64. CAPER

1.1K 86 37
                                        

JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨

☁️☁️☁️

Tak pernah Zehra duga akan berurusan lagi dengan keluarga Herdian. Mungkin berurusan, namun dia tak menyangka berurusan dalam perkara hubungan pernikahannya.

Setelah memutuskan berdamai dengan keluarga Herdian, Zehra tak pernah bertemu mereka lagi.

Bahkan di hari pernikahannya juga tak melihat keberadaan Herdian di sana, padahal Gina jelas turut mengundang Herdian dan Afika.

Faktanya keduanya tidak hadir karena sedang berada di luar kota. Jadi dia tidak pernah melihat atau bahkan mendengar kabar setelah itu.

Kini tidak menyangka akan bertemu dengan Herdian dan Afika. Selama bersiap-siap, pikiran Zehra melayang membayangkan bagaimana Herdian dan Afika sekarang. Terutama Afika, seperti apa sosok gadis itu.

Lantaran tak pernah bertemu secara langsung, Zehra jadi kepo. Sedari dulu dia memang tidak pernah melihat Afika secara langsung.

Hanya dapat melihat melalui foto, bahkan ketika berdamai dan mengucapkan maaf pun Zehra hanya melalui telepon. Jadi tidak tau jelas bagaimana rupa Afika ketika berhadapan secara langsung.

Malam ini, keduanya sudah terlihat rapi dengan outfit couple bernuansa navy-ivory. Seperti biasa, Gaffi terlihat rapi dan tampan.

Dia mengenakan kemeja lengan pendek berwarna navy yang dipadu bersama celana berwarna ivory, lengkap dengan sepatu berwarna senada dengan celananya. Sentuhan akhir seperti jam tangan silver menjadi pelengkap yang cocok untuk outfitnya malam ini.

Jika Gaffi terlihat tampan, maka tentu saja Zehra terlihat cantik. Tidak, kali ini berkali-kali lipat lebih cantik akibat aura feminim yang terpancar dari gadis itu. Selain abaya, heels berwarna silver pilihan Shazfa juga faktor pendukung penampilan feminimnya malam ini.

"Bener yang ini rumahnya, Ra?"

Pertanyaan itu Gaffi lontarkan kala mobil mereka berhenti tepat di depan rumah tingkat dua berwarna cream. Tangan kirinya tergerak untuk mengotak-atik sesuatu pada layar ponsel, seperti memastikan lagi titik tujuan mereka. 

"Maybe. Aku juga ga begitu ingat jelas, Gaf."

Kaca jendela mobil putih itu turun perlahan, menampilkan seorang gadis bercadar yang menatap intens rumah tersebut usai menjawab pertanyaan sang suami.

"Tapi kayaknya udah bener. Titik lokasi yang dia share juga di sini, kan?"

"Iya, titiknya pas di depan rumah ini."

"Nah, udah bener berarti. Ayo, masuk!"

Gaffi pun membelokkan stir mobilnya ke rumah tersebut dan parkir di area yang tersedia. Tampaknya pemilik rumah memang menanti kehadiran mereka, sampai gerbang pun sudah terbuka lebar.

Cinta untuk ZehraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang