Tentang Zehra, gadis tomboi pengidap gangguan mental yang jatuh hati pada lelaki sholeh bernama Gaffi. Trauma masa lalu membuat hidupnya berubah drastis. Mencintai lelaki yang bukan hanya sekedar paham agama melainkan taat agama merupakan tantangan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨
☁️☁️☁️
Kaki jenjang yang dibalut abaya berwarna hitam itu melangkah masuk ke dalam rumah tingkat dua bernuansa hitam putih. Mulutnya kontan berdecak kagum saat memasuki rumah yang akan dia huni bersama suaminya mulai malam ini.
Selesai melaksanakan sholat isya, Zehra dan Gaffi berpamitan kepada kedua orang tua mereka. Mereka berdua tak akan tinggal di rumah orang tua lagi, melainkan tinggal di rumah sendiri, berdua saja.
Hal ini juga termasuk salah satu pembahasan Zehra dan Gaffi sebelum menikah.
Berdiskusi bersama keluarga, akhirnya dua insan itu memutuskan tidak tinggal di rumah orang tua. Keputusan mereka pun dihargai dan didukung oleh keluarga.
Sehingga di sinilah Zehra sekarang, di rumah yang dipersiapkan Gaffi untuk mereka berdua tinggali.
Dari luar rumah ini bernuansa hitam putih, sedangkan dari dalam bernuansa putih.
Warna putih di dalam rumah sangat cocok dipadukan dengan perabotan rumah tangga berwarna cream. Dapat ditebak semua perabotan didesain satu warna agar terlihat senada.
Zehra akui Gaffi mempersiapkan segalanya dengan sangat matang, ini merupakan salah satu tanda bahwa lelaki itu memang serius.
Tapi satu hal yang mengganjal di pikirannya, rumah tingkat dua yang luas ini hanya akan dihuni oleh dia dan Gaffi saja kah?
Iya, Zehra tau dia akan tinggal berdua saja. Tapi dia tak menyangka rumah yang mereka tempati akan seluas ini. Luasnya hampir seperti rumah orang tua mereka.
"Rumah seluas ini cuma kita berdua aja yang nempati?" tanya Zehra menatap sekeliling.
"Untuk sementara memang cuma kita berdua, tapi beberapa tahun lagi mungkin bareng anak-anak."
Jawaban Gaffi membuat Zehra menoleh cepat ke arah lelaki itu. Menatapnya dengan mata yang membulat lucu sehingga Gaffi tak tahan untuk tidak tersenyum.
Belum genap satu hari pernikahan mereka tapi jantung Zehra sudah dibuat tidak aman di dekat lelaki itu.
Setiap tindakan dan perkataannya mampu membuat Zehra berdebar kencang. Bahkan satu hari ini entah sudah berapa kali pipi Zehra memanas akibat ulah Gaffi.
"Kenapa? Ada yang salah dari ucapan saya?"
"Nggak. Siniin kopernya, gue mau istirahat," kata Zehra mencoba mengambil alih koper dari tangan Gaffi namun gagal lantara lelaki itu menjauhkan koper dari jangkauan Zehra.
"Jangan, biar saya aja. Ini berat," larang Gaffi.
"Jangan ngeremehin gue, Gaf. Gue bisa bawa koper sendiri. Siniin," desak Zehra tapi tentu tak diberi Gaffi.