Tentang Zehra, gadis tomboi pengidap gangguan mental yang jatuh hati pada lelaki sholeh bernama Gaffi. Trauma masa lalu membuat hidupnya berubah drastis. Mencintai lelaki yang bukan hanya sekedar paham agama melainkan taat agama merupakan tantangan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨
☁️☁️☁️
"Menurut lo kita pakai yang ini atau ini?"
Gadis dengan abaya berwarna hitam yang dipadukan dengan french khimar berwarna army itu menyodorkan kedua bahan baku membuat kue pada Gaffi.
Jujur, jika ditanya tentang bumbu memasak Gaffi masih tau, namun jika ditanyai tentang kue, Gaffi mundur.
Alhasil lelaki itu hanya mengernyit memandangi dua produk yang dipegang Zehra.
"Saya bingung. Kita beli dua-duanya aja ya," kata lelaki itu mengambil alih dua produk itu dari tangan Zehra.
Zehra melotot dan merebut kembali.
"Buat apa beli keduanya, Gaf? Ini produk yang sama dan beda merk, gue tanya menurut lo kita pakai yang mana satu?" ujarnya mendungak, menatap Gaffi yang lebih tinggi.
"Maaf, Ra. Saya nggak paham kalo kamu tanya soal kue, saya janji akan belajar soal kue. Jadi saya saranin pilih sesuka kamu aja, dan kalo tetap bingung, kita beli aja keduanya."
Zehra termangu mendengar penuturan Gaffi. Kepalanya masih mendungak, menatap rahang tegas itu dengan pikiran campur aduk. Terkejut, terharu, sekaligus senang.
Dia tak menyangka menjadi istri Gaffi akan diperlakukan seperti ini. Menyelesaikan perdebatan kecil dengan komunikasi yang baik adalah suatu hal yang pasangan kita harapkan.
Apalagi Gaffi tak segan mengakui kesalahan dan kekurangannya. Terlebih Zehra dibuat terharu dan senang saat Gaffi ingin belajar tentang kue.
"Ra? Ucapan saya salah, ya?"
Lamunan gadis bercadar itu langsung buyar. Zehra menggeleng seraya membuang wajah ke arah lain. Mendadak kedua pipinya memanas mendengar nada lembut Gaffi.
"Nggak kok. Ya udah, kita pilih yang ini aja." Zehra memasukkan produk satu ke dalam troli, lalu produk satunya lagi dikembalikan ke rak supermarket.
"Ayo, kita ke arah sana," ajaknya berjalan lebih dulu mendahului Gaffi membuat lelaki itu tersenyum kecil.
Gaffi tidak tau mengapa sikap Zehra sekarang terlihat menggemaskan. Gadis itu seperti salah tingkah dan pergi begitu saja. Apa jangan-jangan kebiasaan baru Zehra kalau lagi salting melarikan diri ya?
Sementara Zehra berusaha menahan debaran jantung yang menggila. Dia sampai memegang dadanya, benar-benar kencang seperti habis marathon saja.