ARAKHA_56. Mangga.

352 20 0
                                        

"Keluarga berubah. Tidak menjamin kebahagiaan."
𝘼𝙮𝙮𝙖𝙧𝙖

Siang hari yang begitu cerah. Ada seorang gadis yang sedang menyapu halaman di bawah teriknya mata hari. Sesekali ia menyekat keringatnya yang mulai bercucuran di kening nya.

Ia mulai bersenandung kecil untuk menemani dirinya menyapu.

"Ada satu nama,"

"Suatu masa dulu,"

"Pernah bawa dan beri bahagia..."

"Hingga saat ini,"

"Masih ku simpan di dalam ha-" belum menyelesaikan satu liriknya. Suara sang mama lebih dulu memotong nyayian nya. "AYYARA!MASUK SAYANG. Nanti itu bisa di lanjutin entar sore aja." Ujar sang mama dari ambang pintu.

"Nangung mah, tinggal ini doang nanti selesai." Balasnya, segera menyelesaikan pekerjaan nya.

"Ya sudah. Kalau udah selesai masuk! Itu di luar panas banget." Titah Cinta segera di angguki oleh sang anak.

Merasa sudah bersih, ia segera menaruh kembali sapu lidi di dekat pohon mangga yang besar dan memiliki buah yang sangat banyak. "Kalau liat mangga, pasti keinget kak Akha." kekeh nya.

"wih, rajin nya..." ujar Arsen yang baru saja pulang dari kampus.

"Iya dong, emang kaya abang!" Balas nya segera menghampiri sang abang dan mencium punggung tangan nya.

Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah yang cukup besar dan mewah. "Assalamu'alaikum," salam mereka, bersamaan.

"waalaikumsalam. Ehh, abang dah pulang." Heboh cinta segera menghampiri kedua anak nya.

"Dah, sana makan dulu." Titah Cinta di balas aggukan oleh kedu anak nya. Ayyara dan juga Arsen kembali berjalan ke arah dapur untuk makan siang. "ABANG!!" Teriak Cilla dari arah tangga dengan satu tangan yang memegang ponsel.

Dan saat itulah, tubuh Arsen hampir terjatuh karena ulah sang adik yang tiba-tiba saja memeluknya dengan erat. "Iss, kebiasaan." Arsen mengacak gemas rambut Cilla.

Sepasang mata hanya memandang adegan seperti itu dengan tatapan yang sendu.

"Abang mau makan ngga?" Tanya nya di balas aggukan serta senyum dari sang abang. Gadis itu melepas pelukan nya dan segera menarik tangan Arsen untuk segera ke meja makan.

Ayyara hanya tersenyum dan mengikuti mereka berdua dari arah belakang. Sesampainya di meja makan, mereka duduk, namun saat giliran Ayyara yang akan duduk. Cilla lebih dulu melarang nya.

"Eitsss, mau apa lu!" Nyolot nya dengan mata yang ingin keluar.

"Duduk." Balas nya singkat.

"Ngga boleh!! Gue mau makan sama bang Arsen!" Sarkas nya.

"Aku juga mau makan sama bang Arsen!" Balasnya, tak mau kalah. "Tapi gue, ngga mau makan sama lu!!" Sewot Cilla.

"Cilla!!" Peringat Arsen di acuhi oleh sang empu.

"Ayyara duduk aja." Arsen mempersilakan sang adik untuk duduk di hadapannya. Ia segera duduk di hadapan sang abang dan mengambil nasi serta lauk.

"Ayyara, tolong ambilkan ayam." Tolong Arsen kepada sang adik. Karena jarak antara ayam dan Ayyara tidak jauh, membuat Arsen meminta tolong padanya. "Ini"

"Makasih,"

"Sama-sama," balasnya tersenyum manis.

"Ck!" Kesal Cilla.

ARAKHATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang