"Maaf mengganggu kelas kalian, tapi kali ini kelas dengan Hawks sebagai pelatihnya akan kedatangan tamu." Ujar Mera ditengah-tengah sesi latihan.
Pintu terbuka menampilkan anak-anak berlarian, teriakan sang guru tidak di dengar sama sekali oleh mereka. Guru tersebut hanya bisa menangis dan meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan muridnya.
Nagisa dapat merasakan aura penuh kepercayaan diri dan harga diri tinggi dari anak-anak itu. Stigma Empath, dia memilikinya karena terbiasa untuk menebak jalan pikir ibunya, menghindar dari neraka siksaan itu.
"Baiklah kelas Hawks, kalian mendapatkan pelajaran tambahan untuk mengambil hati anak-anak itu." Ujar Mera. "Oh iya sebagai tambahan, 2 pelatih kalian baru saja datang."
Langkah kaki disertai siluet dua orang muncul membuat mereka terutama kelas Hawks menoleh, terlihat dua orang pria dengan rambut perak serta pakaian hitam.
"Kami tidak tertinggal apapun bukan?" Ucap Karma dengan tenang.
"Kau." Tunjuk Bakugo. "Untuk apa kau kemari hm?" Ash blonde itu tampak tidak suka.
"Kami masih sebagai pelatih kalian jika kau lupa." Itona menjawab dengan tenang tidak memperdulikan aura marah itu.
"Kalian berubah pikiran? Bukankah kalian ingin bolos?" Bisik Nagisa.
"Mau bagaimana lagi? Tiba-tiba dia bilang, alarm ku berbunyi. Dan memaksaku untuk ikut."
Gadis itu dapat membayangkan apa yang terjadi diantara keduanya.
"Jadi, kita harus mendidik anak nakal itu?" Itona menunjuk para anak sd yang mulai menyebalkan dan sok hebat itu.
"Kurasa begitu." Jawab Nagisa.
"Hei kalian kroco, kalian itu lemah menyebalkan." Pekik salah satu anak pada kerumunan itu.
"Ne ne ne, kau pilih yang mana? Warna ganda itu, atau perak di sana?" Tunjuk salah satu anak putri kepada rekannya.
"Yang ganda itu tampan ya? Seperti pangeran."
"Menurutku lebih hot yang tinggi putih itu, suaranya membuatku ingin segera menikahinya."
"Aku suka yang putih, tapi bukan yang terlalu tinggi itu. Dia bagai pangeran berkuda putih untukku."
Sedangkan Nagisa yang mendengarnya hanya bisa membatin, 'anak-anak zaman sekarang seram ya?'
Mendengar dirinya dibicarakan, Karma tersenyum sembari mengedipkan salah satu matanya, tentu saja itu membuat para gadis kecil itu berteriak histeris.
"KYAAAAA DIA TERSENYUM PADAKU!!!"
"KAU SALAH DIA TERSENYUM PADAKU!!!"
"HEI KALIAN KAN TADI TIDAK MEMILIH DIA, ITU ARTINYA PADAKU."
Dan pertengkaran diantara mereka terjadi. Hal itu membuat para anak laki-laki seusianya kesal, "Hei kalian berdua jangan sok keren begitu, menyebalkan."
"Kalau iri bilang saja." Ujar Karma memanas-manasi.
"Apa katamu?! Kau mau mati huh?!" Salah seorang anak itu berniat mengeluarkan quirk miliknya, meriam dari lidahnya.
Cahaya terang menyelimuti, bersiap untuk menyerang, ledakkan besar terdengar membuat beberapa pasang mata melihatnya.
"Pasti dia mati."
Kepulan asap perlahan menghilang, sebelum ledakkan mengenai Karma, sebuah cermin menampilkan sosok yang sama persis dengan anak itu.
"Elemen air, cermin pembalik."
KAMU SEDANG MEMBACA
Assain Vs Hero
Fiksi PenggemarApa jadinya jika murid kelas pembunuh tiba-tiba memiliki quirk? Dan Koro-sensei dapat kembali ke bentuk manusia? Apa jadinya jika murid kelas pembunuh terpaksa memasuki UA bahkan sebelum penerimaan murid baru UA? Lantas siapa yang akan menang? Calon...
