ARAKHA_34. Cilla?

334 21 0
                                        

"Bener! Ini Arakha kan, yang dulu di sekolah Gianda

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Bener! Ini Arakha kan, yang dulu di sekolah Gianda." Ujar Cilla dengan nada sedikit naik, namun suaranya di buat sok imut. "Najis, sok imut." Bisik Reyhan, kepada Pangeran. "Masih imutan, gue ta?" Bisik kembali Pangeran.

"Najis!!!"

Rakha mencoba kembali untuk mengingat gadis yang bernama Cilla tersebut, aa-iya, lelaki itu baru ingat. Cilla ini bukannya adik kandungnya Ayyara kan? Rakha ingat saat pak Ardi memperkenalkan nama anaknya kepada keluarganya.

Namun setelah mengingat hal itu kembali, amarah Rakha tiba-tiba saja muncul, ia mengingat hari itu, dimana Ayyara. Gadis yang ia cintai, tak di anggap oleh kedua orang tuanya sendiri.

"Cilla, adeknya Ayyara!?" Ujarnya cuek, sontak keempat sahabatnya itu memandang kearah nya, yang barusan berkata demikian. Senyum godaan yang di buat Cilla seketika pupus, setelah Rakha mengatakan bahwa dirinya adalah adik dari seorang Ayyara. Ia sangat kesal, niat hati ingin mengoda Rakha, namun lelaki itu malah menyebut nama Ayyara.

"Bukan! Aku tuh ngga punya kakak! Aku punyanya abang! Jadi aku tuh ngga kenal ya yang nama Ayyara!" Bantah nya dengan nada yang di buat sok imut, dan tak lupa setelah berkata seperti itu. Cilla juga melipat kedua tangganya di depan dada, dan memailingkan wajahnya dengan wajah yang di buat buat, seolah dirinya sedang marah.

"Najis!" Celetuk Reyhan, dan Pangeran sepontan. "Ih, kok najis sih! Cilla itu cantik. Ngga najis ya!!" Kesalnya, menghentak hentakan kakinya ke lantai.

"Najis, lu mirip kaya an-" belum selesai berbicara, Rakha justru memotong. "Saya tidak kenal dengan ada, saya hanya kenal dengan Ayyara!" Ujar Rakha, mengunakan nada dinginnya.

"Iss, ngapain sih sebut nama cewe pembawa sial itu!! Tau ngga sih kalian! Kakak aku! Ayra. Meninggal gara-gara cewe itu!!" Ujar Cilla, menunjuk ke arah Rakha dengan jari telunjuk. Namun Rakha sudah terbawa emosi, karena Cilla menyebut Ayyara adalah perempuan pembawa sial.

"Jaga ucapan anda!!" Keras arakha yang nadanya naik se oktaf, sontak Cilla terkejut. Tidak hanya Cilla, keempat sahabatnya juga sama. Untung saja di lantai cafe ini pengunjungnya tidak terlalu banyak dan jarak antara mereka juga sedikit jauh, namun suara Rakha yang sedikit membentak itu mampu membuat pengunjung lain menatap ke arah mereka.

"Jangan sebut Ayyara saya pembawa sial, kematian Ayra itu takdir! Bukan di sebabkan oleh Ayyara!! Paham." Tegas Rakha. "Cih, itu bukan takdir! Kak Ayra meninggal, itu gara-gara Ayyara, gara-gara cewe itu! Kakak aku meninggal!!"

𝘽𝙧𝙖𝙠!!

Rakha memukul meja yang terbuat dari kayu tersebut, membuat suara yang keras, sungguh kesabarannya sudah ingin habis. Anday saja yang di depannya itu seorang lelaki, ia pasti sudah menghantamnya berkali-kali tanpa ampun!

ARAKHATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang