11. ULAH MAVRA

2.3K 187 63
                                        

JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨

☁️☁️☁️

Sinar matahari menembus masuk ke dalam kamar gadis tomboi yang tengah terduduk di ranjang. Mengucek mata seraya mengumpulkan nyawa. Netra tajam itu melirik ke arah jam dinding, ternyata sudah hampir siang. Waktu hampir menunjukkan jam 11 pagi.

Kelas pagi terlewat begitu saja, tidak ada kelas lagi yang tersisa bagi Zehra. Hari ini haya ada satu mata kuliah dan itu pun sudah lewat beberapa jam yang lalu. Tapi Zehra tetap akan bersiap.

Untuk apa? Ya untuk bertemu dengan Gaffi tentunya.

Bucin sekali memang, tapi inilah Zehra. Dia rela datang ke Kampus untuk melihat Gaffi. Walau tidak bisa mengobrol dengan Gaffi, Zehra tetap berusaha.

Setidaknya dia bisa melihat lelaki itu walau dari kejauhan. Tapi kalau bisa dari dekat, ya akan Zehra trobos lah.

Tapi sebelum bersiap, Zehra mengecek ponselnya yang baru saja bergetar. Menandakan ada notif pesan chat yang masuk.

Ayah

|| Zehra, apa kabar, Nak?

|| Ayah rindu Zehra. Maaf karena belum bisa pulang dalam waktu dekat.

|| Bagaimana perkembangannya, Zehra?

| | Zehra sudah konsultasi ke Psikolog dengan rutin, kan?

Zehra menggenggam erat benda pipih yang ada digenggamannya. Matanya memanas kala membaca chat sang Ayah.

Jangankan rutin konsultasi, Zehra bahkan secara tidak langsung menghentikan konsultasinya. Hal yang dilakukan Zehra tidak baik dan akan berdampak baginya.

Tapi di sisi lain, dia tidak mau konsultasi sendirian. Zehra sedih, sepertinya kondisinya tidak dapat membaik. Entahlah, ini pemikiran Zehra. Dia ragu untuk sembuh.

"Lemah, gini doang lo nangis, Ra!" ucap Zehra menghapus kasar air mata yang hampir jatuh.

Mencampakkan asal ponsel begitu saja ke nakas, lalu Zehra pergi untuk mandi dan bersiap.

Dikarenakan gadis tersebut memakai pakaian santai, jadi Zehra bisa lebih siap dengan cepat. Mengambil ponsel lalu melangkahkan kaki keluar kamar.

Saat menuruni anak tangga, tidak sengaja dia mendengar perbincangan Bundanya di ruang tamu. Zehra bisa bedakan perbincangan mengarah ke urusan kerja dan perbincangan santai.

Kali ini sepertinya sang Bunda bercerita santai, tak jarang Zehra dengar bahwa mereka ingin bertemu di suatu tempat.

"Ya ampun, Mas. Jangan sungkan gitu loh, saya seneng kok diajak belanja untuk keperluan pesta ulang tahunnya anak Mas," ucap Gina sambil tertawa kecil.

"....."

"Beneran, nggak ngerepotin kok. Lagi pula dia sudah saya anggap seperti anak sendiri, sama seperti Zehra. Kebetulan mereka sama-sama perempuan kan."

Cinta untuk ZehraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang