Tentang Zehra, gadis tomboi pengidap gangguan mental yang jatuh hati pada lelaki sholeh bernama Gaffi. Trauma masa lalu membuat hidupnya berubah drastis. Mencintai lelaki yang bukan hanya sekedar paham agama melainkan taat agama merupakan tantangan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Assalamualaikum
Hai, apa kabar? 👋
Selamat menunaikan ibadah puasa ya, mohon maaf lahir dan batin😊🙏
JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨
☁️☁️☁️
"Gaffi!" panggil Zehra sedikit berteriak lantaran jaraknya masih cukup jauh.
Lelaki dengan kemeja putih dibalut jas hitam itu berhasil dibuat berhenti.
Bahkan, Melvin yang tengah melambai-lambaikan tangan guna menyambut Gaffi pun kini menoleh pada Zehra yang sudah berada di belakang Gaffi seraya mengatur nafas.
Zehra dibuat terpaku dengan sosok yang ada di hadapannya sekarang. Jarang sekali Zehra melihat Gaffi mengenakan pakaian ke Kantor.
Malam ini dia dibuat kagum dengan ketampanan lelaki itu. Kemeja dan jas itu terlihat cocok melekat di tubuh tinggi Gaffi. Zehra bahkan tak berkedip, malam ini dia beruntung.
Jika Zehra merasa beruntung, maka Gaffi merasa menyesal. Begitu mendengar suara perempuan yang familiar memanggil namanya membuat dia menghela nafas berat.
Niat ingin beristirahat selepas dari Kantor ke Toko Roti Melvin, malah gagal karena gadis itu datang.
"Hai, Ra! Kebetulan kalian datang di waktu yang tepat. Gue lagi di Toko hari ini, jadi kita bisa nongkrong bareng," ujarnya terkekeh.
Zehra baru tersadar karena Melvin bersuara. Gadis itu beralih menatap Melvin. "Gue ke sini buat Gaffi," kata Zehra datar.
Melvin selaku pengelola Toko pun mendengus pelan mendengar ucapan Zehra.
"Tapi gue tetap akan beli menu di sini," tambahnya membuat wajah lelaki humoris itu tersenyum.
"Tunggu apalagi? Ayo, masuk!" ajak Melvin bersemangat. Dia masuk lebih dulu, mencarikan meja untuk mereka.
"Ada urusan apa kamu cari saya?" tanya Gaffi belum beranjak dari tempatnya.
Zehra melangkah mendekat, mensejajarkan dirinya di samping Gaffi. Dia menoleh dengan senyum kecil.
"Kalo gue bilang memangnya lo percaya?"
"Jangan bertele-tele, Zehra," tegur Gaffi.
Zehra terkekeh kecil. "Urusannya karena separuh hidup gue udah tentang lo. Jadi gue nggak bisa jauh-jauh dari lo."
Hal itu tak terdengar seperti gombalan di telinga Gaffi, melainkan terdengar menyebalkan. Lagi-lagi Zehra mengejarnya karena perasaan gadis itu.
Gaffi tak menjawab apapun dan memilih masuk lebih dulu membuat Zehra menatap tak percaya dan mendengus sebal.