28. KABAR TUNANGAN?

2.6K 169 81
                                        

JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨

☁️☁️☁️

Rasa bahagia tak dapat terbendung hingga membentuk sebuah senyuman di wajah Zehra kala mendengar perkataan Psikolog yang menanganinya hari ini.

Netra tajam itu berkaca-kaca, disertai hembusan nafas lega. Tak tau harus berkata apa, tapi rasanya beban Zehra terasa berkurang.

"Terima kasih, Bu. Saya sangat berterima kasih untuk bimbingan dan arahannya selama ini. Saya akan beritahu Ayah dan Bunda soal ini," ucap Zehra sedikit mengusap ujung matanya yang hampir menumpahkan air mata.

Tidak terlintas dipikiran Zehra jika hari ini merupakan sesi pertemuan terakhirnya dengan Psikolog. Pendengarannya masih jelas dan Zehra mendengar kalau sesi pertemuannya berakhir sampai hari ini.

Perjuangan yang dilakukan membuahkan hasil dengan mengurangnya gejala yang dia alami dan membaiknya kondisi Zehra secara perlahan.

Sedikit rasa menyesal karena pergi sendiri tanpa membawa kedua orang tuanya. Tapi tak apa, Zehra dapat menyampaikannya nanti ketika di rumah.

Begitu juga Psikolog tersebut, Psikolog itu juga akan mengkonfirmasikan hal ini dengan Danish dan Gina.

"Tidak perlu dihapus, Zehra. Keluarkan lah jika kamu ingin menangis. Saya paham perjuangan kamu untuk bisa sampai di titik ini," kata Psikolog tersebut dengan senyuman.

Tumpah sudah cairan bening yang dari tadi dibendungnya. Bisa Zehra pastikan ini bukan tangisan kesedihan, tapi tangis haru atas hasil dari perjuangannya selama ini.

Bukan berarti Zehra sembuh seutuhnya dan melupakan trauma masa lalunya. Tapi peningkatan dari pengobatan dan terapi yang didapatkannya berhasil menurunkan tingkat gejala dan meningkatkan kondisi Zehra menjadi seperti sekarang.

Berada dititik ini merupakan suatu hal yang sangat Zehra syukuri. Gadis itu tertawa kecil seraya menghapus air matanya. Dia membenarkan perkataan Psikolog tersebut dengan menganggukkan kepalanya.

"Sekali lagi terima kasih banyak, Bu. Saya harap kondisi saya semakin membaik seiring berjalannya waktu." Zehra sudah bangkit dan berjabat tangan dengan Psikolog tersebut.

"Sama-sama. Semangat skripsiannya dan proses move onnya ya! Satu lagi, semangat hijrahnya, Zehra!"

Zehra lantas terkekeh. Ah, ya dia memang sudah memasuki fase skripsi beberapa minggu lagi. Soal move on dan hijrah juga tentu saja Psikolog tersebut tau karena Zehra yang menceritakan semuanya.

"Siap! Saya permisi, Bu," pamit Zehra lalu keluar dari ruangan Psikolog tersebut.

Kaki jenjangnya melangkah cepat menuju tempat dimana dia memarkiran kendaraan roda empat miliknya.

Tepat saat Zehra baru menyalakan mobil, tiba-tiba saja saku gamisnya bergetar menandakan ada panggilan masuk. Dan ya, ternyata Gina. Zehra tentu saja mengangkat panggilan masuk dari Gina.

Cinta untuk ZehraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang