Murid kelas A yang terdiri dari Midoriya izuku, Hagakure Tooru, Ashido Mina, Uraraka Ochaco, Tokoyami Fumikage, Jiro Kyoka, Mezo Shouji, Mineta Minoru, dan Yaoyorozu Momo kini berada di salah satu mall terkenal. Terlihat berbagai toko tersusun rapih yang menjual apa saja, termasuk marchandise.
"Walau kau memiliki 6 tangan, maupun pistol di kaki, disini pasti ada yang pas untukmu." Ujar Iida Tenya.
"Disini benar-benar lengkap." Komentar Mezo.
Midoriya tampak bergumam, menganalisis semua kemungkinan barang yang dijual. Hal itu membuat sekitarnya tampak takut.
"Hei! Jika kau terus seperti itu kau akan menjadi orang pertama yang dibawa satpam lantaran menakuti sekitar." Ujar Tokoyami.
Pengunjung lain yang mengenal mereka melambaikan tangan, "Bukankah itu murid SMA UA yang terkenal itu?"
"Aku ingat gadis potongan rambut pendek menggendong ransel itu finalis pada frstival bukan?"
"Yang lawan juara UA itu?"
"Mereka masih mengenali kita?" Ucap Uraraka sembari menggaruk pipinya.
"Sepertinya aku harus membeli koper besar." Komentar Jiro Kyoka dengan merentangkam tangannya memberi isyarat seberapa besar koper yang dia butuhkan.
"Benarkah? Aku tahu tempatnya, ayo belanja bersama." Ujae Yaoyorozu Momo.
"Sepertinya aku harus membeli sepatu outdoor, karena aku memang tidak punya." Ujar Kaminari.
"Benarkah? Aku juga." Ucap Hagakure.
"Tapi materi itu mengatakan lebih baik kita memakai sepatu yang saat ini kita gunakan. Atau lebih baik membeli apa yang dibutuhkan!" Iida Tenya memperingatkan.
"Kalau begitu kenapa kita tidak berpencar dan kumpul lagi di suatu tempat?" Usul Kirishima.
"Benar juga."
Midoriya yang sibuk bergumam sendirian tanpa sadar semua rekannya telah pergi menuju tempat yang mereka butuhkan. Meninggalkan dia hanya berdua di keramaian dengan Uraraka.
"Sepertinya aku harus beli ransel lebih besar." Ucap Midoriya. Dia melirik ke arah Uraraka, "Uraraka-chan kau mau membeli apa?"
"Aku mau membeli sesuatu yang bisa mengusir..." Uraraka teringat akan perkataan Aoyama Yuga sewaktu ujian kemarin, "Serangga!" Pekiknya sebelum berlari meninggalkan Midoriya seorang diri dengan bingung.
***
Musim panas, waktunya untuk bersantai. Memainkan video game, ataupun melupakan sejenak rutinitas memusingkan dengan nama sekolah. Mesti awalnya begitu, tapi tidak seperti anak adam bersurai ash blonde yang kini ingin sekali berteriak lantaran ibunya sangat berisik.
"Katsuki!! Jika kau tidak ada kerjaan bantu ibu belanja!" Titah mutlak Mitsuki.
"Anata, kalau mau belanja sini biar aku temani. Kasihan Katsuki, dia juga butuh liburan." Ujar Masaru dengan lemah lembut.
"Tidak usah. Apa gunanya seorang anak laki-laki jika tidak bisa membantu ibunya?" Ujar Mitsuki yang memegang dompet serta tas belanja miliknya. Mengurangi penggunaan kantong plastik.
"Nenek cerewet!" Ujar Katsuki yang sudah siap dan rapih menemani ibunya.
"Nah anata, tolong jaga rumah ya?" Pinta Mitsuki sebelum akhirnya dia dan anak laki-lakinya keluar rumah.
Mengunjungi salah satu pasar terdekat membeli segala keperluan dan bahan makanan. Mengunjungi satu kios ke kios lain, tas yang semula kosong kini terisi penuh, bahkan ada pula paperbag yang harus dibawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Assain Vs Hero
Fiksi PenggemarApa jadinya jika murid kelas pembunuh tiba-tiba memiliki quirk? Dan Koro-sensei dapat kembali ke bentuk manusia? Apa jadinya jika murid kelas pembunuh terpaksa memasuki UA bahkan sebelum penerimaan murid baru UA? Lantas siapa yang akan menang? Calon...
