(End)
Bagaimana jadinya, jika pertemuan pertama membuat aliran Cinta menembus hati? Itulah yang di rasakan seorang, Arakha Anatha Kyz Setiawan Grabiel. Anak tunggal, dan salah satu ketua geng motor The Vagos. Yang jatuh hati pada seorang gadis, yan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Dek, bangun. Maafin abang ya," ujarnya terisak, Arsen sedang berada di samping sang adik yang sedang terbaring lemah di atas brangkar. Sendari Ayyara di pindahkan, lelaki itu tak henti hentinya untuk meminta maaf, sungguh Arsen sudah menyesal dengan semuanya, harusnya dia menjadi sosok abang yang baik untuk Ayyara, namun itu sebaliknya.
Sendari kecil Ayyara memang sudah kehilangan sosok kedua orang tuanya, dan hanya Arsen yang menyayanginya, namun semakin dewasa kasih sayangnya hilang bak di telan bumi. "Abang, menyesal dek, tolong bangun untuk abang, kamu taukan kalau ada yang ngga mau kehilangan kamu, kamu tau kan!" ilIsakan kembali terdegar dari bibir Arsen yang mulai bergetar.
Reza masuk ke raung Ayyara, membawa kantung plastik yang tadi Ayu berikan kepadanya untuk makan bersama dengan Arsen. Karena sendari tadi, lelaki itu masih saja menangis, "Sen, makan dulu, lu dari tadi nangis mulu." Reza berdiri di samping Arsen, yang sedang memeluk sang adik sambil menangis.
"Nanti gue makan." Jawab nya dengan lemah, saat ini dirinya tidak merasa lapar sedikitpun, saat ini dia hanya memikirkan sang adiknya yang masih menutup mata, "makan dulu, nanti lu sakit." Jawaban Arsen masih sama, ia tidak mau makan sebelum sang adik tersadar dari komanya.
"Lu ha-" ucap Reza terpotong karena suara ponselnya, menampilkan pangilan masuk dengan nama 'Rakha', "gue mau angkat telfon Rakha dulu, jangan lupa di makan." Ujar Reza, menaruh kantong yang berisikan makanan di atas nangkas.
"I-itu bang Rakha yang nelfon?" Tanya Arsen terbata-bata, "iya." Jawab singkat Reza, "gue ke depan dulu." Pamit Reza di angguki oleh Arsen. Sementara di luar ruangan, lelaki itu memilih untuk mengangkat telfon di luar rumah sakit yang cukup ramai, "halo, assalamu'alaikum." Salam Reza.
"Wa'alaikumussalam, ada apa?" Tanya Rakha dari sebrang sana, sudah terdegar dari balik ponsel kalau Rakha sepertinya sedang berada di acara keluarga, karena di sana sangat berisik. "Lu kenapa baru aktif sekarang sih! Gue ke rumah lu juga lu ngga ada!" Gerutu Reza, sementara Rakha mengerutkan kedua alisnya di sebrang sana, binggung sudah pasti, tidak biasanya Reza marah di balik telfon.
"Lu kenapa? Kok tiba-tiba marah. Ya maaf, kalau gue ngga bilang mau pergi ke rumah mbah gue." Reza menghembuskan nafas kasar, dan itu bisa di dengar oleh Rakha dari sebrang sana. "Gue mau ngomong penting sama lu, ini soal Ayyara, di-" belum selesai mengucapkan kalimatnya, Rakha lebih dulu memotongnya.
"Ayyara? Kenapa?! Dia kenapa Za?!" Teriaknya dari sebrang sana, sudah Reza duga Rakha pasti akan seperti ini kalau menyangkut soal Ayyara, gadis yang berhasil membuat lelaki itu jatuh cinta.
"Sabar dulu! Gue mau jelasin, lu diem dulu!" Kesal Reza, "gue binggung sih mau jelasin dari mana, soalnya gue ngga tau asal usulny-" sama seperti tadi, belum juga ia menyelesaikan kalimatnya, lelaki itu kembali memotong ucapan Reza, membuat sang empu geram.