61. RASA YANG TAK BERUBAH

1.4K 104 32
                                        

JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨☁️☁️☁️

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨
☁️☁️☁️

Hubungan rumah tangga Gaffi dan Zehra kembali membaik walau sempat diterpa badai.

Terbukti, keduanya menjalani aktivitas seperti biasa seperti makan bersama, sholat berjamaah, Gaffi yang menyimak Zehra membaca Al-Quran, duduk santai bersama di kamar atau ruang tv, hingga membuatkan sarapan untuk Gaffi.

Pagi ini gadis dengan kaos rumahan berwarna matcha yang dipadu dengan celana pendek sepaha berwarna putih itu tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi seperti biasa di dapur.

Dua porsi sarapan pagi sudah tertata rapi di meja makan, namun Gaffi belum kunjung turun. Zehra mengetuk dua kali layar handphonenya. Layar itu menyala, menampilkan waktu tepat pukul 07:35.

"Udah jam segini kok belum turun? Katanya ada rapat pagi," gumamnya.

Selama mereka tinggal bersama, tidak pernah sekalipun Zehra temui Gaffi turun lewat dari jam 07:20. Mengingat jam 8 pagi sudah harus sampai di kantor, jadi Gaffi terbiasa sarapan di pukul 07:00 dan paling lama di pukul 07:20

Memutuskan mengecek ke atas, dia jadi penasaran, apa yang membuat lelaki yang terkenal on time itu jadi ngaret.

Setibanya di depan kamar, Zehra langsung masuk begitu saja, bahkan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Maklum, dia gemas kalau ngeliat sesuatu yang lelet.

"Gaf, kok lo belum turun? Entar sarapannya keburu dingin itu," ucap Zehra.

Gaffi, lelaki yang tengah mengenakan kemeja itu menoleh ke belakang, menatap sang istri yang berada di ambang pintu.

"Kancing kemeja lo yang bener, Gaf! Eh, tunggu. Kok muka lo pucet?"

Tadi dia hendak tantrum lantaran Gaffi mengenakan kemeja tanpa dikancing, pasalnya Zehra jadi tidak sengaja melihat tubuh atletis lelaki itu. Tapi dia malah salah fokus pada wajah pucat Gaffi.

Kaki jenjang yang dibiarkan terekspos itu berjalan menghampiri Gaffi. Tangan Zehra terangkat memegang rahang lelaki itu agar mau menatapnya penuh.

"Badan lo juga panas banget. Lo demam ya?!" tanya Zehra panik.

Kembali dia mengecek suhu tubuh Gaffi dengan menempelkan telapak tangannya di dahi lelaki itu. Hasilnya sama, sama-sama panas.

"Iya, demam ini mah. Aduh, lo nggak usah ngantor dulu ya, Gaf hari ini."

"Nggak mungkin, Ra. Saya ada rapat pagi hari ini."

Alis tegas itu kontan menekuk dalam.

"Tapi lo lagi sakit. Udah, nggak usah ngantor dulu! Nanti gue panggillin dokter," putus Zehra.

"Lo nggak perlu khawatirin urusan Kantor, nanti gue yang bilang ke Runa," tambahnya.

"Duduk dulu sini, buka lagi kemejanya," titah gadis itu menuntun Gaffi duduk di bibir ranjang.

Cinta untuk ZehraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang