ARAKHA_45. Reyhan?

372 18 0
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Pagi ini, lima lelaki itu akan pulang dari rumah sakit. Namun, kelimanya memilih untuk singgah sebentar di subah cafe yang tidak terlalu ramai. Mereka berempat milih untuk tidak masuk kuliah, karena ingin nemenin Rakha.

Mereka masih asik berbincang-bincang ringan, dengan sesekali meminum segelas jus yang mereka pesan dan juga memakan kentang goreng yang ada di meja. Saat sedang asik berbincang-bincang, ponsel dari salah satu mereka bunyi."HP lu kali," ujar Pangeran kepada Akbar. "Bukan. HP gue ngga ada yang nelfon." Balas Akbar, menunjukan layar ponselnya yang tak ada pangilan masuk.

"HP gue, yang bunyi." Reyhan bangkit dari duduknya. "Gue izin, angkat telfon dulu." Pamit Reyhan di balas anggukan oleh keempatnya.

Sebenarnya lelaki itu sudah aneh dari kemarin, dari nada bicaranya juga sudah terdengar datar dan singkat, tidak seperti biasanya yang nada bicaranya selalu centil dan ngeselin. Mungkin lelaki itu sedang ada masalah, fikir ke-empat nya.

Reyhan menjauh dari mejanya, ia memilih untuk mengangkat telfon di luar cafe, lebih tepatnya di parkiran. "Kemana aja lu! Ngga masuk kuliah?! Lu tau ngga, bayar kuliah lu, itu mahal!!" Baru saja mengangkat telfon, suara seorang lelaki sudah terdengar dari sebrang sana. "Lu denger yang gue, omongin ngga!!" Marah Lion dari sebrang sana.

"Apa!?"

"PULANG! NYUSAHIN JADI ANAK, buang duit gue doang lo, Anjing!" Reyhan sudah tidak bisa membendung air matanya lagi. "Gue ngga mau pulang! Gue cape di rumah selalu di marahin terus sama lu!!!" Balasan nya tak kalah membentak.

"Memang anak tidak tau di untung! Pulang lo sekarang. Udah tolol, ngga ada prestasi nya! Bisanya cuman nyusahin, ngabisin uang!" Pangilan terputus dari satu pihak, Reyhan hanya bisa mengacak rambutnya frustasi.

"ARGHHH!"

Kembali masuk ke cafe, dan segera menyambar jaketnya."lu ngapa Rey?" Binggung Pangeran, kembarannya ini sangat berbeda dari biasa nya. "Gue cabut ya, thaks semuanya." Pamit Reyhan, sementara keempat nya masih diam di bangku mereka, menatap punggung Reyhan yang mulai memgecil karena jarak.

"Gue juga ngga mau anjing! Jadi anak lu!! Bangsat."Semua ke jadian buruk itu kembali teringat di benaknya, ia memang anak dari orang kaya, namun ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang atau cinta dari daddy nya.

Melewati pengendara lain yang berteriak ke arahnya, namun lelaki itu tak menghiraukan teguran dari pengendara lain, ia justru hanya fokus kepada jalannya. "Bacot!"

"WOY! KALO MAU MATI! MATI SENDIRI AJA!!" teriak salah satu pengendara motor.

Reyhan sampai di rumah, berjalan menuju pintu utama dengan langkah yang malas, sungguh kalau bisa ia tidak akan mau untuk pulang ke rumah ini lagi, bagi dirinya, ini adalah tempat siksaan.

ARAKHATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang