46. GENGSI

2.4K 158 80
                                        

JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨

☁️☁️☁️

Sampai sekarang Zehra masih tak menyangka akan dilamar oleh Gaffi. Jadi selama ini Gaffi menyimpan rasa padanya atau bagaimana? Atau sebenarnya Zehra tak bertepuk sebelah tangan? Entahlah, Zehra tak bisa memahami semua ini.

Lamaran itu masih berlaku dan Zehra belum dapat memberikan jawaban hingga saat ini sementara besok adalah waktu dimana Gaffi mendengarkan jawaban Zehra.

Zehra sudah sholat istikharah dan berdoa pada Allah dan Zehra yakin kalau Gaffi adalah lelaki yang Allah takdirkan untuknya. Zehra merasa nyaman dan tak ragu sama sekali jika harus menerima lamaran tersebut.

Namun satu hal yang mengganjal, gengsi. Iya, gengsi Zehra setinggi itu untuk menerima lamaran Gaffi.

Dia menduga kalau Gaffi akan berpikir bahwa selama ini Zehra gagal move on makanya mau menerima lamaran Gaffi. Padahal nyatanya tidak sepenuhnya benar.

Alasan lain adalah Zehra masih belum puas mendengar penuturan Gaffi. Ini terlalu mendadak, Gaffi bahkan tak mengungkapkan perasaannya secara jelas.

Intinya dia masih menuntut beberapa penjelasan dari Gaffi, dan ya jangan lupakan gengsi Zehra.

Semua ini diluar dugaan, Zehra masih tak menyangka akan dilamar oleh Gaffi. Gaffi loh yang dulu menepis ungkapan cinta Zehra. Sekarang justru melamar Zehra.

Rumit memang, Zehra yakin dan nyaman tapi gengsi menghalangi. Padahal kalau ditanya, Zehra ingin menerima lamaran tersebut.

Saking rumitnya Zehra sampai meminta pendapat Shazfa dan Hana. Mereka memilih Toko Roti Melvin untuk bersantai membicarakan hal tersebut. Zehra menceritakan semuanya, bahkan dari awal hingga akhir.

"What?! Mavra ngelamar lo?" teriak Shazfa tak tau tempat membuat Zehra dan Hana kompak mendelik memperingati.

Menyengir tanpa dosa, Shazfa melirik ke kanan dan kiri seraya menyengir.

"Ya, maaf. Gue kan syok. Terus gimana? Lo nerima lamarannya?"

Zehra menggeleng membuat Shazfa dan Hana kompak bernafas lega.

"Terus masalahnya dimana? Kan udah lo tolak."

"Bukan itu, puncak masalahnya Gaffi ngelamar gue."

"Bukannya itu bagus? Kan lo nggak perlu move on, cinta lo juga nggak perlu bertepuk sebelah tangan," respon Shazfa yang diangguki Hana.

Zehra mengernyit curiga. "Tunggu, kok lo berdua kelihatan santai aja? Lo berdua nggak kaget Gaffi tiba-tiba ngelamar?"

"Nggak, gini ya. Gue bukannya apa, tapi kok bisa Gaffi ngelamar gue? Secara kita tau sendiri dia nggak ada rasa sama gue dan gue bukan tipe ideal dia. Hubungan kita juga bukan yang baik-baik aja, justru kayak perang dingin. Kok bisa aja? Kalaupun ada rasa, ya sejak kapan? Gue dan dia aja nggak pernah ngobrol baik-baik," jelas Zehra mengeluarkan semua uneg-uneg yang dia pendam.

Cinta untuk ZehraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang