Tentang Zehra, gadis tomboi pengidap gangguan mental yang jatuh hati pada lelaki sholeh bernama Gaffi. Trauma masa lalu membuat hidupnya berubah drastis. Mencintai lelaki yang bukan hanya sekedar paham agama melainkan taat agama merupakan tantangan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨
☁️☁️☁️
Di sinilah Zehra sekarang. Berada di toilet Fakultas. Zehra mengguyur tubuhnya dengan air dan menggosok kasar tubuhnya sendiri.
Guyuran air bercampur tangisan, gadis tomboi dengan segala permasalahan kehidupan itu menangis tanpa suara. Tak peduli dengan baju yang sudah basah kuyub.
Tak lama tubuh itu tak sanggup berdiri dan lama-kelamaan merosot ke lantai. Zehra terduduk lemas di lantai toilet dengan air yang masih mengguyur sekujur tubuhnya.
"Gue kotor... Gue benci diri gue yang kotor!" lirih Zehra seraya menangis.
"Lo akan terus hidup dengan penyakit lo, Zehra! Lo nggak akan sembuh."
Perkataan negatif terus keluar dari bibirnya. Zehra belum tenang secara perlahan. Sayang sekali dia tidak menerima tawaran Melvin.
Sekarang Zehra harus minta bantuan pada siapa? Bahkan untuk bangkit pun rasanya lemas, kaki Zehra bergetar disertai degupan jantung yang memacu lebih kencang dari biasanya.
"Gaffi..."
Zehra teringat pada lelaki itu. Tidak, kali ini niat Zehra bukan untuk melihat atau bertemu lelaki itu dengan sengaja. Tapi niatnya kali ini ingin meminta tolong.
Zehra menghubungi nomor tersebut, namun nihil. Hasilnya tidak ada, karena Gaffi tidak mengangkat telpon.
"Bunda..."
Persetan soal harga diri, Zehra lebih memilih menelpon Bundanya di saat seperti ini. Dia mau Bundanya paham keadannya.
Sekaligus menguji kepedulian Gina. Baru saja Zehra hendak menelpon, namun sayang tiba-tiba saja ponselnya mati.
Zehra mendengus kasar, merutuki kebodohannya. Dia lupa mengisi daya ponsel sebelum pergi ke Kampus. Sekarang dia hanya bisa pasrah. Zehra tak bisa keluar sebelum kondisinya tenang.
Cukup lama menenangkan diri, akhirnya degup jantung Zehra kembali normal. Tubuhnya juga tidak gemetaran di sertai rasa cemas yang berkurang.
Syukurnya gadis itu bisa berdiri tegak dan berjalan. Di rasa cukup tenang, barulah Zehra keluar dari toilet dengan keadaan basah kuyub.
"Untung udah sore," gumamnya melirik koridor yang sepi karena waktu sudah semakin sore.
Tapi di sisi lain Zehra tidak bisa tenang jika melihat koridor yang sepi. Bisa saja Mavra masih mengikutinya. Tidak, Zehra tidak akan biarkan itu terjadi. Dia berlari kecil menuju parkiran Fakultas dan segera pergi dari kawasan Kampus.
Zehra tidak mau pulang ke rumah, apalagi suasana rumah semakin lama semakin tegang.
Dia memilih untuk menangkan diri di apartement untuk beberapa hari ke depan. Sesampai di apartement, Zehra buru-buru masuk ke kamar dan mengunci seluruh pintu yang ada.