Tentang Zehra, gadis tomboi pengidap gangguan mental yang jatuh hati pada lelaki sholeh bernama Gaffi. Trauma masa lalu membuat hidupnya berubah drastis. Mencintai lelaki yang bukan hanya sekedar paham agama melainkan taat agama merupakan tantangan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨
☁️☁️☁️
Hari-hari Zehra dipenuhi oleh bimbingan. Mendapat dosen pembimbing seperti Pak Rio membuat Zehra seperti dihantui skripsi setiap hari.
Seperti hari ini, dia harus bimbingan di saat tidak ada kelas atau aktivitas ke Kampus. Padahal minggu lalu dia sudah bimbingan dengan Pak Rio dan hasilnya sebagian besar adalah revisi.
Entah sudah berapa kali dia mendengar nasehat dosen muda itu sampai tanpa sadar Zehra sudah menguap beberapa kali di balik cadar berwarna hitam miliknya.
"Saya kan sudah tandai dibagian ini untuk direvisi, tapi kenapa belum kamu revisi? Lain kali kamu harus benar-benar pastikan sudah mengerjakan revisi yang saya suruh sebelum kembali menemui saya," oceh Pak Rio.
"Nggak bisa. Bapak nggak tau aja saya ngerasa punya hutang kalo nggak nemuin bapak buat bahas proposal saya!" sungut Zehra dalam hati.
"Saya sudah revisi semua yang bapak suruh. Tapi..."
"Tapi salah dan harus direvisi lagi? Saya tau, Zehra. Saya tau kamu sudah revisi, namun saya mau revisi yang tepat bukan asal-asalan begini."
Oke, kali ini Zehra kalah telak. Mau marah juga tidak mungkin. Bahkan Zehra sudah kehabisan kata-kata untuk sekedar pembelaan.
"Kalo gini gimana gue mau ngajuin seminar proposal coba? Ini-ini mulu yang direvisi!"
"Apa gue diemin aja nih skripsi? Entar kalo gue nggak ada progres, pihak Fakultas pasti oper gue ke dosen pembimbing lain."
"Jangan pernah berpikir untuk tidak mengejarkan proposal kamu, Zehra. Mau kamu tidak berprogres sekalipun saya tidak akan serahkan kamu ke dosen lain."
"Sama saya saja kamu tidak berprogres apalagi sama dosen lain?" celetuk Pak Rio membuyarkan khayalan Zehra.
Gadis bercadar itu mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasanya dia benar-benar ingin menampol wajah tampan pria di hadapannya. Baru saja ingin menghalu, namun haluannya sudah dihancurkan begitu saja.
Tadi apa katanya? Sama Pak Rio saja tidak berprogres, apalagi dengan dosen lain? Hei, percaya diri sekali pria ini.
"Pede banget! Gue yang stress dibimbing sama lo, Pak!" cibir Zehra yang tentunya dalam hati.
"Siapa juga yang mau nggak berprogres, Pak. Saya juga pengen kayak temen-temen yang lain, pada sempro," keluh gadis itu.
"Kalo begitu kamu harus serius. Pokoknya bimbingan selanjutnya saya nggak mau liat revisi kamu salah lagi," putus pria bernama lengkap Dario Arthara itu.
Setelah itu Zehra meninggalkan Fakultas dengan wajah lesu. Gadis bercadar itu menepuk jidat kala dia hampir lupa untuk mampir ke suatu tempat.