Tentang Zehra, gadis tomboi pengidap gangguan mental yang jatuh hati pada lelaki sholeh bernama Gaffi. Trauma masa lalu membuat hidupnya berubah drastis. Mencintai lelaki yang bukan hanya sekedar paham agama melainkan taat agama merupakan tantangan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨
☁️☁️☁️
Jika bukan karena memikirkan nasib tugas akhir, maka sudah pasti Zehra akan teriak dan tantrum sekarang juga.
Bagaimana tidak? Pak Rio sekarang tengah mengecek file proposal Zehra dengan mulut pria itu berkomat-kamit menyuruhnya merevisi beberapa bagian.
Bukan hanya komat-kamit tentang skripsi, Pak Rio juga menyindir Zehra dan beberapa Mahasiswa yang bimbingan hari ini, termasuk Vito agar tak malas mencari referensi dan teori yang relevan.
Zehra sudah lelah kelas dari pagi hingga hampir sore, kini tiba sore hari dia bimbingan dan malah dapat omelan pria itu rasanya ingin menangis saja.
Sudah berulang kali merevisi tapi tetap saja pria itu minta revisi lagi. Sepertinya rumor mahasiswa lain tentang Pak Rio yang perfeksionis itu benar.
"Astaghfirullah. Sabar, Ra, sabar. Ini kesabaran gue yang tadinya setipis tisu berubah jadi setebal skripsi," batin Zehra.
Sempat kontak mata dengan Vito, Zehra hanya bisa menatap lelaki itu datar sedangkan Vito hanya bisa tersenyum kecut.
Dalam hati dia memikirkan bagaimana nasib proposalnya yang sehabis ini akan diperiksa oleh Pak Rio.
"Ini kalo sama dosen lain pasti udah beres, ga perlu bolak-balik revisi." Vito berkata dalam hati merutuki nasibnya mendapatkan dosen pembimbing yang perfeksionis.
"Saya begini supaya kalian nggak terjebak dan kesusahaan pas sidang nanti."
Ya kira-kira begitulah kata-kata andalan Pak Rio ketika bimbingan. Benar juga, terkadang mahasiswa mungkin mengeluh soal dosen pembimbing yang terlalu perfeksionis.
Namun dibalik itu dosen pembimbing juga ingin yang terbaik untuk anak bimbingannya.
Begitu gilirannya selesai, Zehra langsung bernafas lega. Akhirnya dia bisa keluar dari ruang bimbingan dengan cepat, menyisakan Vito dan teman-teman mahasiswa lain di sana.
Hari sudah semakin sore, bahkan jam sudah munjukkan pukul lima sore. Belum ada niat pulang, dia justru duduk di Cafe yang tempatnya berada di dekat Kampus sambil membuka laptop dan buku catatan.
Ya habis mau gimana lagi? Jika tak segera direvisi sekarang nanti Zehra keburu malas. Lebih baik dia revisi sekarang lalu nanti malam segera mengirim hasil revisiannya pada Pak Rio.
Cafe ini jika siang hari ramai dengan mahasiswa dari berbagai Fakultas dan jurusan di Universitas Garwita. Namun jika sore hari pengunjungnya semakin sepi, makanya Zehra sesekali mengerjakan revisian skripsinya di Cafe tersebut.
Jari-jari tangannya dengan lincah mengetik di atas keyboard laptop. Di tengah-tengah fokus merevisi proposal, Zehra dibuat terkejut kala seorang gadis menepuk pundaknya.