58. MODUS

1.3K 97 36
                                        

JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨

☁️☁️☁️

Suara klakson mobil yang memasuki pekarangan rumah membuat gadis yang mengenakan mukenah berwarna hitam bermotif simple itu terjaga dari tidurnya. Dia langsung terbangun dan mengusap wajah.

"Ya Allah, gue ketiduran."

Gadis itu ketiduran usai sholat isya dan mengaji. Dia bahkan masih berada di atas sajadah dengan posisi tidur meringkuk.

"Itu pasti Gaffi."

Zehra buru-buru bangkit dari atas sajadah dan melepas mukenah. Sebelum turun menemui Gaffi, dia memastikan tak ada kotoran di mata atau iler dengan mencuci muka terlebih dahulu. Bisa jadi hal yang memalukan jika Gaffi sampai melihat.

Kaki jenjang yang dibiarkan terekspos itu menuruni anak tangga secara cepat. Langkah Zehra terhenti kala mendapati Gaffi baru saja masuk dan hendak menaiki anak tangga pertama.

"Udah pulang, Gaf? Kok muka lo kusut gitu? Ada masalah di Kantor? Pertemuan lo sama Pak Janu lancar, kan?" tanya Zehra khawatir.

Gadis dengan stelan baju tidur berwarna navy itu menghampiri Gaffi yang berdiri lesu di bawah.

"Saya minta maaf, Ra."

"Buat?"

"Saya minta maaf karena terlambat pulang. Tokonya pasti udah tutup, jadi kita nggak bisa beli perlengkapan berkebunnya malam ini," ujar Gaffi merasa bersalah.

Zehra memutar malas kedua bola matanya diikuti helaan nafas lega.

"Astagfirullah, Gaffi. Gue pikir ada apaan, ternyata itu doang?"

"Kamu nggak marah atau kecewa?"

Zehra menggeleng santai. Satu tangannya terangkat menyentuh lengan Gaffi.

"Gue nggak marah ataupun kecewa. Justru gue maklum, Gaf, kan pertemuan lo dengan Pak Janu penting. Kalo perlengkapan berkebun, besok-besok juga bisa kita beli," tutur gadis itu lembut disertai senyuman.

Manik mata yang biasanya tajam, kini tampak teduh dalam pandangan Gaffi. Apalagi senyum Zehra, pikiran yang tadi sempat campur aduk pun langsung hilang seketika usai melihat senyum tulus itu.

"Tapi tadi kamu udah siap-siap, saya jadi ngerasa nggak enak karena nggak ngehargain effort kamu siap-siap. Saya tau itu bukan waktu yang sebentar bagi perempuan, Zehra."

Perkataan Gaffi barusan berhasil membuat Zehra tertegun. Tak menyangka Gaffi akan memikirkan hal kecil seperti itu.

Padahal Zehra tak begitu mempermasalahkan atau kesal karena sudah bersiap namun tak jadi pergi. Tapi lelaki itu memikirkan semuanya sampai terlihat begitu khawatir.

"Gue nggak percaya lo bakal mikirin hal ini, Gaf," batinnya.

Tak lama, kedua sudut bibir gadis itu tertarik hingga berbentuk bulan sabit. Manik matanya melengkung berbinar, hingga detik berikutnya dia memeluk lelaki yang ada di hadapannya.

Cinta untuk ZehraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang