Tentang Zehra, gadis tomboi pengidap gangguan mental yang jatuh hati pada lelaki sholeh bernama Gaffi. Trauma masa lalu membuat hidupnya berubah drastis. Mencintai lelaki yang bukan hanya sekedar paham agama melainkan taat agama merupakan tantangan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨
☁️☁️☁️
Libur semester berlalu begitu saja. Para mahasiswa semester akhir satu per satu melewati seminar proposal.
Seperti Raihan, satu bulan dari Zehra melaksanakan seminar proposal, lelaki pecinta hal-hal berbau hitungan itu juga berhasil melalui seminar proposal sebelum memasuki liburan semester.
Tak hanya Raihan, Shazfa juga menyusul seminar proposal di tengah liburan semester.
Walau melakukan seminar proposal di tengah waktu libur, Shazfa tetap mendapat banyak ucapan langsung dari teman-temannya. Mereka ikut datang dan memberi Shazfa ucapan selamat dan hadiah.
Jika sebelumnya ada Shazfa, maka awal memasuki semester baru, Nararya Melvino Ranajaya juga dijadwalkan melalukan seminar proposal.
Di awal semester 8, dimana teman-temannya tidak lagi memasuki kelas dan fokus skripsian, mereka harus datang ke Kampus untuk menghadiri seminar proposal Melvin.
Melvin mengundang teman-temannya dan mentraktir mereka untuk makan di Kantin Fakultas. Nathar, Vito, Gaffi, Hana dan Shazfa sudah berada di Kantin usai Melvin selesai seminar proposal.
Sedangkan Raihan sedikit terlambat akibat ada urusan di Restaurant dan bimbingan dengan dosen pembimbing.
"Raihan mana, Vin?" tanya Shazfa menyadari tak ada Raihan di sana.
"Ada urusan di Resto sama bimbingan katanya, bentar lagi juga datang."
"Zehra, Vin?" tanya Vito pada Melvin yang kini sibuk menulis pesanan.
"Gue udah chat, tapi nggak dibalas. Han, Shaz, Zehra ada ngabarin?" tanya Melvin pada dua gadis berpakaian tertutup itu.
"Nggak ada. Gue juga udah kabarin, cuma nggak direspon," jawab Shazfa yang diangguki Hana.
Gaffi melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 2 siang, namun Zehra tak kunjung terlihat. Padahal Melvin selesai seminar proposal tepat pukul 10 pagi.
Sementara di sisi lain, gadis dengan abaya berwarna denim lengkap dengan french khimarnya itu sudah tiba di Fakultas dengan tangan kanan yang menenteng sebuah paper bag berisi hadiah.
Kaki jenjangnya terus melangkah menuju Kantin Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Dalam hati dia berdoa semoga tak ada Gaffi di sana. Karena saat Raihan dan Shazfa seminar proposal, dia tak melihat adanya lelaki itu di sana.
Gadis itu tak lain dan tidak bukan adalah Zehra. Dia berharap semoga tak ada Gaffi di sana.
Usai pertengkaran kecil mereka beberapa bulan yang lalu, Zehra tak pernah bertemu Gaffi lagi.
Jikalau pun mereka bertemu, Zehra jadi merasa canggung dan teringat kejadian beberapa bulan lalu.
Tepat saat Zehra tiba di depan pintu kantin Fakultas, langkahnya spontan terhenti begitu mendapati punggung tegap yang membelakanginya. Zehra tau itu punggung siapa.