9. RASA KAGUM

2.4K 225 52
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨

☁️☁️☁️

Harusnya mood Zehra membaik karena berharap akan menemui Gaffi, tapi moodnya semakin buruk akibat mendengar fakta kalau Gaffi tidak berada di Kampus.

Kemana lagi Zehra harus mencari jikalau bukan di Kampus? Secinta apapun Zehra pada lelaki itu, tetap saja susah baginya mengetahui kehidupan pribadi Gaffi.

Lelaki itu cenderung penutup dan tidak membiarkan Zehra memasuki ranah pribadinya. Kantor Gaffi? Ya, Zehra tau tapi dia yakin jika pergi ke sana akan membuat lelaki itu marah. Sepertinya itu cara yang berlebihan.

"Huh, males banget harus pulang ke rumah."

Frustasi karena tidak tau ingin kemana. Kalau pulang sudah pasti akan berdebat dengan Gina.

Di tengah-tengah mengendarai mobil, tiba-tiba saja ponsel Zehra bergetar.

Gadis tomboi itu melihat siapa yang menelponnya saat ini.

"Hana?" gumam Zehra lalu mengangkat panggilan tersebut.

"Assalamualaikum, Zehra."

"Waalaikumussalam, Han."

"Afwan, Zehra. Aku tadi masih kelas saat kamu chat. Kamu tadi ngajak ketemu, ya?"

"Iya, Han. Gue gabut banget. Gimana kalo gue, lo, dan Shazfa nongkrong di suatu tempat?"

"Boleh. Tapi kita ketemunya habis zuhur aja, ya? Soalnya aku mau pulang ke rumah dulu buat izin sama Mas Nathar dan makan siang sama Mas Nathar," ujar Hana.

Zehra tersenyum tipis. "Tentu boleh, Han. Untuk tempatnya gimana kalo kita nongkrong di toko rotinya Melvin? Gue denger tuh anak lebarin tokonya untuk tempat semacam cafe gitu."

"Setuju. Nanti aku kabari Shazfa."

"Oke, Han."

Setelah Hana mengucapkan salam lalu Zehra menjawab, barulah gadis tomboi itu memutuskan panggilan. Zehra lega, akhirnya dia tidak pulang ke rumah. Sebisa mungkin menghindar agar tidak berdebat lagi.

Mereka memilih tempat toko roti Melvin sebagai tempat berkumpul. Akhir-akhir ini Melvin berhasil memperluas bangunannya dengan menggunakannya sebagai cafe.

Tertutup dan tempatnya juga masih di area toko rotinya. Jadi, lumayan nyaman bagi orang introvert dan tidak menyukai keramaian.

Padahal baru saja dia berdebat dengan Melvin di Kampus, tapi sekarang sudah nongkrong di tempat pemilik toko. Ya, begitulah pertemanan.

Berhubung karena masih ada waktu sekitar kurang lebih 2 jam lagi, Zehra lebih memilih langsung ke toko roti milik keluarga Ranajaya.

Memarkirkan mobil lalu masuk ke dalam toko roti. Tempatnya sangat nyaman, Melvin benar-benar berhasil dalam mengelola usaha.

Cinta untuk ZehraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang