Lah bukan Lala dianter supir aja?" tanya Lavisa yang membuat ketiganya tersenyum
"Nggak, kita akan antar kamu sampai sekolah. Kalau perlu kita antar sampai kelas. Ya ga kak?" balas Rose yang membuat kedua kakaknya hanya menganggukkan kepala. Sedangkan Lavisa sudah terdiam karena dirinya malu jika diantar oleh ketiga kakaknya.
Image yang ia bangun selama ini akan hancur kalau dirinya diantar oleh ketiga kakaknya bahkan Lavisa saja sedang memikirkan bagaimana cara ia menyembunyikan tas bekal yang disiapkan oleh kakak keduanya. Lavisa lebih memilih mengantri makanan daripada harus membawa bekal. Karena menurutnya bawa bekal hanya untuk anak SD namun dirinya saat ini sudah SMA.
"Ka, boleh gak adek diantar supir aja?" tanya Lavisa dengan berbisik
"Engga" jawab ketiganya dengan kompak
"Selesaikan makanan kamu dan habis itu kita berangkat" ucap Soya dengan tegas.
Lavisa langsung memakan makanannya dengan cepat dan mengikuti langkah ketiga kakaknya yang menuju mobil. Di dalam mobil Lavisa hanya memandangi jalan luar dengan senyuman, karena sudah lama ia tidak melihat jalanan luar serta aktivitas orang banyak. Dalam diam Rose hanya memandang adiknya yang saat ini masih tersenyum melihat pemandangan luar dari dalam mobil.
Tidak memakan waktu lama saat ini keempatnya sudah ada di dalam parkiran sekolah Lavisa. Jennie dengan cepat membuka pintu serta membuka pintu untuk Lavisa agar keluar dari mobil.
"Kakak udah bawain kamu bekal. Jangan jajan apalagi minjem duit orang buat jajan. Kamu boleh bawa hape kamu untuk ngabarin kita kalau ada jam tambahan. Kalau ga ada jam tambahan, kamu bisa chat buat jemput kamu seperti jam pulang biasa. Hapenya jangan dimainin games. Kakak udah nitip kamu sama Gigi biar kamu ga main hape lama-lama di sekolah" Lavisa hanya menganggukkan kepalanya perlahan karena daritadi kakak keduanya sudah mengoceh lama
"Didenger kata-kata kakaknya La" timpal Soya
"Iya kakak, Lala dengerin. Lala masuk dulu ya, nanti Lala kabarin. Babai" Lavisa langsung mencium ketiganya dengan cepat dan si bungsu langsung masuk ke dalam sekolah sambil membawa bekal.
"Kalo kayak gini kita kayak lagi anterin anak SD ya kak" celetukkan Rose membuat kedua kakaknya tertawa
---------------------------------------------------------
Siapa yang setuju Lavisa dihipnoterapi?
KAMU SEDANG MEMBACA
The Different
FanfictionKeluarga dianggap rumah untuk setiap manusia di bumi, dijadikan tempat untuk pulang dan beristirahat di saat lelah. Tapi berbeda dengan Lavisa yang menjadikan keluarganya sebagai tempat kost-kostan aja. Tempat untuk tidur, makan dan mandi saja tapi...
