Tentang Zehra, gadis tomboi pengidap gangguan mental yang jatuh hati pada lelaki sholeh bernama Gaffi. Trauma masa lalu membuat hidupnya berubah drastis. Mencintai lelaki yang bukan hanya sekedar paham agama melainkan taat agama merupakan tantangan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨
☁️☁️☁️
Panik, satu kata yang mampu mendeskripsikan bagaimana kondisi Zehra sekarang. Gadis dengan abaya berwarna hitam lengkap dengan french khimar berwarna olive itu tidak bisa diam sehabis menunaikan sholat subuh hingga sekarang.
Baru saja selesai sholat dhuha dan Zehra kembali tidak tenang. Dia mondar mandir mengelilingi tempat tidur seraya memikirkan jalan keluar.
Sekarang baru Zehra sesali perkataannya minggu lalu kepada sang Ayah.
Zehra menyesal untuk mengiyakan niat lamaran anak rekan kerja Danish. Hari itu telah tiba, hari ini tepat pukul 9 pagi rekan kerja Ayahnya beserta keluarga akan datang.
Danish dan Gina sudah bersiap sejak pagi. Bahkan Danish dari jam 7 pagi sudah datang.
Gina begitu mendengar ada yang ingin melamar Zehra, sangat antusias. Wanita itu juga ingin yang terbaik bagi putrinya. Maka dari itu Gina setuju saja saat Zehra bertanya apakah bundanya setuju atau tidak.
Berpikir dan terus berpikir namun nihil, tak ada jalan keluar. Zehra ingin kabur, tapi tidak mungkin. Masalahnya dia sudah mengiyakan, maka Zehra harus tanggung jawab.
"Ya Allah, ini gimana?"
Ucapan itu terus keluar dari bibirnya. Zehra semakin panik lagi kala mendengar suara klakson mobil di pekarangan rumahnya.
"Mati gue, itu pasti mereka!"
Saking paniknya Zehra tak berani mengintip dari balkon. Dia terus mondar mandir tak karuan. Berpikir pun tak ada gunanya, otaknya seketika buntu.
Zehra tidak mau turun, dia tak mau menerima lamaran anak rekan kerja ayahnya. Zehra menyesal, benar-benar menyesal.
Zehra takut jika dia turun dan menolak lamaran, hubungan bisnis Ayah dan rekannya itu akan tidak baik. Tetapi dia juga tak mau menikah dengan lelaki itu.
"Ya Allah, ini hamba harus gimana?"
"Ra."
Mata Zehra membola mendengar ketukan pintu kamar disertai panggilan namanya.
"Ra, kamu udah siap, kan? Ayo, turun. Itu temen Ayah sama keluarganya udah di bawah," ucap Gina dari luar.
Zehra tak menjawab membuat Gina kembali memanggil namun sayang, lagi-lagi tak ada sahutan. Hingga 5 menit kemudian suara Gina digantikan dengan suara Danish.
"Ra, ayo, keluar, Nak. Itu temen Ayah udah di bawah."
Zehra berjalan mendekati pintu. Gadis itu pasrah dan mengatakan yang sejujurnya.
"Yah, Zehra nggak mau. Kemarin Zehra belum pikirin matang-matang dan ngambil keputusan ngasal," ungkap Zehra.
"Nggak papa, Ra. Yang terpenting kamu keluar dulu sekarang, mereka udah nunggu di bawah. Kamu bisa tolak kalo kamu nggak suka sama anaknya."