Tentang Zehra, gadis tomboi pengidap gangguan mental yang jatuh hati pada lelaki sholeh bernama Gaffi. Trauma masa lalu membuat hidupnya berubah drastis. Mencintai lelaki yang bukan hanya sekedar paham agama melainkan taat agama merupakan tantangan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨
☁️☁️☁️
Cahaya matahari yang menembus masuk melalui jendela kamar membuat seorang gadis yang terduduk lemas di lantai kamar itu membuka mata. Keadaannya cukup berantakan dengan mata sembab dan hidung yang memerah.
Bahkan hijab yang sempat dikenakan pun sudah terlepas, menyisakan rambut yang berantakan. Gadis itu menyapu pandangan ke sekeliling seraya mengingat apa yang terjadi.
"Gue ketiduran," gumamnya lalu pindah duduk di pinggir kasur.
Lelah menangis ternyata membuat Zehra ketiduran. Kini nyawanya sudah sepenuhnya terkumpul. Zehra, gadis itu sekarang mengingat jelas apa yang terjadi.
"Ra, saya mohon buka pintunya. Tolong kasih saya kesempatan buat jelasin ke kamu kalo semua ini salah paham."
"Wallahi, saya nggak ada hubungan apapun sama Afika, Ra. Saya kenal dia juga karena dia Tantenya Rumi."
Suara berat dari bawah balkon kamar berhasil menarik atensi Zehra. Dia mengecek ke arah balkon kamar, dan cukup tercengang mendapati Gaffi yang masih setia berdiri di sana dengan kondisi basah kuyub.
Seperkian sekon kemudian netra tajam itu menatap ke arah langit. Hujan yang tadi begitu deras sudah berhenti digantikan matahari yang mulai menunjukkan sinarnya. Kembali dia alihkan pandangan, kali ini ke arah jam dinding.
Waktu sudah menunjukkan tepat pukul 11:25, itu berarti Zehra sudah ketiduran sekitar 1 jam lebih dan Gaffi masih setia di luar selama hampir 2 jam.
"Jadi dia masih di luar selama itu?" batin Zehra merasa bersalah.
Jangan pikir kalau Zehra melupakan kejadian sebelumnya. Tentu dia ingat, tapi tetap saja merasa bersalah membiarkan Gaffi hujan-hujanan di luar.
Lelaki itu bisa saja pergi, tapi kenyataannya Gaffi tak pergi, dia tetap menunggu, bahkan dia masih memanggil Zehra.
Melihat Gaffi basah kuyub membuatnya khawatir. Zehra menggigit bibir, berpikir keras harus turun atau tidak.
Kalau turun nanti Gaffi berpikir dia akan dimaafkan, tapi jika tidak turun Zehra khawatir lelaki itu akan sakit dengan kondisi basah kuyub.
Lalu mau sampai kapan juga mereka begini? Apa tak ingin diselesaikan? Dia juga kan belum mendengar penjelasan Gaffi.
Tadi dia terlalu cepat menyimpulkan lantaran terbawa emosi. Sekarang kepalanya berdenyut, pusing harus bersikap bagaimana.
"Saya berani pastiin kalo saya nggak ada hubungan apapun dengan dia, Ra. Saya mohon, kasih saya kesempatan bicara."
Suara tegas yang biasa dia dengar kini mulai terdengar melirih. Tidak ada pilihan lain, Zehra harus turun.