(End)
Bagaimana jadinya, jika pertemuan pertama membuat aliran Cinta menembus hati? Itulah yang di rasakan seorang, Arakha Anatha Kyz Setiawan Grabiel. Anak tunggal, dan salah satu ketua geng motor The Vagos. Yang jatuh hati pada seorang gadis, yan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Aya cape, Aya cuman mau di sayang. Aya pengin kayak temen-temen Aya, yang selalu dapat perhatian dari orang tua nya." Ayyara
Siang ini Ayyara sedang berjalan pulang ke arah rumahnya, jam menunjukkan pukul setengah satu, matahari sangat terik sekali, membuat kening Ayyara basah karena keringat yang bercucuran. Gadis itu berjalan dengan pandangan yang terus menatap ke arah bawah, namun ia juga sesekali mendogak ke arah depan, untuk memperhatikan jalan.
Rasa takut dan gugup itu yang selalu menyelimuti Ayyara, saat ia sedang berada di luar, entah mengapa ia takut saat dirinya sedang berada di keramaian dan gugup saat akan memulai obrolan. "Cewe! Kiw kiw," goda lelaki yang sama memakai baju putih Abu-Abu, namun sepertinya ia berbeda sekolah.
Ayyara hanya diam dan terus berjalan. "Aya laper," lirih nya sambil memegangi perut yang sudah seperti moster kelaparan, namun Ayyara masih bisa sedikit tahan, karena kejadian seperti ini selalu ia rasakan, untuk menghilangkan rasa laparnya, biasanya gadis itu akan membaringkan tubuh, sambil meringkuk.
Setelah beberapa menit, akhirnya gadis itu sampai di rumah, dengan buru-buru ia melepas sepatunya, saat hendak membuka pintu ia di kagetkan karena mamahnya lebih dulu membuka pintu dan menampilkan wajah yang bagi Ayyara menakutkan.
"KENAPA BARU PULANG LU HAH!, NGGA SEKALIAN AJA NGGA USAH PULANG!!!" Teriaknya dengan keras, namun Ayyara masih menunduk, jarinya meremas rok yang cukup panjang.
𝘽𝙍𝘼𝙆!!!
Suara pintu yang di tutup dengan keras, membuat Ayyara terkejut, jantungnya berpacu cepat, sungguh rasanya sangat lelah kalau setiap kali ia pulang, ia harus mendapatkan perilakuan yang sangat ia tidak inginkan. Isakan yang keluar dari bibir yang bergetar, Ayyara memilih untuk ke belakang rumah saja, ia duduk di bangku panjang yang ada di belakang rumahnya.
"P-perut A-Aya sakit," kembali memegangi perut nya yang nyeri, ia memang sudah biasa menahan lapar, bahkan ia juga sudah biasa menahan semua ini sendiri. "Nih, makan." Ujar lelaki, menyodorkan kantung plastik yang berisikan makanan. Ayyara sempat diam menatap katung plastik yang berisikan makanan itu, setelahnya ia mendogak menatap lelaki yang menyodorkan makanan.
"A-abang?" Air mata itu terus mengalir membasahi pipi tirus Ayyara, sungguh ia tak percaya lelaki yang di hadapannya ini adalah abangnya, abang nya yang dulu sangat sayang kepada diri nya.
"Makan."
"A-aya n-ngga laper." Bohongnya, jujur sebenarnya Ayyara sangat ingin menerima makanan itu, namun ia takut ke tahuan oleh sang mama kalau ia makan. "Ngga usah bohong, gue tau lu laper." Akhirnya lelaki itu berjongkok di depan Ayyara, tangan kekar itu membuka kantung plastik yang berisikan makanan.