Tentang Zehra, gadis tomboi pengidap gangguan mental yang jatuh hati pada lelaki sholeh bernama Gaffi. Trauma masa lalu membuat hidupnya berubah drastis. Mencintai lelaki yang bukan hanya sekedar paham agama melainkan taat agama merupakan tantangan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨
☁️☁️☁️
Sabtu pagi yang cerah sangat cocok untuk melakukan aktivitas di luar rumah. Sang surya naik perlahan menyinari seisi kota, membuat suhu pagi ini menjadi hangat.
Melihat cuaca yang cerah, Gaffi berniat mengajak Zehra untuk jalan pagi ke taman kota. Gadis itu tentu saja setuju, lagi pula kapan lagi dia dan Gaffi melakukan hal ini jika tidak di hari libur.
Karena dari Senin sampai dengan Jum'at Gaffi disibukkan bekerja sampai sore, dia hanya punya waktu dua hari dalam seminggu untuk menghabiskan waktu full bersama Zehra.
Maka dari itu Gaffi juga tak mau melewatkan kesempatan ini, mumpung cuaca juga mendukung jadi ini adalah ide yang bagus. Sekarang di sinilah mereka, di taman kota setelah lari pagi dari komplek.
Jujur saja, Zehra baru kali ini diajak berolahraga yang sampai membuat keringatnya bercucuran. Karena selama ini dia mageran, apalagi sebelum menikah, sudahlah, sudah pasti mager akut.
Semenjak menikah dengan Gaffi saja dia jadi lebih produktif dan mengerjakan hal-hal yang sebelumnya belum pernah Zehra lakukan.
Berbeda dengan Gaffi, lelaki itu sedari dulu memang rajin berolahraga makanya tubuhnya terlihat bagus.
Zehra heran, kenapa di tengah kesibukan kantor, Gaffi masih sempat dan tidak mager untuk berolahraga, ya?
"Kamu capek, Ra?" tanya Gaffi khawatir melihat Zehra yang ngos-ngosan.
"Pake nanya, ya capeklah, Gaf. Emang lo nggak capek?" tanya Zehra seraya menyeka keringat di dahi.
"Nggak. Kalo gitu kita istirahat dulu aja. Ayo, di sana ada kursi," ajak Gaffi.
Lelaki itu meraih tangan Zehra untuk digenggam lalu membawa gadis itu berjalan menuju kursi taman.
Sengaja dia memelankan langkah dan menyamakan langkahnya dengan Zehra agar gadis itu tak kesusahan dalam menyelaraskan langkah mereka.
Semua tindakan Gaffi tentu tak luput dari penilaian dan pandangan Zehra. Tak perlu ditanya bagaimana kondisi jantung Zehra, sudah pasti marathon.
Apalagi saat Gaffi tiba-tiba meraih tangannya, Zehra rasanya ingin tantrum saking saltingnya.
"Dia sengaja pelanin langkahnya supaya gue nggak capek-capek ngejer. Gaf, gue baru tau sisi manis lo sekarang," batin Zehra tersenyum.
"Kita duduk di sini dulu ya. Kamu nggak kepanasan, kan? Kalo kepanasan bilang, Ra, biar saya pindah di sebelah situ," kata Gaffi dan Zehra menggeleng.
"Nggak kok, nggak panas. Gue di sini aja."
Mereka pun beristirahat di kursi taman sambil melihat beberapa orang yang berlalu lalang. Ada yang lari pagi, dan ada juga beberapa keluarga kecil yang membawa anak mereka bermain di taman kota.