(End)
Bagaimana jadinya, jika pertemuan pertama membuat aliran Cinta menembus hati? Itulah yang di rasakan seorang, Arakha Anatha Kyz Setiawan Grabiel. Anak tunggal, dan salah satu ketua geng motor The Vagos. Yang jatuh hati pada seorang gadis, yan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sementara di balik pintu, "bang Rakha pasti kecewa sama gue ya, Za?" Tanya Arsen kepada Reza, sebenarnya kedua lelaki itu belum pergi untuk mencari makan, mereka masih berada di balik pintu dan mereka mendegar ucapan Rakha. "Tenang, Rakha ngga bakal kecewa kok sama lu," balas Reza, sambil mengelus bahu lebar Arsen.
"Udah, mending kita beli sarapan yuk, sekalinya beliin buat Rakha." Ucap Reza yang langsung mendapatkan anggukan dari lawan bicaranya. Sementara di dalam ruangan, lelaki itu masih menangis, suara isakan masih terdengar di setiap sudut ruangan.
Perasaannya hancur, pasalnya ia baru bisa mencintai seseoran selain sang ibunda, tapi orang yang menjadi cinta keduanya sekarang sedang terbaring tak sadarkan diri, dan lebih mengenaskan nya lagi, gadis itu sendiri yang mencoba mengakhiri hidupnya.
"Cantiknya Akha, bangun ya. Cantiknya Akha ngga boleh lama-lama tidur nya, okey?" Ocehannya, sendari tadi Rakha berceloteh dengan isakan demi isakan yang keluar dari bibir yang bergetar.
Ruangan ini hanya di penuhi oleh ocehan Rakha yang sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun dari lawan bicaranya, walaupun ia sama sekali tak mendapatkan respon dari lawan bicaranya, lelaki itu tak lelah untuk terus bebicara. Berharap bidadarinya bangun adalah hal yang sangat ia harapkan, ia berharap saat pertama kali bidadarinya membuka mata cantiknya dan yang akan pertama kali bidadarinya lihat adalah dirinya.
Namun semua harapan itu pupus, sampai sekarang Ayyara sama sekali belum sadarkan diri, "hey, bidadarinya Akha bangun dong, kalau kamu ngga bangun, saya akan marah sama kamu." Ujarnya dengan menatap sendu kearah Ayyara yang masih memejamkan matanya
"Tapi kayanya saya tidak bisa marah sama kamu," bagaimana mungkin ia bisa marah kepada gadis yang ia cintai, "kamu lebih suka tidur yang lama ya? Jangan bilang di sana ada pangeran yang tampan melebihi saya, makannya kamu lebih suka memejamkan matamu di bandingkan membuka matamu," sungguh ucapan Rakha sudah mulai mengelantur.
"Cantiknya Akha bangun yuk, bidadarinya Akha harus bangun, kamu ngga suka kan kalau Akha nangis?" Lagi dan lagi, isakan itu kembali terdengar di penjuru ruangan.
𝘿𝙧𝙚𝙩𝙩 𝙙𝙧𝙚𝙩𝙩
Tiba-tiba saja ponsel miliknya berdering, menandakan ada pangilan masuk, dengan tangan yang masih bergetar Rakha merogoh sakunya dan melihat siapa yang menelfon dirinya, dan nama 'mama♡' yang tertera di layar ponsel miliknya.
"Assalamu'alaikum, mah." Salam Rakha lebih dulu, yang langsung mendapatkan jawaban dari sebrang sana. "Wa'alaikumussalam nak, gimana kabar Ayyara? Mama kesana sama papah." Tanya Raisa, merasa khawatir.
Sudah Rakha duga kalau mamahnya ini pasti akan menanyakan soal Ayyara, dari nada bicara Raisa sudah bisa di tebak, kalau wanita itu sangat khawatir kepada Ayyara. "Tenang mah, kata dokter tadi keadaan Ayyara baik baik aja kok, tapi dia masih koma." Beritahu Rakha, melirik ke arah Ayyara, dan saat ia mengatakan '𝑚𝑎𝑠𝑖ℎ 𝑘𝑜𝑚𝑎' nada bicara lelaki itu menjadi berbeda.