Tentang Zehra, gadis tomboi pengidap gangguan mental yang jatuh hati pada lelaki sholeh bernama Gaffi. Trauma masa lalu membuat hidupnya berubah drastis. Mencintai lelaki yang bukan hanya sekedar paham agama melainkan taat agama merupakan tantangan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨
☁️☁️☁️
Sesampai di rumah Zehra, ternyata Danish juga sudah sampai. Tampaknya pria tersebut juga baru sampai.
Terlihat dari Danish yang hendak masuk ke dalam rumah, namun terhenti karena mendengar suara klakson mobil masuk.
Pria yang masih berstelan jas kantor itu menatap lama ketiga mobil yang masuk.
Bersamaan dengan itu, Gina juga keluar karena mendengar suara mobil. Usai mencari Zehra di Apartement, Gina pulang ke rumah dan menunggu Zehra.
Hingga ketika melihat Gaffi dan Nathar turun lebih dulu membuat Danish tidak sabar bertemu Zehra. Dia berlari kecil menemui Nathar dan Gaffi yang sudah turun dari mobil.
"Kamu, kamu Nathar, kan? Dan kamu Gaffi kan? Kalian yang beberapa tahun lalu membantu Zehra dan mengantar Zehra pulang, kan?" tanya Danish menatap mereka bergantian.
"Iya, Om," jawab Nathar dan Gaffi bersamaan.
"Lalu dimana Zehra?"
"Ayah..." Belum sempat Nathar dan Gaffi menjawab, Zehra sudah bersuara.
Gadis itu turun dari mobil dibantu oleh Hana dan langsung berlari memeluk Danish.
"Zehra!"
Tangis Zehra pecah di pelukan Danish. Sungguh, dia sangat merindukan sang Ayah. Zehra rindu dekapan hangat Ayahnya.
Seolah tak mau lepas, Zehra menyalurkan rasa rindu dan sedihnya lewat pelukan erat.
Sama seperti Zehra, Danish juga begitu merindukan Zehra. Meninggalkan Zehra selama ini membuatnya merasa bersalah.
Mereka semua yang melihat hal itu pun merasa terharu. Terutama Gaffi, ini kedua kalinya dia melihat gadis tomboi seperti Zehra begitu manja dengan sang Ayah.
"Zehra rindu Ayah," lirihnya.
"Ayah juga rindu Zehra," balas Danish lembut seraya mengecup puncak kepala Zehra berkali-kali.
"Kamu nggak rindu dengan Bunda, Zehra?" suara serak itu berhasil membuat mereka semua menoleh ke belakang.
Di sana ada Gina yang berdiri seraya tersenyum lembut. Matanya berkaca-kaca menatap Zehra dan Danish.
Suara itu, Zehra sangat rindu suara lembut itu. Ini baru suara yang Zehra rindukan. Dia merindukan suara lembut Gina, persis saat dia masih kecil. Gadis itu menoleh seraya menghapus pelan sisa air matanya.
Tiba-tiba saja keheningan melanda membuat suasana kembali dingin. Zehra tak kunjung menjawab membuat senyum Gina kian memudar.
Dia melipat bibir, cukup tau diri atas apa yang selama ini dia perbuat. Zehra pasti membencinya.